Belong To Me

Belong To Me
101 . Masih Terpaku Masa Lalu


__ADS_3

Hari itu cukup panas di luar , tapi dengan gagahnya dua pria tampan beda generasi tampak sedang mengawasi proyek pembangunan sebuah gedung . Bisma Dananjaya dan Satria Wiratama sedang turun langsung untuk melihat pengerjaan proyek mereka .


Harusnya Mike yang sekarang ada di posisi sang Daddy tapi tengah malam tadi dengan sangat menyebalkan ia mengirim pesan pada Bisma bahwa dia sedang mengerjakan Mega proyek untuk penerus Dananjaya . Sangat menyebalkan memang ! Tapi memang itu yang di inginkan Bisma dari awal pernikahan putranya . Mau tidak mau hari ini dia yang terjun langsung menemani Satria .


" Ada sedikit tanah tersisa di sisi utara gedung , Satria ingin tempat itu dibangun untuk taman bermain untuk anak anak nantinya . Bagaimana menurut uncle ? " tanya Satria yang masih berdiri bersisian dengan Bisma .


" As you wish ! Buat tempat itu senyaman mungkin " jawab Bisma manggut manggut .


" Bagaimana dengan Michael ? Apa dia baik baik saja ? "


" Uncle knows he should be standing here right now. He just had more important projects at the moment. Don't worry he's fine !( Paman tahu harusnya dia saat ini yang berdiri disini . Dia hanya sedang mempunyai proyek yang lebih penting sekarang . Jangan khawatir dia baik baik saja ) ! "


" Another important project ( proyek penting yang lain ) ?? " dahi Satria berkerut , setahunya Mike yang di daulat Bisma untuk menangani Mega proyek ini .


" Ckk .. jangan terlalu kau pikirkan tentang anak nakal itu . Besok dia akan disini , jika tidak uncle sendiri yang akan menyeretnya kemari "


Satria terkekeh mendengar jawaban yang terasa lucu baginya . Semenakutkan apapun Bisma tapi dia bisa melihat kasih sayangnya pada putra satu satunya tersebut . Mantan penguasa dunia bawah itu sampai sekarang masih mempunyai kharisma yang tak terbantahkan .


Setelah terjun langsung untuk melihat pengerjaan proyek mereka memutuskan untuk makan siang bersama di sebuah restoran sederhana yang tak jauh dari lokasi tersebut . Mereka memilih restoran itu karena untuk menghemat waktu .


" Uncle tak apa apa makan di tempat seperti ini ? " tanya Satria yang tahu gaya hidup orang sekelas Bisma .


Bisma hanya terkekeh mendengar pertanyaan Satria . Dia tahu semua orang pasti mengira dia mempunyai gaya hidup yang high class .


" Uncle sudah biasa makan di warteg dulu "


" It's impossible " sahut Satria sangsi .


" Your aunty ...she used to like eating at warteg the most when she was pregnant ( dulu dia paling suka makan di warteg ketika sedang hamil ) "


" Mau tak mau uncle harus menemaninya makan disana . Ternyata rasanya memang tak buruk , cuma sedikit pedas " imbuhnya sambil tersenyum mengingat masa masa ngidam istrinya yang sedikit merepotkannya . Tapi ia bahagia menjalani dan memenuhi semua ngidam sang istri yang kadang terbilang aneh . Pernah juga dia berkeliling Jakarta pada jam 11 malam hanya untuk mencari rujak serut .

__ADS_1


Setelah itu mereka menikmati makanan yang tadi mereka pesan . Soto Lamongan dan nasi pecel.menjadi menu mereka siang itu .


" Apa kau terganggu jika menantuku ikut menangani proyek ini ? " Bisma sedikit menekan kata menantu dalam kata katanya .


Satria hanya tersenyum dan meletakkan sendoknya karena dia memang sudah menyelesaikan makannya .


" Satria mencintainya ... sampai sekarangpun perasaan Satria masih sama . Tidak berkurang sedikitpun . Tidak apa apa kan jika Satria jujur ? "


Bisma menepuk pelan bahu kekar Satria , ia tahu pemuda di depannya itu mempunyai karakter yang kuat . Bisma sudah mengetahui kisah hidup Satria yang sejak kecil sudah di gembleng keras untuk menjadi penerus Wiratama .


" Tapi tak pernah terbersit keinginan di hati Satria untuk merebutnya kembali . Mika adalah milik Michael ... l know that . Jadi tak masalah jika uncle ingin melibatkan Mika "


" Kau akan berhadapan denganku jika berani menggoda menantuku "


" Surely your son will always follow her wherever she goes ( Pasti putramu akan selalu mengekornya kemanapun dia pergi ) " lanjut Satria tersenyum lebar .


Dan mereka tertawa bersama , Mike memang terlalu bucin pada istrinya dan mereka sangat tahu hal itu . Kadang Bisma pun masih belum percaya jika Mika sudah menjadi bagian dari keluarganya . Dia masih ingat betul dulu ia sempat menjauhkan gadis itu agar tidak terjangkau oleh putranya . Karena Bisma tahu hubungan Mika dengan putra Wiratama . Dan Tuhan menyatukan mereka dengan cara yang tidak terduga .


LONDON ...


Nita terus menatap suaminya yang dari tadi seperti sedang kehilangan sesuatu . Setelah menikah mereka pindah ke mansion Wiratama yang ada di London . Munir ingin Reyhan beserta anak anaknya kelak membangun rumah tangga di tempat itu .


" Apa yang sedang kau cari sayang , mungkin aku bisa membantumu " ujar Nita dengan lembut .


Hampir satu tahun menjadi istri Reyhan menjadikan ia sedikit demi sedikit paham dengan watak suaminya . Sebenarnya Reyhan adalah laki laki penyayang tapi kadang ia tidak bisa mengontrol emosinya . Jika sang suami sedang bad mood maka Nita hanya memilih diam .


Karena jika ia mencoba untuk berbicara malah membuat suasana Reyhan akan semakin buruk . Tapi dengan semua kesabarannya ia berhasil mengatasi semua watak Reyhan yang labil .


" Apa kau yang membereskan meja kerjaku ? "


" Ya aku sendiri yang membereskan , kenapa ? Apa ada berkas yang hilang ? "

__ADS_1


" Bukan berkas , tapi gelang .. apa kau menyimpannya ?! " tanya Reyhan dengan tatapan penuh intimidasi pada sang istri .


" Gelang ?? Tapi aku tidak melihatnya "


Nita tidak pernah melihat secara langsung gelang kesayangan suaminya itu . Tapi dia tahu suaminya amat sangat menjaga benda itu . Nita berpikir mungkin gelang itu adalah salah satu benda keluarga Wiratama yang harus di jaga . Mungkin benda itu mempunyai nilai histori tersendiri untuk keluarga itu .


" Panggil semua art di rumah ini ... sekarang !"


" Tapi ... "


" Sekarang !!!!!! "


Nita hanya bisa menghela nafasnya ,memang tidak mudah menghadapi suaminya . Apalagi jika sudah menyangkut gelang kesayangannya itu .Bahkan dia pun tak pernah berani membuka laci di meja kerja tempat Reyhan selalu menyimpan gelang itu .


Tak selang berapa lama semua maid ,supir bahkan tukang kebun berkumpul di ruang tamu yang memang cukup luas . Dulu mansion itu di dominasi warna hitam , putih dan abu dengan pernik kayu jati . Tapi setelah tinggal di tempat itu Nita sedikit mengubahnya , dia menambahkan pernak pernik barang dengan warna warna cerah hingga membuat mansion terlihat lebih berwarna .



" Apa ada di antara kalian yang melihat atau menemukan sepasang gelang ? " tanya Reyhan pada para art yang sudah berdiri di hadapannya .


Reyhan sendiri yang bertanya karena tak ada seorang pun yang tahu bentuk dari gelang yang ia maksud . Sedang Nita sedikit mengernyitkan dahinya , dia baru tahu kalau gelang itu berjumlah sepasang . Bukankah gelang pasangan biasanya dimiliki oleh sepasang kekasih begitu pikirnya . Tapi ia membuang jauh pikiran itu .


" Apa gelang kulit dengan inisial nama tuan ? Gelang itu tadi saya lihat di jok depan mobil Audi yang kemarin tuan pakai . Sengaja saya ambil karena saya sempat mendengar tuan Damon tadi bertanya tentang sebuah gelang " tanya seorang supir memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya di depan singa dengan raut muka masam itu . Damon adalah pria parubaya yang menjadi kepala pelayan di mansion itu .


Damon langsung meminta gelang dari supir itu dan menyerahkannya pada Nita yang kebetulan berdiri tak jauh darinya . Ia pikir sama saja jika ia serahkan baik kepada nyonya atau tuannya . Reyhan hanya mendengus kesal dan mengambil gelang yang ada di tangan istrinya .


" R ...... M ??? " lirihnya .


Nita yang sempat melihat dengan jelas kedua gelang itu tersentil dengan dia inisial yang ada di gelang itu .


" Apakah M di salah satu gelang itu adalah inisial untuk nama Mika ? " tanyanya dalam hati .

__ADS_1


__ADS_2