
"Mereka menemukannya di pinggir jalan raya," Evelyn kembali menjelaskan keesokan paginya kepada Jessica. Gadis itu masih duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Nathan
Pemuda itu telah menghabiskan sebagian besar paginya menjalani tes sebelum kesimpulan tercapai. Beberapa tulang rusuknya retak dan luka-luka lainnya dipastikan akan sembuh pada waktunya.
"Bagaimana? Di mana Dimitri?" tanya Jessica pada Evelyn.
"Ayahmu sudah kembali dan dia bilang Dimitri pergi." Eve menjawab, tangannya terlihat bermain di ponselnya. Dia memegangnya di tangannya, mengetik sesuatu dengan ganas saat Jessica menyandarkan punggungnya di sandaran kursi di belakangnya.
"Nathan tampak baik-baik saja. Entah bagaimana dia malah ditinggalkan begitu saja. Sepertinya Dimitri tidak begitu ingin menyakiti Nathan."
"Ya, mungkin." balas Jessica sinis sambil menatap luka yang ada di wajah Nathan.
"Nathan mengatakan kalau Dimitri mengirimi kita sebuah bom, diletakkan di gedung organisasi. Itulah sebabnya Nathan ingin kita datang kesini di bandingkan tinggal di sana semalam." ujar Jessica pada Evelyn.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Dimitri. Dia benar-benar sudah gila." Evelyn mengangkat tangannya tanda menyerah.
"Aku setuju." Jessica mengangguk.
"Kami melacaknya saat dia berbicara bersama ayahmu semalam. Tapi tidak banyak yang bisa di temukan." ujar Evelyn.
Jessica mengangguk.
Nathan tampak menoleh kearah dua wanita itu.
"Dia menawarkan diri untuk melakukan pekerjaan itu sendiri," Evelyn mengangguk dengan kasar. "Aku masuk ke kantor pagi ini dan mereka semua sangat sibuk bekerja. Namun, mereka telah meminum sisa teh melati milikmu yang terakhir."
"Sial*n mereka," Nathan bergumam pelan, menggelengkan kepalanya bolak-balik saat senyum kecil terbentuk di wajah Jessica.
__ADS_1
"Aku harus kembali ke kantor. Robert akan segera datang untuk mengantarmu pulang, Jessica." ujar Evelyn.
"Terima kasih," kata Jessica sopan, memaksakan dirinya untuk tersenyum pada Evelyn.
Wanita jangkung itu mengangguk dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Jessica sendirian dengan Nathan lagi. Wanita muda itu berbalik di tempat duduknya dan menghela napas dalam-dalam, matanya kembali ke Nathan.
"Kau dengar itu," Nathan berbicara. "Ayahmu aman dan baik-baik saja."
"Semuanya tampak begitu aneh," Jessica menggelengkan kepalanya. "Dia berniat mengebom kereta itu dan membunuh kamu. Aku tidak tahu kenapa."
"Aku juga tidak tau kenapa? Aku tidak yakin kenapa Dimitri melakukan hal ini." balas Nathan. "aku pikir dia merasa jika dia berhasil membunuh Robert, itu akan di anggap sebagai pencapaian yang luar biasa bagi dirinya sendiri. Dengan membunuh agen terbaik di negara ini maka dia membuat sebuah pencapaian. Dia pasti ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa tidak ada yang bisa mendapatkan dia, jika yang terbaik seperti ayahmu saja tidak bisa. Pada saat yang sama, aku pikir Dimitri menikmati permainan kucing dan tikus."
"Mengapa?" Jessica bertanya-tanya.
__ADS_1
"Beberapa orang melakukannya," jawab Nathan sambil menjepit dagunya dengan jari. "Orang-orang itu akan senang jika berhasil main kejar-kejaran dengan agen rahasia. Aku tidak sedang berpura-pura memahami cara kerja dan pikiran penjahat, tapi memang seperti itu adanya."
"Oh tidak, itu artinya, ayahku akan melawan orang-orang gila itu." kata Jessica kembali padanya. Ia lalu bersandar di kursinya, menutup matanya dan menekankan jarinya ke pangkal hidungnya. Nathan kini hanya diam dan memperhatikannya dengan lekat.