Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
14


__ADS_3

Jessica menaikkan sebelah alisnya saat dia merasa kalau dia seperti mengenali pria dari pemilik mantel dan juga kacamata baca itu.


Jessica yang saat ini juga tengah mengenakan kacamata baca, menarik kacamatanya dari pangkal hidungnya saat melihat Nathan dengan ekspresi canggungnya, tengah melambaikan tangan padanya.


Pria itu menyapa Jessica.


Tepat saat itu, pelayan yang ada di belakang meja kasir langsung memanggil Nathan untuk menyerahkan cokelat panas pesanannya.


Nathan dengan cepat membayar dan kembali menatap Jessica yang ternyata masih menatapnya. Dan saat itulah Nathan menyadari bahwa dia tidak punya pilihan selain pergi menemui putri dari Robert itu. 


"Kau Nathan, bukan?" Jessica bertanya dengan ragu, mencoba untuk memastikan identitas Nathan. "Kau pria di galeri waktu itu?"


Nathan tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Nathan kemudian menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan. Kenapa juga dia harus merasa gugup, ini kan hanya percakapan biasa.


Jika perkelahian yang merupakan hal berbahaya saja tidak membunuh Robert, maka seharusnya, Nathan juga bisa melakukan hal-hal kecil yang seperti ini bukan?


"Ya, aku pria yang di gedung galeri waktu itu." jawab Nathan kemudian. "Jessica, bagaimana kabarmu?"


"Oh, tidak terlalu buruk," jawab gadis itu sambil memainkan bingkai kacamata yang beberapa saat lalu dia gunakan untuk membaca. "Aku tidak menyangka kau masih ingat namaku."


"Tentu saja, aku bukan orang yang mudah melupakan identitas orang lain. Aku di latih untuk hal itu." jawab Nathan tersenyum.


Jessica mengangguk, "Oh ya, apa kau tahu kalau ayahku pergi ke Jepang?"


"Aku sempat mendengar rumornya," jawab Nathan santai. "Sebenarnya kami cenderung tidak mencampuri urusan kementrian Pertahanan, tapi beberapa rumor memang sering tersebar."

__ADS_1


"Ah, aku hampir lupa kalau kalian bekerja di kantor kementrian yang berbeda." Jessica menepuk kepalanya sendiri, "Maafkan aku, aku hanya-"


"Tidak masalah" Nathan mengibaskan tangannya. "Ya, kantor ayahmu memang berbeda dengan kantorku. Dan aku bisa mengatakan kalau pekerjaan di Kementrian Transportasi adalah pekerjaan yang jauh lebih mudah di bandingkan dengan Kementrian Pertahanan."


"Aku setuju. Aku juga berpikir kalau bekerja untuk kementrian Transportasi adalah pekerjaan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan ayah," jawab Jessica kepada Nathan. Jessica menyisir rambutnya ke sisi kanan sambil menatap Macbook-nya sebelum kembali bicara. "Bukan apa-apa, maksudku adalah… dia sepertinya selalu pergi setiap saat. Selalu sibuk dan selalu saja banyak pekerjaan."


"Aku setuju dengan itu," angguk Nathan sebelum dia menunjuk dengan dagunya ke arah Macbook milik Jessica. "Ngomong-ngomong apa yang sedang kau kerjakan?"


"Oh, ini..." kata Jessica sambil melihat kembali ke layar Macbooknya. Dia terdiam untuk sejenak. "Aku sedang mengerjakan beberapa soal Matematika... maksudku... mengingat ayahku telah meninggalkanku sendirian di sini, jadi aku merasa agak bosan. Ayah tidak memiliki jaringat Wi-Fi di rumah baru-nya jadi aku harus datang ke sini."


Lihat, Nathan! Jelas sama sekali tidak ada alasan untuk khawatir padanya saat ini. Kenapa kau begitu khawatir tadi?


Sepertinya kepalamu juga akan tetap menempel di tubuhmu. Tak akan ada yang menembakmu. Tak akan ada yang memisahkan kepalamu dari lehermu. Dan Robert tak akan menghabisimu saat dia pulang nanti karena kehilangan anak gadisnya. Rupanya Nathan benar-benar berpikir terlalu berlebihan untuk dirinya sendiri.


"Ah, begitu rupanya." ujar Nathan setelah beberapa detik dengan senyum lega.


Nathan dengan perlahan mendudukkan dirinya di kursi yang ada di sebelah Jessica saat gadis itu menunjukkan layar komputernya. Ia merasa Jessica memang tidak salah ataupun melakukan hal buruk pada benda itu. Pasti ada yang salah dengan layarnya. Dan ini adalah bidang keahlian Nathan, mungkin dia bisa membantu gadis itu.


Nathan tetap diam beberapa detik saat tiba-tiba saja kedua tangannya bergerak, memindahkan cangkir cokelat miliknya dan kemudian menarik kursinya agar lebih dekat ke kursi Jessica.


"Ya," jawabnya. "aku rasa pasti ada yang salah dengan itu."


"Aku tahu." serunya, jari-jarinya lalu menjambak rambutnya sendiri dengan kesal. "Maksud ku, aku bahkan tidak tahu apa yang sudah aku lakukan. Beberapa saat yang lalu aku hanya sedang mengerjakan soal matematika dan detik selanjutnya adalah layarnya jadi seperti ini. Jika benda ini rusak, maka aku benar-benar dalam masalah besar."


"Mudah-mudahan tidak sampai seperti itu," jawab Nathan mencoba menenangkan, akhirnya Nathan menatap Jessica. "Apakah kau keberatan jika aku, em... memeriksanya?"

__ADS_1


"Ah, kau ingin mencoba untuk memeriksanya? Tentu saja, tidak masalah," kata Jessica kemudian memutar layar Macbooknya sehingga Nathan bisa melihatnya dengan lebih baik.


Nathan mengangkat bahu dan menyesuaikan kacamata di pangkal hidungnya sebelum jari-jarinya mulai bergerak untuk menyentuh benda itu. Pemuda itu kemudian mengeluarkan laptop miliknya dari dalam tas. Ia mengambil kabel dan mencolokkannya ke Macbook milik Jessica dan menyambungkannya pada laptopnya sendiri.


Jessica membiarkan pria muda itu untuk mengotak-atik Macbook miliknya hingga tak lama kemudian layarnya kembali normal. Mata Jessica kemudian melebar saat dia melihat gerakan jari Nathan yang mengetik di keyboard laptop dengan kecepatan kilat, kotak-kotak konstan muncul di layar laptopnya.


"Wah, luar biasa. Aku rasa aku belum pernah melihat orang mengetik dengan begitu cepat seperti ini," gumam Jessica kagum sambil terus memperhatikan pekerjaan Nathan.


Untuk sejenak pemuda itu menyeringai bangga saat mendengar pujian dari gadis itu. "Ya, perlu di ketahui, aku ini bukanlah pekerja biasa di Kementerian Perhubungan. Dengan bakatku yang luar biasa, aku bahkan berhasil mendapat posisi yang lebih tinggi dari orang-orang." ujarnya.


"Perhubungan? Bukannya Transportasi?"


"Itu sama saja." jawab Nathan pada Jessica, membuat gadis itu menganggukkan kepalanya paham.


Setelah itu mereka diam untuk beberapa saat. Nathan kembali sibuk dengan pekerjaannya pada Macbook Jessica. Sementara Jessica hanya diam dan terus memperhatikan Nathan, sebelum kemudiam ia mendengar iPhone-nya mulai berdering dari dalam tasnya. 


Jessica kemudian menarik ponselnya keluar dari dalam tasnya yang ada di bawah kursi dan menatap layar ponselnya untuk beberapa detik.


"Oh, ini ayah," kata Jessica tersenyum.


"Mr. Robert?"


Nathan memandang Jessica sejenak, kemudian Jessica menganggukkan kepalanya cepat.


"Aku harus mengangkat ini." ujar Jessica dan di balas anggukan oleh Nathan.

__ADS_1


***


__ADS_2