Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
109


__ADS_3

Ia dengan cepat menggelengkan kepalanya. Jessica lalu melirik singkat ke arah Nathan. Ia merasa bersyukur bahwa pemuda itu tampaknya masih terus fokus menatap layar komputer di hadapannya. Yah, saat ini pemuda itu tampaknya terlalu tertarik pada komputer itu daripada dirinya.


Sebuah pesan kembali masuk ke ponselnya...


'Aku ingin kau tutup mulut. Apakah kau mengerti yang aku maksud? Aku juga ingin kau melakukan persis seperti yang aku katakan. Itu seharusnya tidak terlalu sulit, bukan? Pertama, kau harus berusaha menghindari tatapan ayahmu dan Nathan. Lalu aku ingin kamu keluar dari kantor itu dan naik taksi. Anda akan menunggu di dalam taksi untuk instruksi yang lebih lanjut.'


Jessica akui kalau ia memang tidak akur dengan ibunya, tapi dia tidak akan membiarkan ini terjadi pada ibunya itu. Dia mencintai ibunya. Dia adalah ibunya.


Apa pilihan lain yang dimiliki Jessica selain melakukan apa yang diinginkan oleh orang itu? Tidak ada pilihan lain bukan? Pada akhirnya Jessica memutuskan untuk melakukan apa yang diminta oleh orang itu. Saat ini dia harus melarikan diri dari Nathan, kemudian berlari secepat yang dia bisa menuju keluar gedung.


"Nathan," tiba-tiba Jessica berbicara, memasukkan kembali ponsel-nya ke dalam saku jaketnya. Dia mengambil tasnya dan Nathan menoleh untuk menatapnya. 


"Ya?"


"Apa aku bisa menghirup udara segar dahulu? Ya, maksudku, di sini agak pengap dan aku mulai merasa kepalaku agak pusing sekarang."


Nathan mengangguk, "Baiklah, ayo!"

__ADS_1


Dia diam mengambil waktu sejenak untuk melirik kembali ke Jessica. Nathan mengusak-usak rambut Jessica sebelum kemudian dia melihat tangan gadis itu tampak gemetar. Dia memegang tangan gadis itu menggenggamnya erat.


"Kau gemetaran," komentar Nathan dan Jessica menunduk menatap tangannya dan memaksa dirinya untuk tertawa kecil.


"Kopi, ah ini pasti karena kopi," Jessica berbohong pada Nathan. "Ya ampun Nathan, berapa cangkir kopi yang kau buatkan untukku pagi ini?"


"Itu sebabnya kau harus minum teh saja" jawab Nathan dan melepaskan pegangan tangannya. Ia berbalik dan memilih log out dari laptopnya dan mengambil kartu memori dan menyimpannya di sakunya.


"Aku akan mengingatnya," Jessica berjanji padanya.


"Baiklah, ayo pergi!" ajak Nathan.


Jessica mengalihkan pandangannya ke sekitarnya, mencoba untuk mencari rute pelarian terbaik baginya. Tampaknya ada lebih banyak taksi di seberang jalan.


"Apakah kau merasa lebih baik?" Nathan bertanya sambil menyesuaikan tasnya di bahunya dan ia tersenyum tipis pada Jessica.


"Ini lebih baik," Jessica berbohong pada pemuda itu.

__ADS_1


Sejujurnya, Jessica merasa bersalah karena sudah membohongi pemuda itu. Ia jelas tidak ingin melakukan hal ini padanya. Dia tidak ingin berbohong pada Nathan atau pun ayahnya. Tapi apa dia punya pilihan lain? Tidak kan.


Dan juga, ini adalah masalah keselamatan ibunya dan orang itu juga mengancam akan melakukan hal buruk jika dia memberitahu yang lain. Dan oke, mungkin Jessica bisa memberi tahu Nathan dan pemuda itu bisa melacaknya. Tapi apakah dia akan membiarkannya pergi? Tanpa perlawanan? Itu tidak mungkin.


Ck, bahkan dengan perlawanan dari Jessica sekalipun, Nathan tak akan pernah membiarkan dirinya pergi.


"Nathan... aku...aku ingin kau membantuku," katanya Jessica ragu.


"Kalau kau meminta padaku untuk tidak berdebat dengan ayahmu maka sepertinya itu tidak akan bisa," kata Nathan. "Ya, aku sudah mencobamya. Kau tau itu tidak semudah yang kau pikirkan."


"Tidak," jawab Jessica menggeleng. "Aku ingin kau berjanji padaku kalau... yah... aku tahu kau akan mencoba menghentikanku. Aku tau itu."


Jessica meraih tangan Nathan menggenggam tangan pemuda itu dengan erat. Ya, Jessica merasa baik-baik saja jika dengannya. Sejujurnya, dia ingin tinggal bersama Nathan. Dia ingin tinggal di tempat yang dia tahu akan aman. Tapi saat ini ibunya sedang dalam masalah. Dan Jessica akan menemukan ibunya itu sesegera mungkin. Itu satu-satunya cara. Hanya itu.


"Apa yang sedang kau bicarakan?" Nathan lalu menjawab Jessica dengan agak serius. Senyum di wajahnya agak memudar saat ini.


Jessica menelan ludah dengan kasar dan menggelengkan kepalanya, "Mereka memiliki ibuku, Nathan." bisik Jessica.

__ADS_1


Dan saat itu juga senyuman di wajah Nathan menghilang seutuhnya.


***


__ADS_2