
" Kau tidak ingin menemuinya ? "
Munir bertanya kepada Satria yang saat ini berada diruang santai bersamanya . Mereka sedang menikmati secangkir teh malam itu . Tadi sore Satria tiba dengan jet pribadinya , berkali kali Lisa sudah memintanya pulang dengan alasan rindu padanya . Padahal Satria sudah menyediakan fasilitas untuk sang mama jika ingin menyusulnya ke Dubay tapi Lisa selalu menolak dengan alasan tidak bisa meninggalkan butik butiknya .
" Maksud Papa ? "
" Baby Mika "
" Ckk ... apa papa amnesia kalau putrimu itu sudah bertunangan dengan putra bungsumu "
" Jangan berlagak bodoh didepan papa , sejengkal pun kau tak pernah meninggalkan dia diluar pantauanmu ! Kau pikir papamu yang renta ini tidak tau sepak terjangmu ? Bahkan kau tempatkan beberapa orang di kampusnya hanya untuk mengawasinya . Dan kita sama sama tahu Mika sudah tidak punya hubungan dengan Reyhan "
Satria menggaruk tengkuknya dia tak menyangka papanya tahu semuanya , tapi dia juga tidak heran karena papanya punya cara tersendiri untuk mengetahui segala sepak terjangnya .
" Satria cuma melaksanakan amanat papa kan ? Dulu bukannya papa yang meminta Satria menjaganya ? "
" Dulu papa minta kamu menikahinya !! "
" Sudahlah pa , jika Satria menuruti keinginan papa pasti akan terjadi perang saudara "
Munir terkekeh mendengar kata kata putra sulungnya . Munir menghembuskan nafasnya kasar , satu putranya mencintai Mika dalam diam bahkan menjaganya sepenuh jiwanya . Dan Putra yang lain sudah mendapatkan Mika tapi malah menyia nyiakannya .
" Besok Satria akan langsung ke perusahaan , Satria akan memeriksa perkembangan perusahaan kita . Hahhh .. anak itu semoga cepat menyelesaikan pendidikannya ... " Satria berharap Reyhan bisa segera merampungkan pendidikannya di London .
" Dan kau akan melarikan diri lagi keluar negeri , begitu kan ? "
" Satria tidak pernah melarikan diri , usaha Satria memang ada disana "
" Cihh .. kau punya banyak tangan kanan yang mumpuni , kau tak perlu capek capek kesana kemari . Temani papa dan mamamu disini , segera buat cucu untuk kami !! "
" Satria lupa , ada video conference dengan staff di Brazil "
Satria segera beranjak dari duduknya , dia paling malas jika papanya sudah berbicara masalah cucu . Munir hanya menggeleng gelengkan kepalanya , dia heran dengan putra sulungnya . Semua yang ada pada dirinya sempurna tapi tak sekalipun dia dekat dengan seorang wanita .
Perusahaan Satria dalam beberapa bulan saja sudah berkembang sangat pesat , bahkan dia berhasil mengembangkan perusahaan sampai ke Brazil . Alhasil dia selalu mengundur jadwal pulangnya ke Jakarta dan itu membuat Lisa khawatir karena dia sangat tahu putranya adalah seorang workalholic .
Hampir satu tahun dia tidak pulang ke Jakarta , Satria bolak balik Dubay - Brasil untuk mengembangkan bisnisnya . Bahkan kini perusahaanya Satria Wiratama Corp jauh lebih besar dari perusahaan Wiratama Grup milik sang papa .
Pagi pagi sekali Satria berangkat menuju kantor Wiratama , dia tak sabar ingin melihat laporan kemajuan Wiratama Grup . Walaupun dia sudah memiliki perusahaan sendiri tapi Satria tetap memegang penuh kuasa sebagai seorang CEO Wiratama Grup . Dimas yang menjadi wakilnya ketika meeting dengan klien kliennya . Dimas juga rutin memberinya laporan tentang perusahaan milik ayahnya tersebut .
__ADS_1
Dimas menyambutnya ketika melihat bosnya telah kembali ke kantor itu .
" Tuan Satria selamat datang . Bagaimana kabar anda ? " sapa Dimas sambil melangkah mengikuti Satria menuju ruangannya .
" Ckk .. sudah kubilang berkali kali jangan sebut aku tuan . Panggil saja dengan nama ! Gatal kupingku mendengarmu menyebutku tuan " gerutu Satria pada salah satu sahabat yang menjadi orang yang paling ia percaya di perusahaan itu .
" Profesionalitas boss , masa dikantor panggil elo gue sih ! Kalau lagi diluar kita memang teman tapi kalau lagi kerja elo majikan gue "
" Terseraaahhh "
Satria tampak berhenti ketika sudah membuka handle pintu kantornya . Ruangan itu sudah berubah total dari yang semula dominan berwarna hitam sesuai warna kesukaannya , saat ini menjadi lebih cerah walaupun warna hitam masih diselipkan di ruang itu .
" Kenapa bos ? "
" Siapa yang sudah merubah ruanganku ? "
" Nyonya besar atas ijin tuan besar tentu saja . Memang bos tidak tahu ? "
" Kalau aku tahu aku tidak akan bertanya padamu . Ibu menggunakan jasa desain interior ? "
Satria perlahan melangkah ke dalam kantornya yang sudah berubah sedemikian rupa . Dia suka dengan gaya dan penataan ruangannya , tapi ada detil detil yang ia merasa harus diubah .
" Bisa kau hubungi orang yang mendesain ruanganku ? Panggil dia sekarang aku ingin bicara dengannya "
" Pagi ini dia memang ada jadwal kesini , sebentar lagi dia datang . Ruangan ini memang masih belum selesai , katanya sih ada detil yang belum dia kerjakan "
" Ya sudah , ada jadwal meeting hari ini ? "
" Sementara tidak karena aku tidak tahu bos akan datang hari ini . Mungkin besok akan mulai aku agendakan "
Satria segera duduk di kursi kebesarannya , sejenak mereka membahas tentang perusahaan yang ia tinggal sudah hampir satu tahun itu bersama sang sekretaris pribadinya .
TOK .. TOK
" Sepertinya dia sudah datang , aku akan ke ruang HRD ada hal yang harus di cek " pamit Dimas keluar dari ruangan dan dia membuka pintu ruangan itu . Terlihat gadis muda tersenyum padanya .
" Tumben kak Dimas di ruangan ini biasanya udah stay tune di sebelah "
__ADS_1
" Yang punya ruangan udah pulang , masuk gih kata bos ada yang mau dibicarain sama kamu . Kak Dimas tinggal dulu ya "
DEGGG ... DEEGGG
" Reyhan ? " batin Mika bertanya tanya karena setahunya Reyhan akan pulang sekitar satu tahun lagi .
Tapi betapa terkejutnya dia ketika melihat laki laki yang masih fokus dengan berkas berkas di depannya . Matanya tiba tiba berkaca kaca , dia sangat senang bisa bertemu lagi dengan pria itu .
" Assalamualaikum "
Begitupun Satria ia terlonjak ketika mendengar suara yang selama ini sangat ia rindukan itu . Sontak dia berdiri dan mendekat ke arah gadis yang juga sudah melangkah mendekatinya .
" Walaikumsalam " jawab Satria dengan senyum yang mengembang .
" Mas Satria kapan pulang kok engga ngasih tahu Mika "
Mika mengulurkan tangannya untuk salam takzim dengan laki laki di depannya . Satria sangat merindukan ini , hatinya menghangat ketika punggung tangannya menyentuh kening gadis itu . Hal yang rasanya sudah lama sekali tidak ia rasakan .
" Kemarin sore , kepulangan Mas juga mendadak . Mama terus saja minta aku segera pulang . Kasihan papa katanya mengurus perusahaan ini sendirian "
Mereka duduk di sofa berwarna putih yang ada di depan meja kerjanya .
" Kabar kamu baik kan ? Hebat udah bisa merancang ruangan sebagus ini padahal kamu belum kelar kuliahnya "
" Kabar Mika baik sih kalau engga keinget janji seseorang yang mau ngajak Mika liburan ke Dubay waktu itu . Mika cuma bantuin Mama Lisa kok , kata mama ruangan ini kaya ruang bawah tanah hitam semua . Mama juga kasih masukan kok , Mika kan belum paham tentang apa yang Mas Satria suka ataupun tidak suka "
Satria menghela napas mendengar gadis itu merajuk karena dia tidak mengajaknya ke Dubay saat liburan kelulusan Mika waktu itu .
" Masa iya Mas bawa kabur tunangan orang sih , bisa bonyok Mas nanti di pukuli hansip ! " canda Satria .
Satu tahun tidak bertemu ternyata gadis itu banyak berubah . Mika terlihat lebih dewasa dalam bersikap maupun dalam penampilannya . Dan sepertinya dia akan lebih dalam jatuh dalam pesona gadis itu .
" Masa kalah sama hansip sih Mas , kalau perlu Mika bantuin . Mika udah belajar taekwondo lho Mama Lisa yang suruh katanya biar Mika bisa menjaga diri Mika sendiri "
" Kalau hansip kampung sih Mas pantang mundur . Hansip kamu udah kaya singa gitu mana Mas berani "
Mika yang sudah bisa mencerna kata kata Satria akhirnya tertawa .
" Memang dari dulu Mika panggil dia singa kutub Mas ha .. ha .. ha "
__ADS_1
Satria bahagia melihat gadis di depannya tertawa begitu lepas . Satu tahun ini ternyata belum bisa memupuskan perasaannya pada gadis itu . Walaupun ia tahu tidak mungkin dia melangkah lebih jauh untuk mendapatkan hatinya .