
Nathan melihat kulit Jessica yang tampak rusak karena luka bakar. Nathan menatap gadis itu sekilas tepat saat Jessica melihatnya dan melihat Nathan menggelengkan kepalanya. Jessica tahu betul bahwa itu adalah pemandangan yang kurang enak untuk di lihat.
"Aku tahu," bisik Jessica padanya. "Itu pasti terlihat sangat menjijikkan."
"Tidak," Nathan menyanggahnya, "Ini tidak seburuk yang kau pikirkan."
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa" kata Jessica. Ia meletakkan jari-jarinya di sepanjang pahanya, sambil meringis saat Nathan mengoleskan salep. "Maksudku... aku..."
"Tidak apa-apa," Nathan berujar padanya, kembali mengoleskan salep yang telah diresepkan untuk Jessica "Itu bahkan bisa lebih buruk."
Jessica berdecih, "Begitu banyak hal-hal yang lebih buruk terjadi di dunia ini pada orang lain, namun di sini aku malah menangisi hal seperti ini. Aku benar-benar menyedihkan."
"Kau hanya sedih" jawab Nathan. Ia mendorong kacamatanya ke atas sebelum dia kembali memencet salep itu ke kaki Jessica. Jessica tidak berniat mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap kegiatan Nathan dalam diam.
"Nathan," ujar Jessica ketika dia melihat pada pemuda itu. "Kau tidak perlu melakukan ini, aku... aku bisa melakukannya."
"Sudah kubilang, itu tidak masalah, aku bisa membantumu melakukan ini." kata Nathan. Ia menghentikan kegiatannya sejenak untuk melirik pada Jessica.
Gadis itu balik menatap Nathan. Ia menarik rambutnya yang menetes ke bahu. Ia merasakan tangan Nathan yang tengah mengoleskan salep dengan lembut di kulitnya. Pemuda itu dengan perlahan mengoles salep saat Jessica kemudian menggigit bibir bawahnya karena kesakitan.
Nathan melirik sekilas, memperhatikan Jessica yang kesakitan. Nathan menelan ludah dan mulai membalut kaki Jessica, ia dengan perlahan melilitkan kain putih di sekitar kakinya.
"Sudah selesai! Kau bisa memakai salah satu bajuku, kalau kau mau." akhirnya Nathan berbicara sambil bangkit, menegakkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya untuk membantu Jessica. "Aku ragu kau mau memakai gaun menjijikkan itu lagi."
"Sebenarnya itu salah satu gaun favoritku," keluh Jessica pada Nathan. "Dan itu tidak murah."
"Bukankah ayahmu menjanjikanmu jalan-jalan dan belanja?" Nathan bertanya-tanya ketika Jessica berdiri dengan cepat.
Gadis itu berdiri dengan agak sempoyongan bahkan hampir kehilangan pijakannya. Dahinya tanpa sengaja membentur shower saat Nathan berhasil membuatnya tetap berdiri.
__ADS_1
"Aduh," keluhnya, tangannya memegang dahinya.
"Apakah kau baik-baik saja?" Nathan bertanya-tanya. Tangannya ada di lengan atas Jessica. Gadis itu mengangguk padanya, perlahan-lahan melihat ke bola matanya. Nathan tersenyum ketika Jessica tersenyum kembali padanya, salah satu tangan Jessica dengan gerakan gugup menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.
"Kurasa menjagaku menjadi lebih sulit dari hari ke hari," bisik Jessica padanya.
Sudut bibir Nathan tertarik ke atas lagi dan dia bahkan bisa merasakan kacamatanya menjadi hangat di kulitnya karena uap air panas.
"Kau memang membuatku sibuk, apalagi dengan melarikan diri dari pembunuh kejam seperti Dimitri. Aku sampai harus berlari ke Thailand untuk menemukanmu, dan sekarang kau malah berada di apartemenku."
"Sejujurnya, aku bahkan tidak pernah meminta atau menyuruhmu untuk datang ke Thailand," jawab Jessica, ia tidak berusaha untuk beranjak dari posisinya di rangkulan Nathan.
"Memang tidak," Nathan setuju, "tapi siapa yang tahu bagaimana lagi nasibmu tanpa aku?"
"Ya, baiklah, semua tahu itu memang benar. Kau termasuk yang sudah menyelamatkan hidupku. Tanpa kau ayahku tak akan bisa menemukanku."
"Ya, em, seingatku kau bahkan sempat mengatakan bahwa kau akan membelikanku minuman karena itu," Nathan mencoba mengingatkannya dan Nathan bisa melihat bahwa Jessica telah mengarahkan pandangan matanya ke bibirnya. Nathan menelan ludah, ia tahu betul apa yang sedang Jessica pikirkan saat ini. Dan dia tidak bisa tidak memikirkan hal yang sama dengan Jessica.
"Kita akan pergi bersama hanya jika kau memilih untuk memberitahuku tentangmu."
"Seperti yang aku katakan sebelumnya" Nathan menjawab, "aku lebih suka menjadi misteri. Aku pikir kebanyakan orang menyukai misteri?"
"Aku lebih suka hal-hal sederhana dalam hidup saat ini," bisik Jessica padanya.
"Seperti sereal, atau teh... atau mungkin drama keluarga?"
"Drama keluarga?"
"Ya."
__ADS_1
"Ah, sinetron?"
"Em, benar."
"Aku pikir sinetron tidak masuk dalam kategori sebagai hal sederhana." ejek Jessica."
"Tapi aku menyukainya."
"Kau menonton Sinetron?" Jessica bertanya-tanya, menarik kembali dirinya dari Nathan saat dia melihat rona merah kecil di pipi pemuda itu. Nathan buru-buru membuang pandangannya dengan canggung.
"Kadang-kadang," jawab Nathan. "Hanya ketika ada cerita yang bagus untuk di tonton..."
"Kau benar-benar pria yang penuh misteri," gumam Jessica sebelum akhirnya ia memilih untuk bertindak.
Dia dengan ragu-ragu menempelkan bibirnya ke bibir Nathan. Ia bertanya-tanya apa yang akan pemuda itu lakukan setelah beberapa saat kaku. Nathan memilih untuk tidak bergerak, ia hanya terlalu shock untuk memikirkan tindakan mengejutkan seperti itu. Akhirnya, dia menyadari apa yang akan terjadi saat Jessica tiba-tiba saja menariknya lebih dekat, tangannya melengkung di belakang kepala Nathan.
Nathan bisa merasakan bibir Jessica bergerak ke bibirnya saat dia menyadari bahwa dia seharusnya menanggapi ciuman itu. Jessica menggerakkan lengannya di leher Nathan mempermainkan rambut di belakang kepala pemuda itu. Nathan mengelus leher Jessica dengan jari-jarinya, menggelitik lehernya sebelum dia menyadari apa yang kemudian terjadi padanya.
Jessica merasakan angin dingin tiba-tiba menyerang di sekujur tubuhnya saat dia membuka matanya untuk melihat ke bawah. Dia membulat. Dia memundurkan langkahnya dari Nathan, bibir mereka terbuka saat pria programmer itu akhirnya menurunkan pandangannya, ikut melihat ke bawah. Kali ini rona merah yang terbentuk bertahan sejenak di wajahnya. Handuk Jessica terlepas. Oh bukankah waktunya terlalu tepat?
Nathan memejamkan mata dan berbalik, keluar dari kamar mandi. Jessica membungkuk untuk mengambil handuk yang jatuh, melingkarkan kembali benda itu ke seluruh tubuhnya lagi sambil menatap Nathan yang bergegas keluar dari kamar mandi.
"Akan kuambilkan kaos milikku" teriak Nathan sambil menutup pintu kamar mandi.
"Ya...terima kasih..." jawab Jessica, kembali duduk di kursi plastik kamar mandi yang pintunya tertutup sementara Nathan masuk ke kamar tidurnya.
Nathan meraih kemeja biru tua dan menutup pintu lemari. Kemudian ia dengan buru-buru menutup pintu kamarnya. Ia dengan lemas menundukkan kepalanya sehingga menyentuh bagian atas dari nakas.
'Apa yang baru saja aku lakukan? Mr. Robert akan membunuhku jika dia melihat apa yang baru saja terjadi. Itu...ya, walaupun... walaupun aku punya senjatanya di tanganku.' Batinnya putus asa.
__ADS_1
***