Belong To Me

Belong To Me
19 . Bungsu


__ADS_3

" Belum menyerah juga ternyata ... " Satria hanya menggelengkan kepala ketika mendengar cerita Mika . Gadis itu bercerita tentang Munir yang menjemputnya di sekolah sampai mengantarnya sampai di sini , di bandara . Dan ketika sampai pamannya itu malah pamit pergi dengan alasan ada meeting mendadak yang Satria yakini itu adalah alasan yang sengaja dibuat papanya agar Mika bisa mengantar Satria sebelum pergi .


Sampai sekarang ternyata papanya masih sangat berharap dirinya bisa dekat dengan Mika . Satria melihat Mika yang tampak kikuk , dia tahu gadis itu pasti sedang bingung . Satria mengelus pucuk kepalanya .


" Heii .. Mas berangkat ya . Sebentar lagi kamu ujian belajar yang rajin . Jaga paman dan bibi , nanti pulang sama Affan ( supir sekaligus bodyguard Satria ) ya . Tadi Papa mau kirim supirnya lagi kesini tapi aku larang . Kasihan kalau harus bolak balik "


" lya .. "


Satria terkekeh mendengar jawaban singkat dari mulut mungil itu . Gadis itu masih menunduk sambil meremas kedua tangannya . Mereka sudah berada didepan sebuah pesawat yang Mika yakini itu adalah sebuah jet pribadi milik Satria .


Melihat gadis itu masih menunduk Satria menjadi enggan melangkah .


" Besok kalau udah libur mau Mas ajak ke Dubay ? " tanya Satria sambil menyentuh rambut hitam itu .


" Mauuuu ... " cicit Mika tetap dengan kepala masih menunduk .


Perlahan Satria mengecup puncak kepalanya , saat ini dunia Mika seperti sedang berhenti . Jantung Mika seperti berhenti memompa aliran darahnya , nafas hangat Satria yang menyapu keningnya mampu mematikan semua syaraf yang ada di tubuh Mika .


" Senyum dong ... "


Mika menarik sudut bibirnya , memaksakan diri untuk tersenyum ketika melihat laki laki yang telah menyentuh hatinya itu melangkah masuk ke pesawat . Sebelum masuk Satria sempat melambaikan tangannya dan dibalas senyuman oleh Mika .


#


" Ma .. mama .. "


Reyhan perlahan menghampiri Lisa yang sedang berbaring dikasurnya . Lisa menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namanya .


" Kukira kau sudah tak ingat pada Mama "


" Maaaaaa ... " Reyhan seakan tak terima dengan tuduhan itu . la duduk dipinggir kasur dan menyentuh kening sang mama dengan punggung tangannya .


" Mama baik baik saja , mungkin cuma kecapean " kata Lisa seakan tahu bahwa putranya sedang memastikan kondisinya .

__ADS_1


" Tadi Papa dan kakakmu telpon mama , mereka menunggumu di bandara "


Mendengar papanya disebut raut muka Reyhan seketika menjadi gelap , ia kembali teringat pada affair yang dilakukan Mika dan papanya .


" Kenapa sayang ? Kalian bertengkar lagi ? "


Reyhan menggeleng , ia melangkah menuju kulkas kecil yang ada di ruangan itu . Diambilnya sebotol air mineral dan langsung ditenggak sampai habis .


Lisa menghela nafas panjang . Dari dulu Reyhan memang sedikit tidak cocok dengan papanya . Munir selalu melihat Reyhan di bawah bayang bayang putra sulungnya Satria . Munir menyerahkan tampu seluruh perusahaan pada putra sulungnya tersebut .


Lisa tahu mantan suaminya sangat menyayangi kedua putra mereka . Mungkin karena usia Reyhan yang masih sangat muda membuat sang mantan suami saat ini menyerahkan semua tanggung jawab pada putra sulung mereka . Tapi putra bungsunya selalu menganggap hal ini sebagai sebuah ' pilih kasih ' .


Mulanya Lisa berharap.lambat tahun Reyhan mengerti dengan sendirinya . Tapi semakin lama Reyhan semakin menunjukkan ketidaksukaannya pada sang papa . Lisa merasa ikut andil dalam hal ini . Seharusnya dari awal ia bisa mengarahkan putra bungsunya itu agar bisa berpikir dewasa , tapi karena kesibukannya ia jadi mengabaikan hal itu .


Reyhan sadar dirinya tidak sesempurna kakaknya . la akui Satria lebih segalanya dibandingkan dia . Satria sosok yang cerdas , sabar , penyayang dan penuh tanggung jawab . Tapi Reyhan juga selalu berusaha menjadi yang terbaik dimata papanya .


Nilai sekolahnya selalu di atas rata rata , dengan modal patungan ia mendirikan sebuah kafe kecil dengan temannya . Bisa saja ia langsung membuat yang lebih besar dengan modal orang tua , tapi tidak ia lakukan karena ia ingin merasakan usaha yang dimulai dari angka nol . Dari hasil keringatnya sendiri .


" Rey punya usaha sendiri Ma , Rey ingin memulai semua atas usaha sendiri "


" Ayolah , sekali sekali mengalah pada papa . Dia punya harapan besar padamu Rey , jangan kecewakan dia . Kau juga tahu kakakmu punya harapan besar padamu "


" Jangan bahas tentang ini Ma , yang penting sekarang mama istirahat . Rey tidak mau melihat Mama sakit "


CEKLEKKKK ...


Pintu kamar tiba tiba terbuka , tampak seorang laki laki dengan masih menggunakan setelan jas dengan dokter Tya berada di belakang laki laki itu .


" Papa .. "


" Mas .... "


Munir melangkah memasuki kamar tersebut dengan wajah yang terlihat sekali sangat khawatir . Tadi ketika mengetahui Lisa tidak mengantar putra mereka Munir mencoba berkali kali menelpon sang mantan istri . Tapi ternyata ponsel Lisa tidak aktif . Akhirnya dia menelpon Tya untuk menanyakan keberadaan Lisa . Dan betapa terkejutnya dia setelah mendengar bahwa mantan istrinya itu sempat jatuh pingsan .

__ADS_1


" Kau tak apa apa ? Tadi Tya bilang tekanan darahmu sangat rendah " Munir mendekati sang mantan istri dan duduk pinggir ranjang .


" Tya berlebihan Mas , aku cuma kecapean "


" Selalu begitu ! Jangan selalu menyepelekan kondisi kesehatanmu . Apa anak nakal itu tidak menjagamu ? " kita Munir dengan mata tertuju pada Reyhan yang berdiri dipinggir ranjang .


" Masssss ... "


Reyhan terdiam , ia sudah terbiasa mendengar kata kata sinis papanya .


" Dia persis sepertimu , selalu mengomel jika itu menyangkut kesehatanku . Reyhan menjagaku dengan sangat baik " Lisa meraih tangan putra bungsunya dan menciumnya .


" Kondisi mba Lisa secara keseluruhan baik Mas , cuma mungkin untuk beberapa hari ini dia kurang istirahat . Mungkin dia terlalu fokus pada laporan akhir bulan rumah sakit dan beberapa butik yang baru dia buka " Tya akhirnya membuka suaranya .


Walaupun cuma berstatus mantan adik ipar Tya sangat menghormati Munir . Pria itu sangat menjaga dan melindungi mereka semua layaknya keluarga sendiri . Bahkan Rendy pun sudah Munir anggap sebagai putranya sendiri .


Kadang Tya berharap kakaknya bisa bersama kembali pria yang sangat ia hormati itu .


" Kenapa tidak kau serahkan saja pada akuntan kepercayaanmu ? Apa perlu aku sendiri yang membantumu ? Tidak bisakah kau dirumah saja ? Aku yang akan mengurus semua "


" Mas sudahlah , bukankah kita sering membahas hal ini ? Kau tahu jawabannya "


Munir mendengus mendengar jawaban mantan istrinya , ternyata Lisa masih sama keras kepalanya seperti dulu . Dari dulu Lisa memang tidak mau merepotkannya dalam urusan apapun . Itu yang membuat mereka menjadi jauh .


Munir ingin istrinya bersandar penuh padanya , ia merasa membantu sang istri membangun bisnisnya hingga menjadi besar seperti saat ini adalah kesalahan terbesarnya . Hal itu menjadikan Lisa menjadi lebih mandiri , tidak mau bergantung padanya .


" Baiklah .. "


Munir bangkit dari duduknya , sebelum melangkah keluar ia berkata pada Reyhan yang sudah duduk di sofa sejak melihat sang papa mengintrogasi mamanya .


" Mulai besok pulang sekolah kamu ke kantor Papa , belajarlah menjadi seperti kakakmu "


Reyhan hanya diam menanggapi perkataan papanya .

__ADS_1


__ADS_2