
"Lepaskan!" seru Jessica saat John menarik tubuhnya dari bagasi mobil dan membawanya ke atmrah dapur yang tampak asing baginya. Dapur itu terlihat agak mirip dengan rumah yang sebelumnya, tetapi Jessica tidak bisa memastikan apakah itu benar mirip atau tidak.
Jessica memekik begitu ia merasakan tubuhnya di hempaskan ke atas lantai oleh John. Pria itu lalu menarik lakban yang sejak tadi menutupi mulut Jessica.
"Kau yang membuat dirimu sendiri terlibat dalam kekacauan ini, Jessie," bentak John padanya. "Kau sudah membuang-buang waktuku. Dan aku harus pergi ke luar kota karena dirimu. Kau bahkan sudah menyusahkan ayahmu sendiri karena hal ini, kau tau?"
"Aku tidak peduli! Aku tidak akan membiarkan ayahku memberimu apa yang kau inginkan," ujar Jessica tajam sambil mencoba melepaskan ikatan di pergelangan tangannya. "Aku tidak peduli lagi apapun lagi... ayahku... dia tidak akan memberimu kuncinya..."
"Apa kau pikir begitu?" John bertanya-tanya dengan senyum geli. "Apakah menurutmu hidupmu tidak berarti apa-apa bagi ayahmu?"
"Tidak," jawab Jessica sinis. "Dia hanya tahu apa hal yang benar untuk dilakukannya saat ini adalah ... tidak membiarkanmu lolos dari semua ini... ayahku... dia akan menghabisimu... bukan memberimu kuncinya."
"Kau masih melihat ayahmu sebagai pahlawan rupanya." John membungkukkan badannya menatap Jessica dengan ekspresi mencibir di wajahnya. "Jadi, apakah menurutmu dia akan menyelamatkanmu sekarang?"
"Ya," kata Jessica sinis, ia menolak untuk kehilangan kepercayaan pada ayahnya. "Dan bukankah kau bilang sebelumnya kalau kau tidak akan membunuhku jika mereka melakukan apa yang kau inginkan."
"Yah... hidupmu tidak berarti apa-apa bagi diriku, Jessica. Dan menghabisimu juga tak memberiku apapun selain kepuasan." ujar John padanya menarik Jessica agar mendongak. "Sejujurnya aku bukan orang yang dikenal suka menepati janji, tapi kita lihat kedepannya. Siapa tahu aku berubah pikiran dan ingin dirimu mati saja..."
__ADS_1
John menjatuhkannya ke tanah lagi setelah mengatakan itu. Iaa memperhatikan saat gadis itu dengan gerakan lemas mulai menyeret dirinya sendiri, melakukan yang terbaik untuk melarikan diri darinya.
Begitu melihat itu John dengan kurang ajarnya langsung saja meletakkan sepatunya yang kotor ke atas punggung Jessica, mencoba untuk menghentikan gadis itu pergi ke mana pun sebelum kemudian menatap tajam pada Jessica.
"Percayalah, janjiku tidak berarti akan sama dengan perlakuanku, gadis nakal!"
"Mati saja kau! Brengs*k!" umpat Jessica.
Jessica kemudian merasakan kaki John yang malah menginjak-injak tubuhnya dengan kencang dan semakin kencang. Jessica mengerang kesakitan. Napasnya terengah-engah saat dia merasakan sakit pada tulang rusuknya. Jessica tahu bahwa tulang-tulangnya itu pasti akan memar.
Jessica menelan ludah dan dia mendorong tubuhnya sendiri untuk duduk bersandar di sudut ruangan. Dia melihat sekeliling ruangan. Tak jarang Jessica fokus mencari cara untuk melarikan diri dari tempat ini.
Sambil menggerakkan ikatan tangannya, Jessica mengerang. Ia bisa merasakan seluruh tubuhnya yang terasa sakit. Dan Jessica tidak tahu apakah dia bisa kabur dari tempat ini. Dia ragu untuk melakukannya. Jessica juga tidak tahu ke mana harus pergi atau apakah dia bisa keluar di waktu yang tepat. Tapi dia tidak akan mengetahuinya jika ia tak pernah mencoba. Jessica melakukan sebisanya untuk menemukan alat yang potensial bagi dirinya melawan saat John berjalan keluar dari dapur entah menuju kemana.
Dan saat itulah Jessica bisa melihat pemandangan cangkir. Jessica bisa mendengar John saat ini tengah pergi keluar melalui pintu ke arah garasi, jelas kalau dia akan memeriksa mobilnya. Hal itu sontak saja menjadi tanda bagi Jessica untuk segera bergerak. Ia dengan cepat bergeser dan memaksa dirinya untuk bergerak ke cangkir itu. Dia lalu mengangkat tangannya yang terikat, mencoba untuk meraih cangkir itu.
Jessica agak kesusahan karena tangannya yang gemetaran. Ia berhasil meraih gelas itu sebelum dia tanpa sengaha menjatuhkannya. Jessica membiarkan benda itu jatuh ke tanah, hancur menjadi pecahan yang tajam di lantai. Dia tahu bahwa John pasti akan mendengar suara pecahan itu dan dia pasti sedang perjalanan untuk datang kepadanya lagi.
__ADS_1
Jessica dengan cepat membungkuk ke lantai untuk meraih pecahan gelas itu. Dan jari-jarinya berhasil mengambil bagian yang memiliki ujung yang tajam. Setelah itu dengan cepat Jessica kembali ketempatnya, bersandar kembali ke dinding dan menyembunyikan pecahan tadi di belakang tubuhnya.
Ia bisa mendengar suara dari langkah kaki John yang kembali ke dapur dan dia melihat Jessica masih duduk di posisi sebelumnya.
"Apa itu tadi?" John bertanya sambil melihat ke sekelilingnya sebelum kemudian dia melihat cangkir yang pecah di atas lantai. "Apakah kau yang melakukan itu?"
"Aku bahkan belum bergerak," Jessica mencoba untuk berbohong padanya. "Kau mungkin tidak meletakkannya di atas meja dengan benar."
"Aku meletakkannya di atas meja, dengan benar," John berujar padanya dengan nada yang di tekan. "Tapi tak apa, jangan khawatir tentang itu, Jessica. Sekarang, mengapa kamu melakukan itu?"
"Aku tidak melakukan apapun," jawab Jessica padanya. Dia terus melakukan yang terbaik untuk melepaskan dirinya dari ikatan.
John perlahan bergerak ke arahnya dan dia tetap diam saat dia akhirnya merasakan pergelangan tangannya bebas. Dia hanya harus melepaskan ikatan yang ada di pergelangan kakinya lagi. Jessica aharus menunggu John untuk meninggalkannya sendirian. Dia harus menunggu pria itu menjauh darinya.
Saat itulah ponsel-nya mulai berdering. Seringai kecil muncul di wajahnya saat dia melihat nama penelepon itu... bosnya.
"Aku akan berurusan denganmu sebentar lagi," dia berujar pada Jessica dan perlahan berjalan ke kamar sebelah.
__ADS_1