
Seorang laki laki parubaya tampak turun dari sebuah bis antar kota bersama seorang wanita muda . Mereka membawa dua tas besar yang entah apa isinya .
" Ayah yang angkat tas tas ini , tanganku bisa lecet dan pegel kalau bawa berat berat ! " kata gadis muda itu kepada lelaki yang ternyata adalah ayahnya .
" Cerewet sekali kau , kau pikir ayahmu ini seorang kuli hahh !! Kau bawa sendiri tasmu kalau tidak mau ya tinggal aja disini tasnya " tukas lelaki parubaya itu tak kalah sinis dan segera melangkah untuk mencari taksi .
Dengan memberengut gadis itu akhirnya menyeret tas besar itu menyusul sang ayah yang sudah berjalan didepannya . Tak lama akhirnya mereka menemukan taksi , mereka segera memberi alamat tujuan mereka pada sang supir karena ini pertama kalinya mereka datang ke ibukota .
Tak berapa lama taksi sampai ke sebuah rumah kontrakan sederhana . Seorang laki laki muda menyambut mereka dengan penuh suka cita .
" Kakak kami datang !! "
Gadis muda itu berlari untuk memeluk pemuda yang ia sebut sebagai kakaknya tersebut . Setelah membayar dan mengeluarksn semua barang akhirnya mereka masuk ke dalam rumah sederhana itu .
" Bagaimana kabar ayah ? "
" Tidak begitu baik sebelum aku menemukan pamanmu itu . Aku tak akan membiarkannya pergi dengan mudah " jawab laki laki parubaya itu sambil merebahkan dirinya dikursi sederhana yang berada di ruang tamu .
" Sudahlah yah ! Kita sudah bikin mereka menderita selama ini "
" Menderita ? Kau tahu setelah pindah kesini hidup mereka itu enak enakan ! Ada tetangga kita yang pernah melihat pamanmu sekarang punya bengkel mobil yang besar " kata laki.laki parubaya yang ternyata adalah saudara dari Hadinata , bernama Kusman .
Mereka adalah saudara sepupu , ayah mereka kakak beradik . Tapi dari dulu Kusman memiliki sifat tamak ia tidak suka jika melihat keluarga Hadinata senang . Hingga Kusman tega menipu dengan mengambil rumah beserta sepetak sawah milik keluarga Hadinata .
Burhan hanya bisa menggeleng gelengkan kepala melihat ayahnya yang tidak pernah berubah , sepeninggal ibunya memang ayahnya tambah membenci keluarga sepupunya itu . Burhan tak bisa menolak keinginan ayahnya yang ingin menyusulnya tinggal di Jakarta , biar bagaimana pun ayah dan adiknya adalah keluarga yang masih dia punya .
__ADS_1
" Kak Burhan bener kan mau kuliahin Vera disini , Vera ngga mau kalah sama anak udik itu . Kabarnya dia udah daftar kuliah di universitas bagus di sini " kata Vera pada kakaknya yang masih duduk diruang tamu bersama ayahnya .
" Mika anak pintar , tentu saja dia bisa dapat universitas yang bagus "
" Kok malah kakak puji dia sih !! "
" Kakakmu memang begitu , selalu membela mereka . Biarkan saja " sinis Kusman pada putra sulung yang dari dulu sangat menghormati laki laki yang ia benci yaitu sepupunya sendiri , Hadinata .
Setelah lelah mengobrol akhirnya Kusman dan Vera beristirahat . Kusman berada satu kamar dengan Burhan sedang Vera menempati kamar yang lebih kecil yang terletak di sebelah kamar Burhan .
Burhan yang masih berada diruang tamu mengusap kasar wajahnya . Selama bekerja di Jakarta dia sengaja tidak menghubungi atau menemui pamannya . Dia terlalu malu dengan ayahnya yang sudah tega menipu sang paman .
Walau mungkin Hadinata tidak menyimpan kebencian pada mereka , tapi Burhan tidak ingin jika ayahnya tahu dia masih berhubungan baik dengan pamannya , hal itu malah digunakan untuk melancarkan rencana ayahnya yang selalu ingin menghancurkan keluarga Hadi .
Dia berharap ayahnya mengurungkan niatnya untuk merongrong keluarga Hadinata lagi . Ia ingin hidup tenang walau harus selamanya menjadi tulang punggung ayah dan adiknya .
#
Sementara itu Munir yang telah menjelaskan maksud kedatangannya membuat Hadi dan Retno terkejut . Mereka sangat kaget ketika mendengar Munir ingin melamar Mika untuk putra bungsunya .
" Maaf jika hal ini membuat kalian terkejut dan tidak nyaman " Munir mengatakan hal itu dengan menunduk tapi ia lega setidaknya sudah mengatakan semua maksud kedatangannya pada pasutri itu .
" Tapi mereka masih terlalu muda , jika Satria yang melamar mungkin masih bisa kami pertimbangkan . Karena anak itu sudah cukup dewasa untuk membimbing Mika kedepannya . Tapi nak Reyhan sepertinya masih di usia yang labil sama seperti Mika . Bagaimana dua remaja yang masih labil bisa membangun rumah tangga ? " tanpa basa basi Retno mengeluarkan isi hatinya .
Hadi memegang tangan istrinya dengan lembut , walaupun kata kata istrinya sejalan dengan kata hatinya tapi ia merasa tidak enak dengan orang yang sudah ia anggap saudaranya sendiri itu .
__ADS_1
" Tidak apa apa Mas , mbak Retno memang benar . Dari awal juga Satria yang ingin kujodohkan dengan Mika . Tapi ternyata Reyhan dan Mika punya hubungan khusus . Aku tidak bisa memaksa . Jika Mas Hadi dan Mba Retno tidak mengijinkan maka akupun tidak akan memaksakan "
Munir menghembuskan nafasnya dalam dalam seakan membuang semua beban yang saat ini berada di hatinya .
" Aku menyukai kedua putramu , mereka semua sangat baik dan menghormati kami . Kami tidak menolak lamaranmu . Tapi jika untuk langsung menuju ke jenjang pernikahan kurasa itu terlalu cepat . Kita juga belum tau tanggapan Mika tentang hal ini . Aku juga sangat paham maksud Reyhan ingin cepat cepat menikahi Mika , putramu hanya ingin memastikan kenyamanan dan keamanan untuk putriku "
" Kurasa Mas Hadi benar , sebaiknya kita tanyakan langsung pada Mika . Sebaiknya aku yang menyampaikan maksud Mas Munir , mungkin karena kami sesama wanita lebih mudah untuk bicara . Mika bisa lebih jujur dengan hatinya " kata Retno mencoba mencari jalan tengah .
Kedua laki laki itu hanya menganggukkan kepalanya . Tidak lama kemudian Munir pamit untuk pulang dengan alasan ada pekerjaan yang harus dia selesaikan . Membicarakan hal sensitif semacam ini membuatnya sedikit canggung pada dewa penolongnya itu .
Dalam hati dia merutuki putra bungsunya yang selalu membuat permintaan diluar nalarnya . Saat ini saja putra bungsunya sudah menelponnya puluhan kali , tapi sengaja tidak ia angkat karena malas menjawab cecaran pertanyaan yang pasti akan membuatnya pusing .
Benar saja , Reyhan sudah menunggunya di pintu masuk mansionnya . Munir yang melihat putranya dari dalam mobil hanya bisa memijat pelipisnya . Anak itu terlihat sangat antusias dengan kedatangan papanya .
" Pahh ... gimana Mika mau kan ?? Reyhan jadi nikah kapan Pah !! "
Belum sampai Munir turun dari mobilnya Reyhan sudah mencecar dirinya dengan berbagai pertanyaan .
" Walaikum salam putraku yang baik , bisakah aku masuk rumahku dulu dan meminum secangkir air hangat untuk sekedar menghilangkan hausku ? " geram Munir yang gemas dengan tingkah putranya itu . Dia melangkah masuk ke mansionnya tanpa menggubris Reyhan yang masih saja mengikutinya dari belakang .
Ketika sudah masuk mansion pun putranya kembali mengagetkannya .
" Thomaaass !! Segera buat teh hangat untuk papa , apa kau tidak bisa melihat papa kehausan !!" teriak Reyhan kepada kepala pelayan yang tadi menyambut mereka di depan pintu masuk mansion .
" Ya Tuhaaann ... " batin Munir , bukannya tanggap atas sindirannya yang tak mengucap salam ketika bertemu sang papa . Putra bungsunya malah berteriak teriak kepada kepala pelayan untuk membuatkan minuman . Padahal yang ia butuhkan saat ini hanya ketenangan . Entah kenapa suara suara Reyhan tiba tiba membuatnya pusing .
__ADS_1