Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
90


__ADS_3

Ada beberapa saat ketika Jessica sama sekali tidak memikirkan tentang perbedaan usia antara dia dan Nathan. Dia terkadang tidak peduli dengan hal itu. Dia tau ada banyak sekali orang yang memiliki umur lebih dari sepuluh tahun lebih tua dari pasangan mereka. Contohnya, ayahnya yang memiliki usia enam tahun lebih tua dari ibunya. Lihat? Tidak ada bedanya. Meskipun itu bisa menyebabkan Jessica menjadi kesal ketika orang -orang terus menerus membicarakannya. Seperti lelaki di hadapannya saat ini...


"Oh, kau masih kuliah di universitas? Jadi bagaimana guru seperti Nathan bisa bersamamu? Ah, jangan bilang itu hubungan antara guru dan murid?"


"Tidak," Jessica menjelaskan dengan singkat.


Jessica melihat sekeliling, bertanya-tanya di mana Nathan saat ini. Pemuda itu tadinya mengatakan kepadanya bahwa dia perlu pergi ke kamar mandi. Ya, itu sejak lima menit yang lalu. 


Jessica mulai merasa muak ketika orang-orang 'minum' dan itu menyebabkan mereka menjadi santai, banyak dari mereka tertawa dan bercanda bahkan ada beberapa yang menumpahkan barang-barang. Dahulu, biasanya Jessica akan menjadi salah satunya.


Tapi malam itu dia memegang gelas anggur di tangannya dan menyesapnya dengan lembut, berdiri dengan patuh di sisi Nathan. Dia tak seperti Jessica yang biasanya.


"Nathan dan aku bertemu di galeri seni," jawabnya, agak melebih-lebihkan kebenaran tapi Jessica tidak begitu peduli. Satu fakta! Dia tidak menyukai teman-teman Nathan. Kebanyakan dari mereka tampak menjengkelkan dan terlalu cerdas untuknya. "Dia sedang melihat lukisan buah di dalam keranjang saat itu." lanjutnya


Pria itu mengangguk. "ah, itu.. aku tau lukisan itu. Itu adalah karya seni dari...."


Jessica sudah tidak ingin mendengar apapun lagi dari lelaki itu. Ia juga tidak mau mengakui kepadanya bahwa dia tidak tahu apa yang sedang dia bicarakan. Sejujurnya Jessica tidak terlalu menganggap seni itu menarik.


"Jadi apa yang kau pikirkan tentang itu?" dia bertanya lagi pada Jessica, sambil meneguk minuman ber-alkoh*l dari botol birnya. 


Jessica kembali melihat sekeliling, bertanya-tanya kapan Nathan akan muncul kembali dan menyelamatkan dirinya dari pria konyol ini. Dia bersandar ke sandaran kursi tepat ketika pria itu tampaknya bergerak samakin mendekat. Dia mengangkat lengannya dan meletakkannya ke pegangan kursi di dekat Jessica.


"Ya, aku pikir itu hanya keranjang buah," ujar Jessica menjawab dengan malas. "Aku tidak tahu banyak tentang hal yang menyangkut tentang seni. Ah, lebih tepatnya aku tidak suka."


"Aku mengerti," jawab pria itu "Jadi apa yang kau ketahui? Apa yang kau sukai?"


"Matematika," jawab Jessica.


"Matematika adalah sesuatu yang selalu saya kuasai. Berarti kau orang yang pintar. Bukankah kau harus pintar untuk masuk ke akuntansi."

__ADS_1


"Benarkah?" Jessica bertanya-tanya, kembali melihat sekeliling dan memohon pada dirinya sendiri agar Nathan segera datang. "Ini obrolan yang menarik. Tapi maaf sepertinya aku harus pergi untuk mencari Nathan."


"Tunggu," jawabnya padanya, tangan pria itu melingkari pergelangan tangan Jessica saat Jessica menoleh dan balas menatapnya dengan alis yang melengkung. "Kita baru saja mengenal satu sama lain, Jessica."


"Ya dan tapi itu bukan alasan untuk ini?" jawab Jessica sambil melirik pegangan pria itu pada lengannya.


"Nathan bukanlah pria yang menarik." ujar pria itu tiba-tiba.


"Tidak, tapi dia seorang pria terhormat dan aku datang ke sini bersamanya," jawab Jessica dan dia menyesap anggurnya. 


Perlahan-lahan, dia mendorong gelas di tangannya itu dan dengan sengaja membiarkan alkohol itu jatuh ke bagian depan kemeja dari pria itu, membasahi pakaiannya. Jessica lalu meletakkan tangan ke mulutnya, berpura-pura terkejut atas perbuatannya sendiri


Alis pria itu tampak melengkung, ia menatap Jessica dengan tatapan kaget saat dia melepaskan pegangan pada pergelangan tangan Jessica kemudian dia melihat ke bawah, ke tempat lembab di bajunya.


"Ya ampun," Jessica berbicara, nadanya terdengar tidak tulus. Dia meletakkan gelas anggurnya di atas meja di belakangnya dengan hati-hati, memastikan kalau dia tidak menjatuhkan hiasan meja apa pun di meja itu. "Sejujurnya aku tidak bermaksud melakukan itu. Aku tidak tahu apa yang merasukiku hingga membuatmu di rugikan seperti ini."


Pria itu hampir tidak terlihat terkesan dengan perbuatan Jessica saat dia melotot padanya, dia tetap diam agar dia tidak membuat keributan di pesta itu. Dengan satu kesempatan terakhir yang dia miliki untuk kabur dan memasang senyum yang tampak polos, Jessica memilih untuk menaiki tangga, mencari Nathan.


Jesaica kemudian berhenti menaiki tangga dan memilih duduk di salah satu anak tangga itu. Nathan semakin kebingungan. Ia dengan perlahan membungkuk dan ikut duduk di anak tangga yang ada di sebelah Jessica.


"Ada apa? Apa yang salah?" Nathan bertanya-tanya. 


"Aku baru saja harus melindungi diriku sendiri dari salah satu temanmu yang menyeramkan." ujar Jessica sambil menggelengkan kepalanya.


"Yang mana?" Nathan bertanya-tanya pada Jessica.


"Aku tidak tahu siapa namanya," jawab Jessica dengan acuh. "Tapi aku sengaja menuangkan anggur ke atas pakaiannya. Ck, aku rasa dia pasti mengerti pesannya."


"Danny," gumam Nathan, ia mencoba untuk menyimpulkan siapa salah satu temannya yang cukup menyeramkan untuk menjadi pelaku penggoda itu. "Maaf. Seharusnya aku segera turun untuk menemuimu."

__ADS_1


"Aku baik-baik saja," jawab Jessica. "Lebih baik darimu, Nathan."


Sambil menggelengkan kepalanya, Nathan mengangkat tangannya ke rambut Jessica dan mengelus rambut gadis itu. Ia menggelengkan kepalanya saat sebuah kenyataan menghantam pikirannya.


Nathan tahu bahwa dia sedang berpikir hal yang tidak masuk akal sekarang. Sejujurnya tidak perlu baginya untuk takut akan hal seperti itu. Namun dia tidak bisa menahan diri. Nathan tidak tahu kenapa. Dia curiga bahwa dia jadi lebih mudah terpengaruh terhadap pendapat orang daripada yang dia pikirkan sebelumnya.


"Sejujurnya aku tidak tahu mengapa aku begitu repot memikirkan ini. Aku tahu orang-orang akan bertanya tentang bagaimana kita bertemu. Sejujurnya, aku juga merasa kalau perbedaan usia kita saat ini memang cukup besar." ujar Nathan perlahan.


"Nathan," bisik Jessica.


Jessica lalu menggelengkan kepalanya untuk menghentikan Nathan mengatakan apa pun lebih jauh kepadanya.


"Maafkan aku, tapi semakin aku memikirkannya, akan semakin terlihat perbedaan usia kita. Lagipula, orang-orang itu memang-lah benar. Kau benar-benar jauh lebih cantik Jessica. Tidak! Kau sangatlah cantik dan kau bisa mendapatkan yang jauh lebih dari-"


"Diam!" potong Jessica, suaranya keras saat dia berbicara dengannya. "Berhenti bicara!"


Jessica segera berdiri di tangga, tangannya di pinggul saat dia menatap pemuda itu. 


"Apa yang orang katakan! Apapun pendapat orang, itu sama sekali tidak penting, Nathan. Orang-orang di sini tidak tahu apa-apa, bukan? Mereka tidak tahu siapa kau dan mereka tidak tahu siapa aku. Ya, aku tahu bahwa aku berumur dua puluh tahun. Aku juga tahu kalau aku masih sangat muda, tapi apa bedanya? Aku sangat menyukaimu...mungkin ini tidak seperti yang ayahku inginkan...tapi aku memang menyukaimu."


"Jessica, aku-"


"Ayo berdiri!" ujar Jessica.


Jessica lalu mengulurkan tangannya pada Nathan, ia menatap pemuda itu, mendesaknya untuk segera meraih uluran tangannya itu. Jessica menunggu dengan sabar selama beberapa detik dan Nathan akhirnya mengangkat tangannya yang tak sakit untuk menerima uluran tangan gadis itu di dalam tangannya. Dia berdiri dan melihat kembali ke arah Jessica saat gadis itu dengan lembut tersenyum padanya.


"Bisakah kita pergi sekarang?" Jessica bertanya memastikan. "Kau harus berhenti memikirkan hal konyol ini. Dan juga... aku harus pergi dari sini sebelum orang mesum itu datang dan menuduhku melemparkan minumanku ke pakaiannya."


Nathan mengangguk. Dia menggenggm tangan Jessica, menuntunnya kembali menuruni tangga dan ke tempat ia meletakkan mantel di salah satu meja.

__ADS_1


"Secara teknis kau memang melemparkan minuman mu padanya." ujar Nathan menjawabnya.


"Ya, baiklah! Aku memang ingin melemparkan gelasku padanya tadi dan itu berakhir hanya dengan menumpahkan minuman saja," jawab Jessica dan Nathan meraih mantelnya dan menyampirkannya di lengannya. Dia perlahan membawa Jessica ke arah pintu, membukanya dan memastikan tidak ada yang memperhatikan saat mereka menyelinap di kegelapan malam.


__ADS_2