Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
112


__ADS_3

Jessica duduk di bagian belakang taksi. Napasnya masih memburu setelah ia mencoba melarikan diri dari Nathan yang terus-menerus berteriak padanya. Dia hanya menutup matanya saat supir taksi bertanya ke mana dia ingin pergi. 


Ayolah... dia bahkan tidak tahu tujuannya.


"Aku belum mengetahui tujuanku, paman." jawab Jessica menatap keluar jendela, melihat sekitarnya.


"Apa anda tidak punya waktu seharian ini, nona?" supir taksi bertanya pada Jessica dan Jessica menganggukkan kepala padanya.


Jessica mengambil waktu sejenak untuk melihat ke ponselnya sebelum kemudian layar ponselnya menyala, menunjukkan sebuah pesan baru. Jessica membuka pesan itu dan membaca jika 'orang itu' tengah mengirimkan sebuah alamat padanya. Sebuah nama jalan dan juga nomor rumah.


"Kita ke jalan Antasari, paman," Jessica berseru pada supir taksi itu.


Sang supir menganggukkan kepalanya, sementara Jessica bersandar di sandaran kursi taksi itu. Ia mengalihkan pandangan keluar dari jendela taksi, menatap pada jalanan yang ramai saat dia merasakan ponselnya yang bergetar.


Itu adalah telepon, dari Nathan.


Jessica menggeser tombol merah yang ada di layar ponselnya. Ia bahkan tidak berniat membalas beberapa pesan dari pemuda itu.


Jessica menghela napasnya dan bisa merasakan tenggorokannya tercekat saat memikirkan ekspresi terluka di wajah Nathan. Ekspresi terluka yang Nathan tunjukkan ketika dia tau kalau Jessica menciumnya hanya untuk meloloskan dirinya.

__ADS_1


Bukankah itu artinya Jessica menipunya? Bisakah Jessica menyebut dirinya mengkhianati cinta Nathan? Memanfaatkan cinta pemuda itu? Kini Jessica hanya bisa berharap kalau Nathan akan mengerti kenapa dia sampai melakukan itu.


Sekitar dua puluh menit kemudian, ponsel Jessica menyala lagi. Sebuah telepon kembali masuk dan kali ini ayahnya yang menelepon. Jessica menunduk dan menekan tombol merah lagi. Ia menolak panggilan telepon dari ayahnya.


Dan detik itu juga air mata jatuh di pipinya. Jessica tidak tahu berapa banyak lagi hal menyedihkan yang bisa dia alami setelah ini. Dia hanya harus menyelamatkan ibunya. Dia akan melakukan ini dan ia yakin semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan kembali seperti dahulu lagi. Meskipun Jessica meragukannya.


Dia terus-menerus mengabaikan upaya ayahnya dan Nathan untuk meneleponnya. Dia tahu bahwa mereka pasti akan mencoba untuk membujuknya kembali ke markas organisasi dan memintanya pulang, membatalka apapun rencana yang akan coba untuk dia lakukan.


Bukan apa, Jessica hanya takut kalau mereka justru berhasil membujuknya untuk keluar dari masalah ini dan tidak mengikuti perintah penjahat itu. Jessica takut, tentu saja. Ia pasti akan merasa bodoh karena tidak melakukannya. Ibunya membutuhkannya, itu sebabnya dia tidak boleh kembali. Dia harus menyelamatkan ibunya apapun caranya.


"Ini dia, kita sudah sampai," ujar supir itu pada Jessica setelah taksi yang ia tumpangi berhenti. "Ini jalan Antasari."


Jessica menatap keluar dari jendela taksi untuk beberapa saat. Ia lalu merogoh tasnya dan menyerahkan uang bayaran pada supir taksi itu.


"Terima kasih," jawab sang supir.


Jessica berjalan ke nomor rumah yang tertera di ponselnya. Setelah sampai, ia menatap lekat pada rumah yang ada depannya itu. Itu sebuah rumah sederhana.


Jessica bergerak maju dan mendorong pintu gerbang. Ia melangkah sambil menatap ke sekeliling rumah. Jessica melangkahkan kakinya perlahan, berjalan di jalan setapak.

__ADS_1


Sambil melangkah Jessica melihat pada rumah itu lagi. Tirai jendela yang bersih menghalangi pemandangan Jessica untuk melihat ke dalam, tetapi kaca jendelanya bersih bahkan jalan masuk beraspal-nya juga bersih dari rumput liar. Awalnya Jessica pikir ia akan di minta datang ke sebuah rumah tua atau gudang. Apakah dia mendapatkan alamat yang benar?


Saat dia mengeluarkan ponselnya lagi, dia melihat sebuah pesan baru saja masuk.


'Kuncinya ada di bawah patung. Masuklah sendiri...'


Dengan tangan yang gemetar Jessica segera memasukkan ponselnya ke dalam tasnya sebelum kemudian Jessica mengedarkan pandangan dan melihat sebuah patung katak ada di dekat pintu. Dia membungkuk dan menemukan kunci yang dimaksud. Saat itulah dia menolehkan pandangan ke belakang. Jessica jadi bertanya-tanya apakah ada orang yang memperhatikan keberadaannya di sini.


Dia berdoa dalam hati, berharap ada orang lain di sana yang melihatnya..


Perlahan, Jessica berdiri tegak kembali dan menatap kunci itu ragu. Ia tahu kalau dia tidak punya pilihan lain selain masuk ke dalam. Ibunya ada di dalam. Ibunya sendirian di sana.


Pikiran itu membuat Jessica kembali melanjutkan langkahnya. Ia memasukkan kunci dan memutarnya. Detik selanjutnya terdengar suara 'klik'.


Jessica sontak menutup matanya dan meletakkan tangannya di knop pintu. Dia mendorongnya ke bawah, membiarkan pintu bergerak terbuka. Jessica melongok ke dalan dan dia bisa melihat ke dalam rumah, namun ia tidak melihat apa pun dalam pandangannya.


Jessica melangkahkan kakinya lagi memasuki pintu, melewati ambang pintu dan melihat ke atas tangga kayu yang ada di sebelah kirinya. 


Rumah itu kosong. Tidak ada apa pun di dalam sana. Dia membiarkan pintu di belakangnya tetap terbuka saat dia melangkahkan kakinya, berjalan menyusuri koridor dan menuju ke dapur. Dia mendorong pintu dapur itu, membukanya. Dan begitu pintu itu terbuka Jessica bisa merasakan jantungnya berdebar kencang saat melihat seorang pria tengah berdiri membelakanginya.

__ADS_1


"Betapa baiknya kau mau datang, Jessica. Aku baru saja memasak air." ujar pria itu.


***


__ADS_2