
Satria terus menggenggam tangan mungil dari gadis yang dicintainya . Mereka ada di dalam mobil yang dikendarai Affan . Siang ini dia terbang ke Brasil karena ada hal yang harus ia tangani sendiri . Semalam ketika ia menelpon Mika sempat kaget , tapi gadis itu sepertinya mengerti jika dirinya memang tak bisa terus disampingnya saat ini .
Satria sangat paham jika Mika terpaksa mengerti dengan keadaannya , gadis itu pasti tidak ingin membuatnya khawatir jika memperlihatkan kesedihannya .
lngin sekali Mika berbicara , ia ingin mengatakan agar Satria bisa menjaga dirinya di sana . Agar laki laki itu bisa menjaga pola makan ataupun pola istirahatnya dengan benar . Tapi lidahnya kelu , matanya pun hanya menatap ke arah kaca jendela walau jemarinya tetap menyambut kehangatan tangan Satria .
Affan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan dua penumpang yang duduk di belakangnya . la ikut merasakan aura kebungkaman tersebut . Tapi ia melihat big boss nya masih terlihat santai dengan situasi ini .
Satria membawa tangan gadis yang ia bawa ke atas dada bidangnya . Mika terlonjak karena merasakan detak jantung Satria yang terasa bertalu talu . Dengan lembut ia kecup punggung tangan gadis yang masih menatapnya dengan diam .
" Massss ... malu ada Affan " cicit Mika mencoba menarik tangan mungilnya yang masih digenggam erat oleh Satria .
Satria terkekeh mendengar suara gadisnya yang sangat indah di telinganya . Ia suka jika mendengar suara Mika yang malu malu , sangat menggemaskan baginya .
" Affan bahkan tidak melihat kita saat ini , bukan begitu Fan ?! "
Tapi Affan tidak menjawab pertanyaan tuan mudanya , ia sibuk dengan besi bundarnya . Dia paham jika saat ini bos nya memintanya untuk menjadi bisu dan tuli .
" Kau lihat bahkan dia tidak bisa mendengarku "
" Ya Tuhan Mas !!!!!! "
Wajah Mika tampak panik kali ini , Satria ikut kaget melihat wajah gadisnya yang terlihat sangat khawatir .
" Kak Affan sakit !! Kenapa dibiarin menyetir ?!! "
Kesal bercampur geli jadi satu , tak habis pikir dengan pemikiran gadis itu . Tapi melihat Mika begitu mengkhawatirkan sang supir begitu membuatnya cemburu .
" Jangan mengkhawatirkan laki laki lain jika sedang bersamaku "
" Jangan bercanda Mas "
Satria menarik tubuh mungil Mika untuk lebih merapat ke tubuh kekarnya . digigitnya kecil daun telinga Mika hingga gadis itu menjerit tertahan . Dengan pipi yang merona Mika memukul dada Satria , yang tentu saja pukulan itu tidak berasa sama sekali baginya .
" Kau melihat atau mendengar kejadian barusan Fan ? " tanya Satria .
" Tidak ... dari tadi saya hanya fokus pada jalanan di depan saya tuan muda " jawab Affan , padahal hatinya sedang tak karuan karena melihat Satria yang tidak seperti biasanya .
Tuan mudanya hanya berubah jika berada didekat Mika , gadis yang dari dulu amat dicintai oleh laki.laki pendiam dengan sejuta wibawanya tersebut .
__ADS_1
" Kamu dengar kan , dia tidak mendengar ataupun melihat kita "
Mika masih terdiam tapi bibirnya mencebik kesal melihat tingkah dua laki laki dalam mobil itu . Satria tersenyum lebar , melihat gadisnya kesal sepertinya adalah salah satu hiburan tersendiri untuknya .
Tak berapa lama mereka sampai di bandara tempat Satria menempatkan pesawat pribadinya . Satria mengeratkan genggamannya pada tangan mungil gadisnya .
" Pulang sama Affan ya "
Mika mendongak ke arah wajah tampan yang sudah menatapnya teduh .
" Tapi Mika ingin nganter Mas ke dalem , masa Mika langsung pulang sih "
Affan sepertinya paham dengan situasi , ia keluar dari mobil untuk memberi waktu pada dua orang majikannya berbicara .
" Bukannya Mas ngga mau dianter sama Mika , tapi sepertinya akan berat jika Mas pergi dengan melihat kamu . Bisa bisa Mas malah peluk kamunterus . Mas usahakan untuk pulang secepatnya , jaga diri kamu baik baik
ya "
Satria membelai kepala gadis kesayangannya , direbahkan kepala Mika ke dalam pelukannya . Sekuat mungkin Mika menahan air matanya , ia tidak ingin terlihat lemah di mata laki laki yang dicintainya .
" He em "
Satria mencium keningnya cukup lama , keduanya tenggelam dalam rasa yang hanya mereka sendiri yang mengerti . Perlahan Satria melepaskan kecupannya pada kening gadisnya tanpa melepas kedua tangannya yang menangkup wajah gadisnya .
" Mas sayang sama Mika "
Dengan tangan bergetar diusapnya bibir yang pernah membuatnya gila itu dengan ibu jarinya . Sungguh ia ingin sekali lagi merasai manisnya , tapi ia tidak yakin bisa mengendalikan diri lagi seperti waktu itu . Bibir itu yang hampir menghilangkan akal sehatnya . Dia ingin merasainya kembali , tapi setelah Mika benar benar sudah menjadi miliknya .
Dengan mengumpulkan seluruh keberanian Mika mencoba membalas tatapan dari laki.laki di depannya .
" Mika juga sayang banget sama Mas Satria "
Mika menyembunyikan kembali wajahnya di dada bidang Satria , berkali kali pria itu mengecup puncak kepalanya .
" Mas pergi ya , l love you Qayreen Mikayla "
Setelah mengucapkannya Satria kemudian membuka pintu dan keluar dari mobil . Sebelumnya seperti biasa Mika sudah mencium punggung tangannya .
Affan segera menghampiri tuan mudanya yang sudah keluar dari mobil . Dia tahu akan ada beberapa perintah yang harus ia kerjakan .
__ADS_1
" Jaga Mika baik baik , lusa dia mulai kuliah . Kamu yang antar jemput dia "
" Baik tuan muda "
#
London ....
Disebuah apartemen sederhana tampak seorang gadis sedang mencari cari sesuatu . Dia sudah mencari bahkan di setiap sudut ruangan , tapi sepertinya usahanya sia sia . Nita sedang mencari liontin pemberian ibunya .
Selama ini liontin itu selalu ia pakai , tak sekalipun pernah ia tinggalkan . Baru kemarin ia menyadari bahwa kalung yang selalu menghiasi lehernya sudah tidak ada . Sejak kejadian yang terjadi di apartemen Reyhan dia menjadi tidak fokus dengan hidupnya . Kata kata Reyhan untuk menikahinya selalu saja terngiang ngiang .
Dengan tergesa ia mengambil kunci mobilnya , rencananya ia akan ke rumah salah satu sahabatnya karena mungkin kalungnya jatuh di sana . Ketika membuka pintu apartemen dia dikejutkan dengan laki laki yang sudah berdiri di depan pintunya .
" Reyhan ?? "
" Boleh aku masuk ? "
Nita tanpa sadar membuka pintunya lebar lebar , tanda ia tak keberatan dengan keberadaan Reyhan .
" Kau tidak takut padaku setelah kejadian waktu itu ? " ujar Reyhan sambil melangkah masuk ke apartemen Nita .
Memang tak semewah apartemen yang ia punya , tapi penataan apartemen Nita terlihat sangat rapi . Ada beberapa tanaman hias di sudut ruangan yang membuat suasana lebih segar .
" Takut ? Sepertinya jika kau sedang waras kau tidak semenakutkan yang aku bayangkan "
Nita mengikuti Reyhan yang sudah duduk di sofa , laki laki angkuh itu sudah membuat dirinya sendiri nyaman tanpa perintah dari tuan rumah . Bagi Nita laki laki iitu masih tetap menyebalkan walau tak ia pungkiri Reyhan tetap bisa menjerat hatinya karena pesonanya .
" Kau ingin mengajakku menikah lagi ? " tanya Nita sinis , sungguh wajah tampan Reyhan kembali membuat jantungnya berdebar keras .
" Apa kau mau ?! "
" Jika kau memaksa " jawab Nita asal .
Nita tahu Reyhan tak akan mungkin menikahinya , hati pria itu masih terikat pada satu nama . Dan itu bukan namanya . Nita tahu Reyhan masih cukup waras untuk melakukan hal hal gila .
" Ajukan cuti , lusa ikut aku ke lndonesia ! Kita menikah disana , didepan keluarga kita "
" Hahhhh !!! "
__ADS_1
.......