Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
101


__ADS_3

"Pertanyaannya adalah... untuk siapa kartu memori itu dimaksudkan? Dia memberikannya untuk siapa?" ujar Nathan.


Nathan terus bertanya-tanya begitu dia dan Jessica tiba kembali ke apartemennya. Pakaian keduanya terlihat basah kuyup setelah mereka dengan terpaksa meninggalkan terminal bis dengan berjalan kaki karena mereka tidak dapat menemukan satupun taksi untuk pulang. Hari memang sudah terlalu malam untuk mendapatkan taksi malam itu.


Payung Nathan bahkan sampai rusak diterpa oleh hujan dan angin kencang. Hal itu membuat Jessica dan Nathan tak bisa melakukan apa-apa lagi selain tetap melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki setelah gagal mencoba mencari taksi.


"Itu tidak mungkin untukku," Jessica menggelengkan kepalanya, menolak untuk percaya bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi lagi padanya. "Maksudku... kau adalah kepala di kementrian... sementara aku hanya seorang siswa."


"Ya, kau memang seorang siswa. Tapi dengan seorang ayah yang bekerja sebagai agen mata-mata pemerintah." Nathan mencoba mengingatkan Jessica saat ia melangkahkan kakinya berjalan ke kamarnya dan membuka pintu lemari pakaiannya.


Nathan lalu mengeluarkan dua handuk kering dan menyerahkan satu kepada Jessica, sementara dia mulai mengusak-usak rambutnya sendiri, mencoba untuk mengeringkan rambutnya dari basah.


"Tidak ada yang tahu itu," jawab Jessica sambil menggedikkan bahu. "Tidak ada yang tau kalau ayahku adalah seorang agen mata-mata."


"Dimitri tahu," sekali lagi Nathan mencoba untuk mengingatkan gadis itu. "Siapa yang mengatakan bahwa tidak ada orang lain yang tahu?"


Sedikit yang Nathan tahu, tapi Jessica sendiri diam-diam juga sudah memikirkan hal itu. Dia telah duduk selama beberapa jam di dalam bis dan selama perjalanan pulang Jessica terus berpikir keras, memikirkan siapa orang yang sudah mengirimkan benda itu pada mereka.


Dan pikirannya hanya jatuh pada satu orang, hanya satu orang yang akan melakukannya. Itu Dimitri, jelas sekali itu adalah ulah Dimitri.


Jessica menundukkan kepalanya, diam-diam dia kembali memikirkan jika Dimitri datang padanya lagi. Dia jelas tak ingin menjadi tahanan dari pria itu lagi. Jessica tidak tahu seperti apa dia akan menangani itu jika benar-benar terjadi padanya lagi. Satu hal yang ingin Jessica katakan saat ini, dia... dia tidak ingin berhubungan lagi dengan pria itu.

__ADS_1


"Kau mungkin benar," bisik Jessica, mengalungkan handuk di lehernya.


Nathan menoleh ke arah Jessica dan tersenyum kecil kepada gadis itu sebelum dia mengeluarkan benda itu dari saku celananya. Dia terus-menerus menepuk saku celananya di jalan, untuk memastikan bahwa kartu memori itu masih ada padanya.


"Semuanya akan baik-baik saja, aku janji!" Nathan berjanji pada Jessica "Kau harus mandi dan juga mengeringkan badanmu. Kau pasti merasa kedinginan sekarang."


"Aku akan mandi. Tapi bukankah kita harus melakukan sesuatu dengan itu dulu?" Jessica berujar pelan sambil enunjuk ke kartu memori itu lagi.


Nathan mengangguk padanya dan berlutut di dekat meja ruang tamunya, tempat laptopnya berada.


"Aku juga berpikir begitu. Aku akan melihat isinya, Jessica. Jangan khawatir."


"Tidak! Tunggu dulu..." tiba-tiba saja Jessica berseru pada Nathan saat pemuda itu hendak menyalakan laptopnya.


"Bagaimana jika sebenarnya benda itu dimaksudkan untukmu?" Jessica berujar padanya. "Laptop milikmu sudah jelas penuh dengan rahasia milik pemerintah. Itu akan berbahaya jika kau mencolok sembarang hal pada laptopmu. Ini... milikku hanya penuh dengan pelajaran matematika. Tentunya akan lebih aman jika kau menggunakan milik ku."


Nathan mengambil beberapa detik untuk berpikir sebelum akhirnya dia mengangguk setuju dengan ucapan gadis itu. Butuh waktu beberapa detik bagi Nathan sebelum kemudian dia memindahkan laptop miliknya dan menggantinya dengan Macbook milik Jessica. Nathan mengambil waktu sejenak untuk melihat screensaver bergerak yang ada di layar.


"Di gambar ini kau terlihat ... yah ... agak..."


"Oh," kata Jessica ketika dia melihat gambar yang dimaksud Nathan. "Itu aku dan temanku, kami sedang membuat kue untuk rumah kami saat hari libur. Kami benar-benar membuat kekacauan pada hari itu."

__ADS_1


Nathan terkekeh saat kedua gadis pirang itu berdiri di dapur yang tampak berantakan. Mereka berdua tampak mengenakan celemek yang bahkan juga terlihat kotor. Di gambar yang bergerak itu, tampak mereka tengah memegang adonan kue, adonanya jatuh dan mereka tertawa. Ada tepung di wajah mereka dan lengan baju mereka digulung sampai siku dengan bercak-bercak tepung di atas kulit pucat mereka.


"Kau terlihat... begitu...santai..." Nathan mencoba memberitahunya dan akhirnya ia mengalihkan pandangannya dari screensaver dan beralih ke kartu memori yang ada di tangannya. 


Nathan memasukkannya di Macbook Jessica dan menunggu untuk beberapa saat. Instilasi tampaknya memakan waktu cukup lama dan Jessica terlihat terus mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Ada folder di sini," Nathan bergumam pelan, pandangannya masih fokus pada layar. "Menarik... hanya ada satu file di dalamnya..."


"Apa itu?" Jessica bertanya-tanya pada Nathan saat dia mengambil waktu sejenak untuk melihat ke arah layar. 


Jessica tetap diam menunggu jawaban atasan pertanyaannya saat Nathan mendorong kacamatanya lebih jauh ke pangkal hidungnya. Dia mengambil beberapa saat lagi untuk melihat Nathan membuka beberapa file yang berbentuk dokumen yang ada di layar laptopnya.


Di layar saat ini ada kode-kode yang tersebar di seluruh halaman sepenuh layar laptop dan itu membuat alis Jessica berkerut bingung. Apa ini? Apa yang dimaksud oleh pengirim itu? Jessica tidak tahu. Dia tidak tahu harus berpikir apa tentang apa yang dia lihat pada saat itu.


"Nathan" bisik Jessica padanya. "Apa itu?"


Nathan tetap diam, mulutnya terbuka sejenak saat dia kembali menyesuaikan kacamatanya dan mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada layar laptop. Nathan mengerjapkan matanya untuk beberapa kali, ia bertanya-tanya apakah saat ini ia melihat hal yang benar.


"Ini... ini adalah kode," Nathan bergumam pada dirinya sendiri. "Kode penghancur..."


Terlihat kening Jessica semakin berkerut. "Apa yang kau bicarakan?"

__ADS_1


"Senjata nuklir," bisik Nathan padanya. 


__ADS_2