Ayahku Ternyata Mata-Mata

Ayahku Ternyata Mata-Mata
63


__ADS_3

"Hei, Nathan," sapa Jessica begitu tahu bahwa ayahnya telah pergi. "Maaf jika aku agak kurang sopan, tapi-"


"Apa kau ingin menggunakan kamar mandiku," Nathan menyela, tangannya masih fokus mengetik di keyboard dengan kecepatan yang tidak manusiawi.


Sambil tersenyum, Jessica mengangguk. "Maksudku, jika kau tidak keberatan."


"Tidak sama sekali," Nathan menjawab. "Apakah kau memerlukan bantuan?"


"Aku bisa... meskipun agak pincang," jawab Jessica padanya dengan ragu.


Nathan seolah peka dengan kalimat itu. Ia memilih meninggalkan laptopnya. Ia melangkah ke dekat sofa dan berdiri di hadapan Jessica. Nathan lalu mengangkat tangannya dan meletakkannya di sekitar pinggang gadis itu untuk membantu Jessica berdiri. Jessica berusaha bangkit dalam pelukan pria muda itu, melingkarkan lengannya di bahu Nathan saat pemuda itu mulai membantunya menuju ke kamar mandi.


"Duduk saja..." kata Nathan, mendorong sebuah kursi plastik lebih dekat pada mereka dan mendudukkan Jessica di sana.


Nathan mengeluarkan sampo dan kondisionernya dari dalam lemari kaca. Nathan mengambil sabun mandinya, tahu jelas bahwa semua itu perlengkapan mandi untuk pria, tetapi dia ragu Jessica peduli.


"Aku akan memulainya," ujar Nathan, ia melangkah ke dalam bilik kaca dan menyalakan air panas di shower. "Aku yakin kalau kau pasti bisa mengurus segalanya sendiri setelah ini?"

__ADS_1


"Kurasa aku bisa melakukannya sendiri, terima kasih atas bantuannya." kata Jessica.


Nathan langsung menegakkan posisinya. Ia melihat saat Jessica hendak menarik turun resleting gaunnya. Dan Nathan paham dan menganggap hal itu adalah isyarat untuknya agar pergi dari tempat itu. Nathan berbalik dan melangkah keluar. Ia menutup pintu dan meninggalkan gadis itu sendirian di kamar mandi.


Nathan melangkah kembali menuju laptopnya tadi. Dan sambil menggelengkan kepalanya, Nathan mencoba untuk menyingkirkan pikiran apa pun tentang kulit mulus Jessica. Nathan memilih untuk membuat secangkir teh melati untuk dirinya sendiri. Ia memutuskan untuk tidak menikmati kopi malam ini.


Setelah itu, Nathan meletakkan gelas tehnya ke sebelah laptop dan masuk ke database organisasi. Sambil fokus pada layar, ia sesekali menyesap teh dan terus bekerja. Ia tetap diam di hadapan laptopnya sampai kemudian dia mendengar Jessica memanggil namanya.


Nathan mendongak dan berhenti mengetik. Ia menyesap lagi teh melatinya sebelum melangkah ke dekat kamar mandi.


"Bisakah kau membantu untuk mengambilkan perban lukaku, Nathan? Benda itu ada di dalam tas ku." Jessica berujar dan Nathan menganggukkan kepalanya, mulai beranjak kembali untuk mencari obat salep dan juga perban.


Nathan lalu berlari kembali menuju kamar mandi untuk memberikan apa yang diminta Jessica. Nathan membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk kedalam.


Uap dari air panas shower menerpanya begitu dia melangkah masuk. Ia bisa melihat kacamatanya buram karena uap sebelum kemudian dia melihat Jessica yang duduk di kursi plastik. Tubuh gadis itu sudah tertutup oleh handuk yang melingkari tubuhnya. Pemandangan itu membuat Nathan buru-buru memalingkan wajahnya dengan canggung.


"Kau bisa memasangnya?" tanya Nathan.

__ADS_1


"Sepertinya aku bisa," jawab Jessica ragu.


Ia mengambil perban dan salep di tangan Nathan dan menunduk untuk mulai mengoleskan obat. Nathan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal mencoba untuk bersikap biasa dengan pemandangan itu.


"Biar aku bantu." ujar Nathan tiba-tiba, setelah ia melihat betapa kesusahannya gadis itu karena ia juga harus memegangi handuk yang masih menempel padanya agar tak jatuh.


"Handuk ini, aku mendapatkannya dari lemari kaca. Aku melihatnya terlipat rapi di sana. Aku pikir itu masih baru jadi aku memakainya. Apa kau-"


"Tidak masalah." jawab Nathan saat dia kemudian membungkuk dan mengambil kembali perban dari tangan Jessica.


"Ini mungkin agak sakit, tapi usahakan tahan dan tetaplah diam," Nathan memberitahunya.


"Terima kasih," bisik Jessica dan Nathan mengangguk, sangat menyadari fakta bahwa dia memiliki seorang gadis telanj*ng di kamar mandinya. Sebenarnya bukan benar-benar telanj*ng, tapi... ah sudahlah.


'Apa yang akan ayahnya katakan jika dia melihat hal ini. Dia... hanya menggunakan handuk di kamar mandiku. Ah, aku tebak mungkin dia akan langsung menghabisiku. Bagaimana aku bisa terjebak dengan hal seperti ini.' Nathan memikirkan semua itu dalam hati sebelum kemudian dia menggelengkan kepalanya.


***

__ADS_1


__ADS_2