
Jessica duduk di kursi di yang ada seberang meja Regina saat pemimpin dari organisasi itu tengah berbicara dengan nada pelan kepada Robert dan Nathan. Jessica mengetukkan ujung jarinya ke pegangan kursi, menunggu sesuatu terjadi. Seluruh bangunan telah ditutup dan saat ini orang-orang tengah berusaha mencari Dimitri.
"Menurutmu apa yang tengah dia mainkan?" Robert bertanya-tanya, melihat ke luar pintu kantor dan memegang pistol yang ada di sakunya. Matanya menatap lurus ke pintu itu sebelum kemudian dia melihat kembali ke Jessica.
"Aku tidak terlalu yakin," Nathan mengakui. "Penyerangan ke kementrian sangat acak. Ya, aku telah mengetahui bahwa beberapa petinggi di kementrian juga memegang dokumen tentang rudal nuklir ... rudal nuklir yang sama yang ingin di dapatkan oleh John."
Kepala Jessica tersentak begitu dia mendengar nama John di sebutkan. Ah, dia tidak pernah berpikir kalau dia harus berurusan dengannya lagi. Pria itu dikurung dan ditahan atas perintah Hakim. Dia tidak mungkin memiliki hubungan dengan apapun sekarang. Robert melihat ke arah Jessica tepat saat gadis itu membalikkan tubuh untuk melihat ayahnya dan juga Nathan.
"Apakah menurut kalian Dimitri bekerja untuk mencegat serangan rudal kita ke para penjahat itu?" Regina bertanya-tanya pada Nathan.
Nathan mengangkat bahu dan melihat kembali ke Jessica, matanya penuh perhatian saat dia berpikir untuk beberapa saat.
"Dia bekerja dengan John?" Jessica bertanya-tanya, mengambil waktu sejenak untuk berdiri dan melipat tangannya di depan dada.
Jessica kemudian berjalan dari belakang kursi dan mengangkat bahu pada ayahnya, mencoba menyimpulkan apa yang terjadi.
"Mereka berdua adalah dalang kriminal. Mereka berdua adalah penjahat utamanya. Kenapa mereka bekerja sama?"
"John bukanlah dalang kriminal," jawab Robert. "Dimitri adalah seseorang yang pantas di sebut sebagai dalangnya. Kenapa dia ingin berhubungan dengan John jika dia bisa melakukannya sendirian?"
"Tunggu?" Jessica bertanya-tanya. "Bukankah seharusnya kita lebih khawatir bahwa Dimitri ada di dalam gedung sekarang?"
"Gedung organisasi telah dikunci, Nona Bailey," Regina kini angkat bicara. "Sejauh ini dia bahkan tidak terlihat dia. Dia mungkin saja menghentikan rekaman CCTV untuk menakut-nakuti kita."
__ADS_1
"Pasti ada alasannya," jawab Nathan berujar sambil menggelengkan kepalanya. "Dimitri bisa menakut-nakuti kita dengan berbagai cara yang dia inginkan. Tapi kenapa dia ingin menakut-nakuti kita, itulah pertanyaannya?"
Jessica terdiam beberapa saat sebelum menatap ayahnya, alisnya berkerut saat dia memikirkan apa yang baru saja dikatakan Nathan.
"Di mana kunci misilnya?" tanya Jessica. "Kantor kementrian? Jika dia menginginkan kunci ... dia pasti akan mengerjakan sesuatu... maksudku, kenapa dia menginginkan kekuatan yang pernah dimiliki John ..."
"Itu anggapan yang sangat sulit untuk dipahami, Nona Jessica." jawab Regina padanya, ia menaikkan sebelah alisnya skeptis. "Dia meledakkan gedung kementrian, bukan ingin mengambil kuncinya seperti yang John lakukan.
Jessica mengangkat bahu, menyadari bahwa pikirannya mungkin salah. Ia hanya memberi pendapat dengan akal sehatnya.
"Tapi di mana kunci misil yang ingin didapatkan John?" Robert bertanya, melakukan yang terbaik untuk mempertahankan ide yang di utarakan putrinya.
Regina mengambil waktu sejenak sebelum dia menggelengkan kepalanya, melihat ke samping dan ke layar komputer yang ada di mejanya. Dia berjalan ke sana dan duduk di kursi, mengetik cepat di keyboard.
"CCTV mati tetapi alarmnya masih berfungsi. Ya, kita akan tahu jika benda itu telah diambil. Aku bisa mengatakan kalau keamanan di sekitar benda itu jauh lebih ketat daripada yang bisa kalian bayangkan."
"Apakah petugas keamanan pernah menghentikannya sebelumnya?" Jessica bertanya-tanya, tetapi Regina tetap diam.
Dia tidak mengatakan apa-apa dan kemudian mendongak dari layar komputernya sekali lagi.
"Benda itu aman. Aku tidak tahu apa permainan Dimitri. Nathan, gedung organisasi akan kembali di buka, aku ingin kau kembali keruanganmu dan mencoba menemukan lokasi Dimitri."
"Ya," Nathan mengangguk dan berdehem dengan pelan, tangannya menyatu di depannya saat dia dengan gugup berdiri.
__ADS_1
"Robert, aku ingin kau pergi dan berbicara dengan John."
Sebelah alis Robert naik dengan sendirinya. "Kupikir John tidak ada hubungannya dengan ini?"
"Aku ingin tahu semua yang dia tahu tentang kode dan juga kunci misil. Semuanya," kata Regina. "Aku tidak tahu apa yang dia tahu, tapi kaulah yang terbaik untuk pergi dan berbicara dengannya. Jika kita mendengar sesuatu tentang Dimitri..."
"Kau akan memberitahuku," Robert mengakhiri.
"Nona Jessica, aku akan meminta asistenku untuk mengantar dirimu pulang dan-"
"Tidak," sela Nathan, pipinya perlahan memerah saat dia menyadari bahwa dia sedang ditatap oleh tiga orang di ruangan itu. "Maksudku... Dimitri sudah mencoba... yah... Kurasa akan lebih aman jika dia tetap bersamaku..."
Robert tidak bisa menahan seringai di wajahnya saat Robert mengangguk singkat dan meninggalkan kantornya untuk mencari asistennya. Robert perlahan berjalan menuju putrinya dan meletakkan tangannya di bahu gadis itu, mendorong rambutnya ke belakang telinganya kemudian dia mencium dahinya.
"Kau akan aman di sini," Robert berusaha untuk meyakinkannya. "Lakukan saja seperti yang diperintahkan Nathan."
"Aku berumur dua puluh tahun, ayah..." keluh Jessica. "Aku tahu apa yang harus aku lakukan... tapi baiklah... aku akan tetap berada di sini."
"Bagus," Robert mengangguk dan mengepalkan tangannya dengan cepat. "Beri tahu aku jika terjadi sesuatu," katanya kepada Nathan.
"Tentu saja," jawab Nathan dan Jessica melihat ayahnya meninggalkan kantor tanpa menoleh ke belakang.
Dia menghela nafas dalam-dalam sebelum dia merasakan lengan Nathan melingkari pinggangnya dan menariknya ke sisinya. Dia mengambil waktu sejenak untuk bersandar padanya, menghirup aroma parfum dari pemuda itu.
__ADS_1
"Semuanya akan menjadi lebih baik," bisik Nathan. "Itu pasti..."
***