
" Kenapa Rey , gue lihat loe lagi ngga baik baik saja ! Muka loe kayak mau makan orang aja dari tadi gue lihat " tanya Arman pada Reyhan yang sedang menikmati batang rokok ditangannya sambil memandang nanar ke arah luar kafe tempat mereka nongkrong sore itu .
Ketiga temannya cuma mengedikkan bahunya , sejak datang ke kafe Reyhan sudah diam seribu bahasa dengan muka frustasi . Akhirnya mereka membiarkan Reyhan tenggelam dalam pikirannya sendiri . Mungkin dengan seperti itu muka frustasi itu bisa sedikit berkurang .
" Pembohong ... gue bales loe !! " gumam Reyhan pelan dengan suara yang tertahan , dia meremas rokok yang masih menyala yang berada ditangannya hingga hancur tak berbentuk .
Ketiga temannya yang masih bisa mendengar gumaman itu langsung menoleh , mereka kompak terkekeh .
" Helehhhh .. paling patah hati " ucap Arman asal tapi langsung mendapat tatapan sinis dari Reyhan .
" Anj*ng diem loe , atau gue simpel mulut loe pske ini " Reyhan memperlihatkan tangannya yang masih menggenggam remahan rokok .
" Ampuunnn bang jagooo ... "
Bukannya takut mereka malah tertawa terbahak bahak . Reyhan langsung melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu , hati dan pikirannya memang sedang kacau saat ini .
#
Pagi itu Mika datang ke sekolah dengan senyum selalu merekah di bibirnya . Entah kenapa dia merasa sangat bahagia setelah mendapat kado dari Satria .
BRUGGHHH ..
Lagi lagi ada seseorang menabraknya dari arah belakang . Bahu kokoh itu seperti sengaja menabrak bahu kanannya hingga ia jatuh tersungkur . Dan si penabrak tanpa meminta maaf terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun .
Mika menatap heran sang penabrak , ia hampir tak percaya dengan penglihatannya sendiri .
" Rey ... "
__ADS_1
Kemudian ia berusaha berdiri dan memegang lututnya yang lumayan sakit karena terbentur lantai . Niat awal ia ingin memanggil dan mengejar Reyhan yang tadi menabrak bahunya dengan keras . Tapi karena sebentar lagi bel masuk pelajaran maka dia mengurungkan niatnya itu .
Sudah dua hari Mika merasa Reyhan sangat berbeda , sejak menabrak bahunya waktu itu Reyhan seakan tidak pernah mengenalnya . Bahkan Mika merasa ada tatapan kebencian dalam mata laki laki itu . Kadang ia ingin sekali menemui dan bertanya langsung pada Reyhan , tapi setiap kali juga Reyhan selalu berusaha menghindar darinya .
Siang itu sebelum bel pulang sekolah Mika mendapat pesan dari nomor yang sangat ia kenal .
" Paman jemput didepan "
Mika buru buru menuju gerbang sekolah ketika bel sudah berbunyi , ia tidak ingin sang paman menunggunya terlalu lama . Terlihat supir sudah berdiri disamping mobil velvire putih , dan ketika melihat Mika sang supir langsung menunduk hormat dan membuka pintu untuk nya .
" Assalamualaikum .. " Mika salam takzim kepada Munir yang sudah duduk di kursi penumpang .
" Walaikumsalam .. maaf paman tiba tiba kesini . Paman cuma ingin ajak Mika mengantar Satria . Siang ini Satria berangkat ke Dubay . Paman tadi juga sudah ijin sama ayahmu "
" lya Paman " Mika segera duduk disamping Munir , sebenarnya perasaannya campur aduk saat ini . Senang karena bisa bertemu dan mengantar Satria , tapi juga sedih karena dengan perginya laki laki itu maka dipastikan ia tidak bisa bertemu lagi dalam waktu yang lama .
Reyhan ? Mika terkejut sendiri kenapa tiba tiba bisa teringat laki laki yang sekarang sudah berubah seribu derajat itu . Mika sangat tahu ada kebencian di dalam tatapan Reyhan akhir akhir ini .
Ada sebersit keinginan untuk bertemu dan bertanya tentang perubahan sikapnya , tapi dengan emosi yang terlihat di mata laki laki itu Mika akhirnya memutuskan untuk membiarkan terlebih dahulu . Mika ingin berbicara ketika suasana hati Reyhan sedang baik .
Sementara itu Reyhan yang berada dalam mobil sportnya memukul stir dengan keras , dia melihat Mika memasuki mobil yang sangat ia tahu bahwa mobil itu adalah milik papanya .
Tadi dia cepat cepat pulang karena mendapat pesan dari Tante Tya yang memintanya untuk datang ke rumah sakit . Tidak biasanya sang Tante memintanya datang kesana , Reyhan khawatir mungkin terjadi sesuatu dengan mamanya .
Sejenak ia memandang layar ponselnya , tadi Munir juga mengirim pesan padanya . Papanya mengajak untuk mengantar Satria ke bandara , dan sekalian ingin mengenalkannya pada seseorang .
Reyhan mengepalkan tangannnya , apakah seseorang itu adalah Mika ? Apakah papanya ingin memberitahukan hubungan spesial yang terjalin antara mereka padanya ? Menjijikkan , Reyhan tak menyangka Mika sudah sejauh itu menjerat papanya .
__ADS_1
Teringat pesan dari sang Tante Reyhan segera melesatkan kuda besinya menuju rumah sakit .
Sampai disana Reyhan langsung menuju ruangan sang Tante , ia tak peduli dengan banyaknya pasien di ruangan itu yang sedang mengantri . Sejak tadi dia menghubungi mamanya tapi tidak diangkat dan hal itu menambah kepanikannya .
" Tannnn ... !!! " teriaknya
" Walaikumsalammmm .... " jawab Tya bernada menyindir karena Reyhan yang datang dengan berteriak teriak membuat semua pasien terkejut .
" Mama mana Tan ... !!!! "
" Ya Tuhan anak ini benar benar ... " Tya gemas dengan tingkah Reyhan yang bahkan tidak peduli dengan pasien pasiennya . Jika bukan putra dari pemilik rumah sakit ini sekaligus keponakannya Tya pasti sudah memanggil satpam untuk mengusirnya .
Tya memandang Reyhan dengan satu jarinya terangkat di depan seakan menyuruh laki laki muda itu untuk tenang . Setelah selesai memeriksa salah satu pasiennya Tya segera menghampiri Reyhan .
" Mamamu istirahat di atas , tadi Tante sempat periksa tekanan darahnya sangat rendah . Tapi dia baik baik saja . Tante telpon kamu biar bisa nemenin di atas "
Setelah mendengar Tantenya bicara panjang lebar Reyhan segera menuju lantai teratas yang merupakan kantor sekaligus ruang pribadi mamanya jika sedang berada di rumah sakit ini .
Hatinya merasa sedikit bersalah pada sang mama karena akhir akhir ini memang Reyhan selalu keluar bersama teman temannya dan selalu pulang larut .
Biasanya sesibuk apapun dia dan mamanya pasti meluangkan waktu untuk makan malam bersama . Lisa selalu berusaha meluangkan waktunya untuk memasak sendiri makan malamnya . Dia ingin Reyhan tetap merasakan kasih sayangnya walau seharian mereka jarang sekali bertemu .
Selain mempunyai rumah sakit Lisa juga mempunyai bisnis kosmetik dan beberapa salon kecantikan kulit . Sudah sejak sebelum menikah ia sudah hidup mandiri , walaupun dulu suaminya seorang pengusaha tak menjadikannya diam berpangku tangan . Dibantu Munir ia mulai merintis bisnis kecil kecilan sampai bisnisnya menjadi besar seperti sekarang .
Tadi dia sempat ingin ke bandara karena putra sulungnya Satria akan ke luar negeri . Tapi sebelum berangkat tiba tiba kepalanya terasa pusing dan entah bagaimana ia sudah sampai di rumah sakit dengan sang adik sudah disampingnya .
Pelan pelan Reyhan membuka pintu ruangan pribadi yang ada di dalam kantor mamanya .
__ADS_1
" Mahh ... Mamahhh "