
Sambil memekik, Jessica ikut berlari di sisi Nathan. Dia mencoba menolak melakukan apapun yang Nathan lakukan saat ini. Dia terus menerus mencoba untuk melawan dalam cengkeraman pria muda itu.
Dan di salah satu tikungan, Nathan akhirnya menyerah dan memperlambat langkahnya. Ia memilih untuk berjalan ketika dia merasakan Jessica yang sejak tadi terus saja meronta dalam pegangannya. Nathan menghela napasnya kesal karena gadis ini sama sekali tidak mau menurut kepadanya.
Nathan melihat ke belakang dan langsung terlihat pria bertubuh kekar dan besar yang sejak tadi mengejar mereka. Sekali lagi, Nathan menelan ludahnya kasar dan kedua matanya membulat ketika dia melihat pistol yang ada di tangannya.
"Dengar, Jessica," desak Nathan padanya dengan tak sabar. "Kita harus pergi. Kau lihat pria itu? Kurasa dia ingin membunuhmu, oke?"
"Apa?" Jessica bertanya. Ia kemudian mengikuti arah jari telunjuk Nathan. Dan dia bisa melihat dengan jelas sebuah pistol yang ada di tangan lelaki bertubuh kekar itu.
Jessica membulat sesaat sebelum akhirnya dia melihat pria kekar tadi mengarahkan pistol itu ke arah mereka berdua. Tubuh Jessica membeku ketakutan, tak bisa bergerak bahkan sedikitpun.
Pria itu menyeringai, ia sudah hendak menarik pelatuk pada senjata itu sebelum Nathan bertindak dengan cepat, memegang tangan Jessica lagi dan langsung menyeret tubuh gadis itu, berlindung ke sebuah tiang tembok untuk melindungi diri mereka.
Dorr!!
Sedetik setelahnya, jeritan dari orang-orang dan suara tembakan memenuhi telinganya saat Nathan menoleh kanan dan kiri, melakukan yang terbaik yang ia bisa untuk melambaikan tangannya, mencari taksi yang secara kebetulan lewat.
"Taksi!" Nathan berteriak lantang, lengan kanannya melambai saat salah satu taksi akhirnya berhenti untuknya.
Nathan membuka pintu belakang dan menuntun Jessica masuk ke dalam. Tasnya jatuh di dekat kakinya saat Nathan merangkak masuk kedalam mobil.
"Kemana?" tanya sang supir.
"Gedung Galeri Lukisan Nasional," kata Nathan pada sang supir sambil menarik kembali tasnya yang baru saja jatuh.
"Cepatlah!" pinta Nathan pada sang supir.
Nathan yakin kalau orang-orang itu pasti tidak akan mungkin mencarinya di sana. Dari sana dia bisa mendapatkan perlindungan dari organisasinya dan menemui ketuanya.
__ADS_1
Sopir itu mengangguk. Taksi itu perlahan mulai melaju kembali. Nathan yang penasaran hendak melihat posisi dari lelaki berbadan kekar itu melalui jendela kaca di belakangnya.
Namun pria berbadan kekar dan besar itu tiba-tiba saja kembali melepaskan tembakan terakhirnya ke arah taksi, hingga mengenai jendela kaca belakang dari taksi dan hal itu membuat kaca belakang dari taksi itu pecah berhamburan dan membuat Nathan kembali merunduk lagi.
Dorr!!
Jessica berteriak kencang saat pengemudi taksi itu sedikit oleng ke kiri karena terkejut.
"Sial! Apa apaan?" bentak supir itu menghentikan taksinya. "Ada apa ini?"
"Lanjutkan saja perjalanannya," Nathan mencoba mendesaknya.
"Tapi itu jendelaku!" kesal sang supir taksi.
"Lebih baik kau khawatirkan jendelamu nanti saja."
"Apa yang kau katakan? Aku bisa rugi banyak karena ini" si pengemudi taksi itu membentak kembali.
"A-apa?"
"Lihat! Orang itu datang!" kali ini Jessica yang berseru. Ia bisa melihat lelaki kekar itu berlari mendekat ke taksi yang mereka tumpangi.
"Kau masih mau hidup atau tidak? Cepat jalan!" bentak Nathan.
Merasa ucapan pria muda itu penuh dengan kebenaran, supir taksi itu akhirnya memilih diam. Dan akhirnya, taksi itu melaju dan terus bergerak menyusuri jalanan malam menuju Gedung Galeri Nasional dengan suasana yang begitu mencekam.
Nathan membersihkan pecahan kaca dari mantelnya. Dan tepat saat itu dia melihat benda berkilau di sekitar wajah Jessica dan juga bagian bahu atasnya.
"Tetaplah diam," desak Nathan.
__ADS_1
"Ada ap-"
Ucapan Jessica itu terhenti saat tangan Nathan dengan perlahan mengambil pecahan yang ada di pipinya. Tanpa di sadari, saat ini, di pipi Jessica tampak sesuatu berwarna memerah tengah mengalir. Dan napasnya tercekat saat Nathan dengan perlahan menarik pecahan kaca itu dan membuangnya dengan asal.
"Kita aman," ujar Nathan menghela napasnya.
Nathan baru bisa menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Walaupun ini terasa begitu menegangkan, setidaknya dia harus tetap menenangkan diri.
"Ada apa ini? Jelaskan padaku!" Jessica berbicara pada Nathan dengan serius, ia menuntut penjelasan dari pria muda itu. "Siapa kau sebenarnya? Dan apa yang orang itu inginkan?"
"Itu semacam pekerjaan lapangan," kata Nathan mencoba menjelaskan sebisanya.
"Apa?" Jessica berseru bingung.
"Aku minta maaf kalau ini tak akan cukup menenangkanmu. Tapi cobalah untuk tidak khawatir. Kita akan pergi ke tempat yang lebih aman dari ini...dan...ya...seseorang yang akan menjelaskan segalanya padamu nanti."
"Kau ini bukan pegawai negeri, kan?" Jessica mencoba memastikan. Gadis itu menelan ludahnya kasar saat dia berbicara pada pria muda itu dan Nathan langsung menggelengkan kepalanya perlahan.
"Ya, itu hanya pekerjaan sampinganku." jawab Nathan.
"Lalu, apa namamu bukan Nathan?" tanya Jessica.
"Tidak, namaku memang Nathan." ujarnya menjawab pertanyaan Jessica barusan. "Dan ya, ayahmu juga bukan pegawai negeri."
"Lantas siapakah dia?" Jessica bertanya saat Nathan kembali menarik pecahan kaca lainnya dari rambutnya.
"Tetap diam! Aku harus mengambil pecahan kaca ini." desak Nathan lagi saat Jessica tak mau diam.
Begitu Nathan selesai membersihkan pecahan kaca pada gadis itu, ia kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil.
__ADS_1
"Tentang siapakah ayahmu sebenarnya. Aku tidak bisa mengatakannya. Itu adalah informasi rahasia, Nona Bailey," bisiknya pada Jessica. "Ya, tapi kau akan segera mengetahuinya. Kau akan mendapatkan jawabanmymu nanti. Jadi jangan khawatir tentang apapun itu. "
***