Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
102


__ADS_3

"Apa?"


"Aku tau ini. Aku memang membuat kodenya. Aku juga memasang pengaman begitu kantor organisasi mempekerjakanku. Aku membuat orang mustahil untuk menemukannya... ya... sebenarnya yang tau tentang ini hanya aku dan juga beberapa orang lainnya. Jadi bagaimana ini bisa..."


Nathan sudah tak bisa melanjutkan kalimatnya, ia benar-benar merasa begitu kebingungan sekarang. Isi kepalanya terasa kosong.


"Kalau begitu mungkinkah beberapa orang yang lain itu yang memberimu ini?" Jessica bertanya-tanya pada Nathan.


"Tidak," Nathan dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Mereka tidak akan mungkin melakukan hal ini. Mereka semua bekerja di kantor kementrian. Jika mereka ingin memberiku ini harusnya mereka mengabari aku terlebih dahulu, jadi mereka tidak mungkin melakukan hal ini tanpa sepengetahuanku. Ini sesuatu yang lain, Jessica. Seseorang di luar kami telah memegang kode ini. Aku yakin, seseorang mengendalikan sistem paling kuat di negara kita ... ah, mungkin buka hanya di negera ini tapi di seluruh dunia ... Hanya Tuhan yang tahu apa yang bisa terjadi."


Jessica menggelengkan kepalanya sebelum dia melihat kembali ke kode yang ada di layar ponsel dan Nathan bergerak, ia menarik flash drive dari Macbook, lalu dia segera bangkit dari posisinya.


"Aku harus pergi ke markas," kata Nathan pada Jessica. "Aku harus masuk dan berbicara dengan atasanku. Kita sedang dalam masalah, Jessica."


"Apakah kau ingin aku tinggal di sini?" Jessica bertanya-tanya pada Nathan.


Nathan menganggukkan kepala pada Jessica, ia mengulurkan tangannya untuk gadis itu. Dia lalu menautkan jari-jarinya pada Jessica dan membantu gadis itu untuk ikut berdiri. Nathan mendorong rambut Jessica yang basah kebelakang telinganya

__ADS_1


"Kau akan cukup aman di sini. Lakukan saja sesukamu, tapi jangan keluar dari apartemen."


"Kau terdengar seperti ayahku," keluh Jessica dan Nathan tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya terkekeh. "Aku akan baik-baik saja, tapi Nathan kau juga akan aman, bukan?"


"Aku akan naik taksi dan langsung menuju gedung organisasi. Aku akan segera kembali kesini, oke?"


"Apakah kau akan keluar seperti itu?" Jessica bertanya padanya menatap pakaian Nathan yang agak basah.


Nathan menunduk dan menatap ke bawah, pada pakaiannya sendiri. Jessica lalu bergerak dan meraih mantel Nathan dari sandaran sofa. Jessica kemudian menyerahkan mantel itu pada Nathan.


"Apa kau ingin mengganti pakaian? Aku akan mengambilkannya. Ah, apa kau juga butuh celana kering?"


"Hei, hei!" Nathan menahan lengan Jessica yang hendak ke kamarnya, mencegah agar gadis itu berhenti bergerak. "Tenangkan dirimu, Jessica!"


"Maafkan aku, aku hanya-"


"Kita akan baik-baik saja. Kau akan baik-baik saja. Dan aku akan baik-baik saja. Apa kau dengar?" ujar Nathan menenangkannya.

__ADS_1


Jessica menghela napasnya pelan, "Ya, aku akan baik-baik saja."


"Baiklah! Aku akan pergi dulu." ujar Nathan.


Jessica mengangguk, "Ya."


"Kalau begitu, sampai jumpa," kata Nathan padanya dan mulai bergegas menuju pintu keluar


Jessica tetap berdiri di tempatnya, menatap kepergiannya sebelum tiba-tiba Nathan berhenti dan dengan gugup menjentikkan jarinya. Nathan berbalik dan bergerak kembali kepada Jessica. Tangannya menggenggam pinggang Jessica kemudian mencium bibir gadis itu dengan cepat.


"Aku hampir lupa," kata Nathan padanya sambil menepuk pelan pinggang gadis itu dan dia segera meninggalkan ruangan itu lagi.


***


Catatan :


Cerita ini hanya fiktif, otomatis bagian 'misil' juga karangan ya :)

__ADS_1


Saya tidak paham cara kerja nuklir


__ADS_2