Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
41


__ADS_3

"Jadi, bagaimana rasanya ketika kau sudah mengetahui siapakah sebenarnya ayahmu itu?" ujar Dimitri tersenyum miring menatap wajah Jessica.


Jessica tak menjawab dan memilih untuk tetap diam. Ia menggigit bibir bawahnya entah merasakan perasaan marah, kesal, takut dan perasaan lainnya yang saat ini campur aduk di hatinya.


Dimitri lalu mengangkat tangannya ke atas untuk menyisir rambut Jessica ke belakang telinganya. Pria itu kemudian menarik tempat duduk yang ada di dekatnya dan duduk tepat di depan Jessica. Ia terlihat mengetuk-ngetuk lututnya sendiri dengan jari telunjuknya saat dia dengan sabar menunggu jawaban dari gadis itu.


Tatapan Jessica bergerak untuk melihat ke arah Nathan yang masih tidak bergerak sama sekali dari posisinya. Tampak pemuda itu juga tengah memperhatikan Jessica dari tempatnya berdiri saat ini.


Nathan melirik ke sekitarnya, menatap satu persatu pada anak buah Dimitri. Mereka sangat banyak. Ia tentunya tak akan bisa melawan orang-orang ini. Nathan menggelengkan kepalanya, ia tak bisa melumpuhkan mereka bahkan satu orang pun. Nathan tidak bisa berkelahi sama sekali karena dia kan bukan agen lapangan seperti Robert.


Nathan secara diam-diam lalu menggerakkan sebelah tangannya dan memasukkannya ke dalam saku celananya untuk mengecek apakah ia menyimpan ponselnya di sana. Tapi tidak ada apa-apa di sakunya. Nathan lalu teringat kalau terakhir kali ia menyentuh ponselnya adalah saat ia menghubungi Edward untuk membawa Marie.


Mengingat itu, Nathan berdecak sebal. Benda itu pasti ada di saku mantelnya sekarang.


"Jadi, apakah saat ini kau tidak berniat untuk berbicara apapun, Jessie?" tanya Dimitri sambil tersenyum kecil pada Jessica.


Gadis itu masih diam, tidak berniat sama sekali untuk menjawab pertanyaan Dimitri.


"Oh ayolah, sayang." Dimitri terkekeh  "Kau tahu kalau kita berdua ini memiliki kesamaan. Kau pasti setuju jika aku mengatakan kalau kita telah dianiaya. Kita dikhianati. Di bohongi."


Kini giliran Jessica yang tersenyum. Ia menatap Dimitri dengan senyum sinis


"Aku lebih memilih untuk mengatakan kalau itu adalah hal yang berbeda. Aku akui masalah yang menimpamu itu sebenarnya jauh lebih parah daripada masalahku. Ya, memang benar kalau kau di khianati oleh atasanmu sendiri. Aku juga merasa sangat prihatin dengan itu." akhirnya Jessica mulai berbicara.

__ADS_1


Dimitri mengangkat sebelah alisnya sebelum ia memiringkan kepalanya. Dimitri menghela pelan kemudian menyilangkan kakinya. Ia lalu mencondongkan tubuhnya ke depan lebih dekat pada Jessica. Dan dengan dagunya yang bertumpu pada telapak tangannya, dia kini sedang mencoba untuk menimbang-nimbang ucapan dari gadis itu.


"Jadi kau bahkan berpikir kalau akulah yang paling menderita disini? Yah, yah, baiklah," Dimitri terkekeh, melihat ke anak buahnya yang datang bersamanya tadi lalu kembali menatap Jessica.


"Kau pasti punya pendapatmu sendiri." Dimitri diam untuk beberapa detik sebelum akhirnya kembali berbicara. "Ck, tapi kenapa kau mengatakan hal seperti itu. Menurutmu apa yang akan ayahmu katakan jika dia mendengar ini darimu?"


Jessica mendengus sinis. "Aku memang mengatakan kalau kau adalah orang yang paling menderita di sini." kata Jessica pelan. "Tapi aku tidak pernah mengatakan bahwa aku setuju dengan semua kejahatan yang telah kau lakukan saat ini. Jadi ayahku juga pasti setuju dengan pendapatku itu."


Seringaian muncul dari wajah Dimitri setelah mendengar kalimat itu. Ia menggelengkan kepalanya sambil terkekeh sebelum akhirnya dia bersandar pada sandaran kursi dan menyisir rambutnya sendiri ke belakang dengan tangannya.


Untuk beberapa saat dia bahkan hampir percaya jika gadis ini sedang membelanya. Dia hampir saja tertipu oleh siasat gadis ini.


"Kau gadis sial*an!" gumam Dimitri menatap Jessica dengan tatapan dingin.


"Tapi bagaimana caranya kau bisa masuk ke dalam sini? Keamanan begitu ketat di luar." Nathan akhirnya bicara.


Ucapan Nathan itu seketika merubah atmosfer yang ada di ruangan itu. Sebelumnya, kata-kata Jessica pada Dimitri tadi telah membuat suasana di ruangan itu menjadi tegang, terbukti dari ekspresi lelaki itu yang terlihat sangat marah.


Mantan agen itu menoleh untuk melihat ke arah Nathan yang baru saja mengajaknya bicara. Ia menatap Nathan dengan tatapan datarnya, membuat tubuh Nathan seketika membeku di bawah tatapannya. Ia menelan ludahnya kasar. Ia sebenarnya takut tapi ia harus terus mencoba sebisanya untuk mengalihkan perhatian Dimitri dari Jessica.


Nathan sangat yakin kalau Dimitri benar-benar kesal dengan ucapan Jessica tadi. Ia tak ingin Dimitri gagal untuk mengontrol emosinya dan memukul Jessica.


"Kenapa aku bisa masuk ke sini?" Dimitri balik bertanya.

__ADS_1


"Siapa yang membantumu?" Nathan menyipitkan matanya.


"Aku hanya mencoba keluar dari zona nyamanku saja, jadi aku mencoba untuk meretas sistemnya." Dimitri memberitahunya sambil menggedikkan bahunya santai. "Kenapa? Apakah selama ini kau berpikir bahwa membobol sistem kemananan akan sangat sulit bagiku?"


"A-aku…"


"Lihatlah Nathan, aku bahkan bisa dengan mudah meretas sistem dari organisasi tercinta kita ini. Ah, kau tahu? Semuanya akan jadi lebih mudah ketika kau tahu bagaimana cara melakukannya."


"Jika kau mampu melakukan itu, maka harusnya kau sadar bahwa Robert tidak ada di sini," Nathan mencoba untuk berbicara dengan nada yang lebih tenang. "Dan membunuh putrinya tidak akan membantu apapun untukmu."


Dimitri menaikkan sebelah alisnya, menatap Nathan dengan senyum sinis. "Siapa yang mengatakan sesuatu tentang membunuhnya?"


Setelah mengatakan itu Dimitri berbalik untuk melihat kembali pada Jessica dan menggelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak punya niat untuk membunuh gadis ini."


"Benarkah? Lalu apa rencana besarnya?" Jessica kembali bertanya dengan nada menantang. Ia kemudian mendecih sinis. "Tapi apapun itu, ayahku pasti akan memastikan kalau rencana itu akan gagal."


"Akankah dia berhasil menggagalkannya?" tanya Dimitri pada Jessica, nada suaranya terdengar tidak percaya bahkan terkesan meremehkan. "Aku meragukan itu."


Dimitri menunjuk ke arah Nathan. "Kau lihat! Nathan bahkan gagal melindungi sistem. Dan untuk Robert, hm… seperti yang kita lihat saat ini, sepertinya dia punya kelemahan yang akan membuatnya bahkan tak akan berani hanya untuk sekedar menyentuhku."


"Apa maksudmu?" Jessica menatap tajam.


"Kau! Kau adalah kelemahan Robert."

__ADS_1


__ADS_2