Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
93


__ADS_3

"Jadi aku tebak kalau hari ini sepertinya aku-lah yang akan mengemudi?" ujar Jessica memastikan pada Nathan yang saat ini tengah duduk dia sebelahnya.


Saat ini mereka tengah duduk dengan santai di dalam di dalam bus kota yang tengah melaju dengan kecepatan yang agak tinggi di jalan raya. Nathan duduk di sebelahnya.


Mendengar pertanyaan dari Jessica itu, Nathan hanya menganggukkan kepalanya sekali, pemuda itu lalu menolehkan pandangan ke sebelahnya untuk melihat pada gadis itu.


"Aku harap kau tidak keberatan dengan itu," jawab Nathan. "Seharusnya ada mobil sewaan pada saat kita sampai di sana nanti."


"Ya, aku harap." ujar Jessica malas.


Sebelumnya, Nathan telah memastikan kalau Jessica sudah bangun sejak pagi-pagi sekali. Ia membangunkan gadis itu dari tidurnya dan memintanya untuk bersiap dari pukul setengah enam pagi. Dan hal itu sontak saja membuat Jessica mengomel dan mengeluh kepada Nathan.


Jessica terus mengatakan padanya bahwa dia membutuhkan lebih dari tujuh jam untuk tidur. Nathan hanya terkekeh dan berpikir tentang bagaimana gadis itu terlihat seperti anak-anak yang di bangunkan ibunya saja.


"Dan bisakah aku tahu ke mana aku akan pergi mengemudi nanti?" Jessica bertanya-tanya. "Yah, aku perlu tahu tujuannya, bukan?"


"Aku-lah yang akan mengarahkanmu ke tujuan kita nanti," jawab Nathan. "Saat ini aku belum berniat memberitahumu, Jessica."


"Kau benar-benar merahasiakan ini. Ah... aku mulai merasa curiga sekarang." ujar Jessica menatap sinis pada Nathan


Nathan terkekeh dan mengeluarkan obat penghilang rasa sakit dari dalam tas yang dibawanya. Saat ini dia membutuhkan obat itu karena dia merasa kalau rasa sakit itu akan hilang jika dia terus meminum obat itu. Dia harus meminumnya jika dia ingin melewati hari itu tanpa merasakan sakit.


Jessica kembali terdiam melirik pada Nathan yang saat ini tengah membaca koran miliknya. Jessica menghela dan membuka majalah yang sejak tadi ada di tangannya dan membacanya.


Beberapa saat kemudian bis yang mereka tumpangi akhirnya berhenti. Jessica mengikuti Nathan dari stasiun dan tetap berada di sisinya sementara pemuda itu kini tengah berurusan dengan kantor penyewaan mobil.


Dia melihatnya dan matanya melebar.


"Ini jenis mobil favorit ku" ujar Jessica saat Nathan menyerahkan kuncinya. "aku pernah mengendarai yang seperti ini di Singapura."

__ADS_1


"Kalau begitu harusnya kita aman," jawab Nathan santai. Jessica tersenyum dan dia segera membuka kunci mobil, naik ke kursi bagian pengemudi.


"Apakah kau merencanakan ini?" Jessica tiba-tiba bertanya pada Nathan. "Apakah kau melihat mobil apa yang aku kendarai dari sosial mediaku?"


Nathan bergeser, bergerak dengan tidak nyaman di kursinya, ia sibuk dengan tas-nya yang ada di pangkuannya. Sementara itu saat ini Jessica tampak antusias. Ia menarik kursi yang ia duduki ke depan dan memastikan kalau kakinya cukup dekat dengan rem dan gas. Jessica mengalihkan pandangannya kembali ke samping untuk menatap Nathan dan mengerutkan alisnya.


"Aku pikir akan lebih baik kalau kau mengendarai mobil yang sama dengan yang pernah kau kendarai sebelumnya." ujar Nathan. "Ya, aku tahu kalau mobil-mobil ini pasti memiliki banyak variasi... dan ya... seharusnya ini lebih aman."


"Kupikir kau akan merasa lebih aman mengemudi sendiri?"


"Sejujurnya aku tidak mengemudi," jawab Nathan dan dia memindahkan ke tas-nya, mengeluarkan ponsel untuk melihat petunjuk jalan yang ada di dalam ponselnya. Dia mengutak-atik ponselnya saat Jessica mulai menyalakan mesin mobil dan dia menarik sabuk pengamannya.


"Kenapa tidak?" tanya Jessica


"Aku hanya merasa tidak aman," kata Nathan. "aku juga tidak suka naik pesawat. Kau akan melihat kalau bis, kereta api dan taksi biasanya merupakan metode perjalanan yang lebih aku sukai."


"Kalau begitu aku bisa menganggap diriku sebagai orang yang beruntung karena kau mengizinkan aku untuk mengemudi saat ini."


Nathan telah mengusahakan yang terbaik untuk mengatur hari ini. Selain itu, Nathan juga sangat ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Jessica. Dia ingin menikmati setiap detik bersama gadis ini sebelum nanti akan kembali ke gedung organisasi untuk bekerja. Sudut bibirnya tertarik saat memikirkan itu dan Nathan jadi bertanya-tanya apakah dia akan merasa bahagia seperti ini selamanya?


Namun itu sampai Nathan melihat cara Jessica mengemudi.


"Kau lewat mana, Jess? Itu jalan masuk. Kau salah jalan bukan lewat kiri tapi yang kanan!" Nathan menunjuk pintu keluar stasiun yang ada di kanan saat Jessica justru melewati pintu gerbang yang ada si sebelah kiri.


"Hei, sudah kubilang lewat pintu keluar yang itu, bukan yang ini!" Nathan memberi tahu Jessica sekali lagi menunjuk ke pintu keluar yang baru saja mereka lewatkan. 


Jessica terus mengemudi di sepanjang jalan, ia terlihat memutar matanya saat kemudian dia berhenti di persimpangan jalan karena lampu merah.


"Bukan yang ini," Nathan mulai jengkel. "Lewat jalan yang kiri, kau bisa lewati jalannya langsung."

__ADS_1


"Aku memilih lewat sini karena ini lebih cepat. Kau lihat, setelah ini kita akan melewati jembatan, barulah kemudian kita akan kembali ke jalurnya." Jessica mencoba menjelaskan. "Aku akan mengambil jalur yang lebih cepat dan masuk ke jalan pintas."


Nathan menggelengkan kepalanya, "Ya, tapi bisakah kau tidak menyetir terlalu ke tengah." ujar Nathan lagi.


"Sejujurnya, Nathan, kau harus tenang. Aku bisa mengendalikan ini." ujar Jessica santai. "Lagipula kau terlambat memberiku informasi, kenapa kau memberi tahuku saat sudah lewat." omelnya.


"Aku hanya tidak bisa membiarkan orang lain yang memegang kendali," keluh Nathan frustasi. "Itu membuatku memiliki tingkat stres lebih dari yang seharusnya. Huft, sebenarnya pelatihan ketenangan diri yang aku dapat dari organisasi telah membantu menguranginya, tetapi ternyata tidak cukup. Aku masih frustasi membiarkanmu menyetir."


"Cara mengemudiku hampir tidak mungkin membuat orang stres," jawab Jessica sambil bergumam.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di jalur lalu lintas, mereka terus mengikuti instruksi yang ada di ponsel Nathan itu. Jessica akhirnya mengendarai mobil di jalan yang kecil dan terus menyusuri jalan itu, akhirnya Jessica bisa melihat di mana mereka berada saat ini.


"Kota tua?" dia memastikan pada Nathan. "Ada sebuah rumah tua di sini, bukan? Aku ingat ibuku sempat mengatakan sesuatu ketika kami datang ke Indonesia dahulu, ya sebenarnya sudah lama sekali."


"Ya," Nathan memberitahunya saat dia menghentikan laju mobil dan memarkir mobil. Nathan bisa merasakan saat gadis itu mematikan kunci kontak. "Aku ingat kau bilang kalau kau suka melihat-lihat rumah tua kuno... yah... kupikir ini akan menjadi hari yang menyenangkan untuk kita..."


Jessica tidak tahu bagaimana perasaannya pada saat itu. Ia bisa merasakan sesuatu yang menusuk di dalam dirinya saat dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Nathan tersenyum lalu mendekat dan menarik tengkuk gadis itu. Ia mendekatkan bibirnya pada bibir Jessica dan menekan bibirnya pada bibir gadis itu, mengecup singkat.


"Aku tidak menyangka kalau kau-"


Jessica sudah tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Ia trenyuh. Selama ini tidak pernah ada yang melakukan hal seperti ini padanya. Meskipun ia selalu menjalin hubungan dengan banyak sekali pria, namun tak ada orang yang mengutamakan dirinya seperti ini. Tapi Nathan...Nathan selalu mengutamakannya dan itu benar-benar membuatnya merasa istimewa. Jessica hanya berharap kalau suatu saat dia bisa membalas perlakuan Nathan ini, entah bagaimana.


"Terima kasih," bisik Jessica dan Nathan segera mengangguk, rona merah kecil terlihat di pipinya saat dia balas menatap Jessica.


"Sa... sama-sama," Nathan menjawab dengan agak tergagap. "Tunggu apalagi? Kita harus segera pergi ke dalam. Mungkin butuh sekitar lima menit berjalan kaki ke dalam rumah itu."


Mengangguk, Jessica bergerak keluar dari mobil dan berjalan menuju ke tempat Nathan untuk membantu pemuda itu keluar dari mobil. Nathan menghabiskan waktu beberapa saat sebelum akhirnya dia berani melakukan langkah pertama. 


Dia memegang tas miliknya di bahunya, sementara tangan yang lain saat ini tengah di peluk oleh Jessica. Sejujurnya tangan itu masih agak sakit untuk di peluk tapi tak apa. Nathan juga sebenarnya agak terkejut saat menyadari bahwa Jessica-lah yang lebih dahulu merangkulnya.

__ADS_1


Nathan tetap diam untuk sejenak dan melihat ke arah Jessica. Ia lalu mengangkat tangannya dan mendorong rambut gadis itu ke belakang telinganya. Mereka lalu mulai melangkah menuju rumah tua kuno itu.


__ADS_2