
" Mikaaa ...banguunn sayang !! "
Bu Retno tampak menggedor pintu kamar Mika , sontak Mika yang masih terlelap langsung terlonjak kaget . Tak biasa biasanya ibunya sampai kelabakan pagi pagi buta seperti ini .
" Hoaammmm ... ya Bu " Mika dengan masih mengucek matanya tampak mendekati ibunya .
Dilihatnya sang ibu sedang sangat sibuk di dapur .
" Mika bangun sayang , bantuin ibu ! Hari ini kita bikin lontong opor untuk Paman Munir , kan Ayah tadi malam bilang pamanmu itu makan siang disini "
" Emang Ayah bilang begitu ya ? Mika engga inget he .. he . Kalau gitu Mika bikinin Paman puding coklat aja . Nanti Mika juga goreng emping buat nemenin opornya "
Hadi tersenyum melihat betapa semangatnya dua perempuan cantik itu menyiapkan semua untuk acara makan siangnya dengan sahabat yang telah menolongnya selama mereka selama ini .
Akhirnya waktu makan siang telah tiba , Mika dan ibunya sudah menata meja sedemikian rupa . Mereka berharap tamu mereka suka dengan apa yang telah dari pagi mereka siapkan .
Sebuah mobil Velvire berwarna putih yang mereka ketahui milik sang tamu terlihat sudah terparkir di halaman rumah mereka .
Hadi dan keluarganya segera menyambut kedatangan tamu mereka . Mika sedikit terkejut ketika melihat seorang pria muda yang sangat tampan berjalan disamping Munir . Pria itu dia kenal sebagai guru matematika pengganti di sekolahnya .
Sudah beberapa kali pria itu mengisi pelajaran matematika di kelasnya tapi dikarenakan guru aslinya sudah berangkat dari cuti akhirnya Mika tidak pernah melihat lagi pria itu .
Dengan takzimnya sang pria mencium tangan kedua orang tuanya , terlihat pria itu sangat sopan dan ramah .
" Siang Mika ... " Satria menyapa gadis itu dengan ramah , mata bulat itu terlihat sangat lucu karena melihatnya dengan sedikit kebingungan . Satria tahu pasti Mika sedikit kaget karena gadis itu mengenalnya sebagai salah satu guru disekolahnya .
Saat ini mereka sedang duduk sambil berbincang diruang tamu . Ketiga pria itu terlihat sedang membicarakan sesuatu , Satria juga terlihat sudah akrab dengan Hadinata . Mereka menoleh bersamaan ketika Mika memasuki ruang tamu .
" Mika sini duduk dekat dengan Paman , kalian sudah saling mengenal bukan ? " Munir menoleh ke arah Satria saat meminta Mika untuk duduk disebelahnya . Tapi Mika masih terlihat segan karena keberadaan ' pak guru ' ditengah tengah mereka . Dia berjalan mendekati ayahnya yang duduk berhadapan dengan sang paman dan duduk disampingnya .
" lni putra paman , Satria namanya "
" lya Paman , hai Pak Satria ! Maaf tadi didepan Mika udah ngga sopan sama Bapak " ujar Mika sambil menunduk .
" Hai juga Mika , kok bapak sih panggilnya ? Aku udah keliatan tua ya "
" Trus Mika harus panggil apa ? "
__ADS_1
" Ya terserah Mika "
Hadi dan Munir terlihat tersenyum melihat interaksi putra putri mereka . Sampai akhirnya Retno sendiri yang meminta mereka untuk segera keruang makan baru mereka beranjak dari ruang tamu .
Makan siang mereka lalui dengan penuh kehangatan , menu yang sederhana menjadi menu yang luar biasa karena sudah lama Munir maupun Satria merasakan kehangatan ditengah keluarga seperti ini .
Setelah selesai Mika membantu ibunya membereskan dapur , sedang ketiga pria kembali keruang tamu .
" Kapan Mas Hadi pindah dari sini ? Sebaiknya secepatnya , rumah baru punya akses yang lebih dekat dengan bengkel ataupun sekolah Baby Mika "
" Setelah ulang tahun Mika , setelah kau sendiri yang menyerahkan rumah itu padanya "
" Kapan ulang tahun Mika ? " tanya Satria .
" Sekitar dua minggu lagi nak , paman rasa papamu selalu berlebihan ketika memberi kami sesuatu . Kasih sayang papamu pada Mika bisa bisa menjadikan anak itu lebih manja " ucap Hadi sambil menatap Munir yang saat ini sedang terkekeh .
" Dia juga putriku Mas , haruskah kuingatkan itu berkali kali ? "
" Dari yang Satria lihat Mika bukan gadis manja Paman . Mika pintar , rendah hati dan sangat polos tapi karena hal itu Mika mudah mendapat teman disekolahnya "
" Memang apa yang kurang Pa ? "
" C A N T I K ... Baby Mika sangat cantik . Bukan begitu putraku ? " Munir menekan kata putraku hingga membuat Satria salah tingkah . Dia berpura pura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal .
" Papa tidak lucu "
Hadi dan Munir terbahak melihat Satria dengan wajah bersemu dan terlihat salah tingkah . Hati Munir sungguh bahagia , sepertinya putranya menyukai putri sahabatnya itu . Berarti rencananya untuk menjadikan Mika sebagai bagian dari keluarganya tidak lama lagi akan terwujud .
Dari arah dapur terlihat Mika membawa sesuatu ,
" Tadi Mika bikinin puding coklat , Paman suka kan ? "
" ltu makanan kesukaan Satria dari kecil , dulu mamanya sering membuatkan puding coklat untuk dia "
" O iya kok Tante ngga ikut Paman ? "
" Mikaaa !!! " Hadi menegur putrinya , ia merasa tidak enak dengan putrinya yang menanyakan hal yang pribadi pada sahabatnya .
__ADS_1
" Maaf " Mika tertunduk mendengar teguran ayahnya ia menjadi tidak enak dengan kedua tamu yang berada didepannya . Mika merutuki mulutnya yang kadang suka seenaknya bicara tanpa melihat situasi .
" Heiii jangan marahi dia Mas , wajar jika dia bertanya hal itu . Satria ajak Mika kedepan sebentar , Papa ingin berbicara dengan Paman Hadi sebentar "
Akhirnya Mika dan Satria meninggalkan kedua dewasa itu menuju ruang depan . Mereka duduk bersebelahan disebuah dipan sederhana yang terdapat di teras rumah itu .
" Pak ... eh Mas Satria mau Mika ambilin Puding lagi ? " Dengan masih kikuk Mika menawarkan puding buatannya pada pria tampan di depannya .
Satria tersenyum mendengar panggilan baru untuknya dari gadis cantik di depannya .
" Terima kasih Mika , tapi aku udah kenyang banget . Masakan kamu dan bibi amat sangat enak . Sepertinya pulang dari sini berat badanku bakal langsung naik lima kilo "
" Masa sih Mas "
Dahi Mika yang berkerut dengan ekspresi yang susah digambarkan membuat Satria tergelak .
Tiba tiba Mika meraih tangan Satria dan membawanya menuju kebun di belakang rumah .
Satria tersenyum penuh arti ketika melihat tangan mungil itu menggandeng tangannya dan berjalan dengan sedikit terburu buru . Tapi Satria diam tetap mengikuti gadis itu .
" Mas tunggu sini ya , Mika ke atas sebentar . Tuh mau ambil mangga "
" Maksudnya kamu mau manjat pohon ini ? "
" lyalah .. masa Mika naik helikopter buat keatas . Segitu doang mah kecil . Dikampung Mika pernah naik pohon jambu yang tingginya seatap rumah " dagunya menunjuk pada rumah yang mereka tinggali .
" Masa sih .. "
" Ckk ngga percaya , cuma setelahnya di marahin sama ayah . Soalnya Mika ngga bisa turun "
" Ha .. ha .. ha " Satria tertawa sampai memegangi perutnya . Dia benar benar tak habis pikir dengan gadis didepannya .
Jika gadis lain mati matian mengejar dan membuatnya terpesona dengan lekuk tubuh yang terbalut barang barang branded , tapi gadis didepannya ini punya pesona lain yang membuat hatinya menghangat .
Munir yang mendengar tawa putranya tersenyum lebar dan menepuk bahu sahabatnya .
" Sepertinya sebentar lagi kita jadi besan Mas "
__ADS_1