
Robert mengizinkan Nathan untuk masuk dan menemui Jessica sesaat setelah Robert mengetahui bahwa ibunya sedang keluar untuk mencari udara segar.
Robert berkata bahwa dia juga akan keluar untuk mencari Kate. Ia ingin tahu apa yang akan di putuskan oleh mantan istrinya itu setelah keadaan Jessica jauh lebih baik dan bisa keluar dari rumah sakit ini nanti.
*Di dalam ruang rawat*
"Nathan?"
Jessica berseru kaget saat melihat Nathan Jones kini ada di hadapannya. Pria muda itu terlihat berjalan memasuki ruang rawatnya.
Tentu saja Jessica terkejut, pasalnya terakhir kali ia dan Nathan saling bicara adalah saat Nathan menemaninya di telepon setelah insiden pembakaran rumah itu. Dan tiba-tiba saja pria muda itu sudah ada di sini, di hadapannya.
"Jessica," Nathan membalas balik Jessica. Ia terlihat canggung saat berjalan semakin mendekat pada gadis itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jessica masih dengan keterkejutannya.
"Ah, itu…" Nathan tersenyum kaku. Ia lalu menunjuk ke tas milik Jessica yang sebelumnya di letakkan Robert di kaki tempat tidurnya. "Itu milikmu. Kupikir aku harus mengembalikannya padamu. Lagipula kau memiliki mantelku. Dan juga ponselku yang ada di dalam saku mantel itu."
"Ponselmu juga?"
Nathan mengangguk, "aku menggunakannya untuk melacakmu."
"Mantelmu… dan ponselmu… aku rasa kedua benda itu mungkin telah rusak dan juga hancur," jawab Jessica dengan senyum canggung di wajahnya. Sementara Nathan masih tetap berdiri di tempatnya sebelumnya, sementara tangannya di saku saat dia memandang Jessica.
"Aku rasa itu masuk dalam kategori kabar buruk." jawab Nathan kemudian.
"Aku… minta maaf!" ujar Jessica.
Nathan berkedip. Diam-diam dia memperhatikan penampilan Jessica yang terlihat acak-acakan. Mulai dari rambutnya yang tampak kusut dan berminyak, hingga wajahnya yang tampak lebih kurus dari sebelumnya, pakaian yang dia kenakan juga tampak lusuh.
Nathan menatap wajah Jessica lekat dan dia bisa melihat betapa hitamnya kantung mata yang dimiliki gadis itu. Dan hal itu bisa membuktikan dengan jelas kalau tidur gadis itu tidak tidur nyenyak atau mungkin tidak tidur dengan benar.
__ADS_1
"Kau terlihat mengerikan," Nathan berbicara sebelum kemudian dia duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Jessica.
Ucapan Nathan itu memunculkan tawa dari Jessica, gadis itu tertawa sambil memperhatikan Nathan yang menarik kursi untuk duduk. Jessica mengepalkan tangannya dan meninjunya ke perut Nathan.
"Aku hanya bicara jujur." ujar Nathan tersenyum sambil menggosok perutnya yang baru saja di tinju oleh Jessica.
"Aku akan terlihat lebih baik nanti. Ah, aku benar-benar tidak sabar menunggu hari ketika aku bisa mandi datang. Aku akan berendam di bath up seharian penuh."
"Hari itu akan segera datang," jawab Nathan.
"Kuharap." senyuman Jessica muncul di wajahnya.
"Jadi bisa aku tahu kenapa kau ada di sini?" tanya Jessica kemudian. "Aku tidak berpikir bahwa aku akan melihatmu di Thailand seperti sekarang."
"Tidak… aku hanya…," kata Nathan terbata.
Nathan menautkan kedua tangannya dan melihat ke bawah. Ia menggigit bibir bawahnya ragu. Untuk beberapa saat dia memikirkan apa yang harus dia katakan pada Jessica.
"Seorang penjenguk yang baik biasanya akan membawa camilan, parsel buah atau barang bawaan lainnya," Jessica berujar santai. "Ah… kartu ucapan yang berisi kalimat penyemangat juga tidak buruk. Atau mungkin keduanya, kartu ucapan dan juga camilan."
"Ya, itu… sebenarnya ada toko seperti itu di depan rumah sakit ini. Tapi aku tidak mengerti bahasa mereka. Aku juga sedikit tidak nyaman bertemu orang baru dan tidak ingin melakukan sesuatu yang membuatku tidak nyaman."
"Apa itu pembelaan diri?"
Nathan menggedikkan bahunya, "kau bisa menyebutnya begitu."
"Apa kau seorang introvert?" tanya Jessica tiba-tiba.
"Hah?" Nathan mengernyit bingung.
"Maksudku… kau bilang tadi kau tidak nyaman bertemu dengan orang baru." ujar Jessica. "Perasaan itu hanya dimiliki oleh orang pemalu atau mungkin orang introvert."
__ADS_1
"Ah, begitukah. Ya, mungkin bisa di sebut seperti itu." ujar Nathan mengiyakan.
"Jadi, tidak akan ada parsel buah?" tanya Jessica sekali lagi.
Nathan mengangguk, "Ya, mungkin begitu. Lagipula aku tahu seperti apa sifat ayahmu itu. Dia pasti akan berpikir kalau aku sedang mencoba untuk menggodamu nanti."
"Ya, aku juga tahu seperti apa dia." Jessica berdesis malas, "Oh ya, tadi dia sempat mengatakan padaku bahwa dia akan kembali bekerja. Dan akan mulao kembali untuk mencari Dimitri."
"Akan membantunya jika kami tahu di mana Dimitri berada saat ini," kata Nathan. "Aku bahkan belum mendengar apa-apa. Aku rasa Dimitri akan diam untuk sementara waktu. Mungkin."
"Aku harap dia akan diam untuk selamanya. Itu akan terdengar lebih baik," gumam Jessica dan Nathan bisa melihat raut Jessica berubah sedih. Matanya berkaca-kaca.
Nathan mengernyit, ia lalu menatap Jessica dengan tatapan khawatir. Nathan menebak mungkin saja gadis itu merasakan sakit di kakinya.
"Ada apa?" tanya Nathan kemudian. "Apakah kakimu kembali terasa sakit?"
"Tidak," jawab Jessica. Ia lalu menyeka matanya yang berair dengan punggung tangannya. "Aku baik-baik saja. Sejujurnya, tidak ada yang salah denganku."
"Biasanya ada sesuatu yang salah ketika seseorang mulai menangis secara tiba-tiba." Nathan berujar tak percaya.
Jessica menundukkan kepalanya. Ia merasa bingung harus menceritakan keluh kesahnya pada Nathan atau tidak. Di satu sisi Nathan adalah orang yang baru ia kenal, tapi di sisi lain, Nathan adalah satu-satunya orang yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman.
Nathan bisa melihat dengan jelas betapa bimbangnya gadis di hadapannya itu. Nathan tersenyum, tangannya bergerak meraih tangan Jessica dan memegangnya untuk beberapa saat.
"Jessica… jika saat ini ada yang sedang mengganggu pikiranmu, kau bisa memberitahuku segala sesuatu yang kau rasakan. Senangmu, sedihmu, semuanya. Dan seperti yang kau tahu, aku telah menyelamatkan hidupmu sebelumnya. Artinya aku juga adalah salah orang yang bertanggung jawab atasmu. Kau bisa mempercayaiku."
Jessica akhirnya mendongak, mengangkat dagunya sehingga dia bisa menatap mata Nathan. Sebuah dengusan sinis keluar darinya.
Jessica terdiam untuk beberapa saat sebelum kemudian ia menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
"Ini tentang ibuku…"
__ADS_1
***