Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
25


__ADS_3

"Jadi, apa yang sebenarnya kau lakukan di tempat rahasia ini?"


"Bekerja."


Meskipun jawaban itu terlalu singkat, tapi Jessica tetap menganggukkan kepalanya, mencoba untuk paham.


"Dan apakah kau tidak benar-benar bekerja di Kementrian Perhubungan?" Jessica bertanya sekali lagi, mencoba untuk memastikan.


"Aku memang bekerja di Kementrian Perhubungan dan Transportasi," kata Nathan jujur padanya.


"Lantas?"


"Tapi aku tidak bekerja untuk pemerintah."


Jessica menaikkan sebelah alisnya bingung. "Aku bekerja untuk BIN khususnya dan pekerjaan di kantor kementrian itu hanya untuk menutupi pekerjaan asliku saja."


"Pekerjaan aslimu?"


"Ya, sebenarnya aku ini adalah seorang programmer!"

__ADS_1


"Bukankah itu artinya sama saja kau bekerja untuk pemerintah?" Jessica mengerutkan dahinya.


Nathan menggeleng, "Tidak! Aku direkrut bekerja untuk BIN. Dan banyak pejabat di pemerintahan bahkan tidak mengetahui kalau aku bekerja untuk BIN. Identitas dan pekerjaan asliku ini sangatlah rahasia."


Jessica menatap Nathan ragu tapi ia memilih untuk kembali menganggukkan kepalanya. Ia menatap area sekitarnya selama beberapa detik lalu kembali menatap Nathan.


"Apa tidak lelah bagi dirimu memiliki dua pekerjaan sekaligus seperti ini?" tanya Jessica, ia benar-benar penasaran pada pemuda ini di hadapannya ini sekarang.


Nathan menggedikkan bahunya santai.


"Pekerjaanku di kantor kementrian sama sekali tidak sulit. Jika ada yang sulit bagiku aku hanya perlu melimpahkannya pada Marie jika aku sibuk dengan pekerjaanku di sini. Karena kau tau, sekali lagi, itu bukanlah pekerjaan asliku."


"Dan hal-hal seperti apa yang sering kau lakukan di sini? Di tempat rahasia ini?" Jessica terus bertanya-tanya. "Selain itu, siapakah wanita yang tadi ada di sini? Yang bernama Marie tadi. Dan Nathan itu tidak mungkin nama aslimu. Aku tidak percaya. Kau bisa saja kan mengarang nama untuk penyamaranmu."


"Marie sendiri, dia adalah wanita yang ada di sini bersamamu tadi. Dan dia adalah orang dengan posisi tertinggi di sini. Dia yang bertanggung jawab atas segalanya yang ada di sini. Aku, ayahmu, orang-orang ini, bahkan peralatan yang ada di sini. Semuanya..." ujar Nathan panjang lebar, mencoba memberitahu Jessica segalanya yang dia tau.


Nathan lalu menyeringai kecil sebelum kemudian dia menatap kembali pada gadis itu. "Dan tidak, kau salah! Namaku memanglah Nathan Jones."


"Begitukah? Maaf, hanya saja kau tidak terlihat cocok menggunakan nama Nathan," jawab Jessica mencoba mengejek pria itu. "Nama itu hanya terlihat agak mewah untukmu."

__ADS_1


"Tidak," jawab Nathan tersenyum. "Aku memang Nathan Jones. Kata orang-orang nama itu sangat cocok untukku. Hanya kau yang menganggapnya tidak cocok."


Sambil tertawa kecil Jessica menggedikkan bahunya santai, "Aku hanya memberi pendapat."


Nathan kemudian berdiri dan melihat ponselnya barulah kemudian ia kembali menoleh pada Jessica untuk beberapa saat sebelum akhirnya dia meraih dompetnya dari dalam tas. 


"Aku harus ke luar!"


"Kemana?"


"Ya, aku hanya akan pergi sebentar untuk mengambil makanannya," kata Nathan sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. "Aku akan kembali dalam beberapa menit. Tunggu aku di sini!"


Jessica mengangguk dan memperhatikan Nathan saat pria muda itu berjalan menjauh darinya menuju ke anak tangga. Nathan tiba-tiba berbalik dan menunjuk tangannya ke arah Jessica.


"Jangan sentuh apapun." ujar Nathan memperingatkan.


"Aku bahkan tidak bergerak!" Jessica mengangkat kedua tangannya.


"Bagus." kata Nathan mengangguk.

__ADS_1


Jessica terkekeh menatap kepergian Nathan. Ya, Jessica akui, sebenarnya dia terlihat cocok dengan nama Nathan.


***


__ADS_2