
Siang itu Mika menyusul baby A yang tadi pagi dibawa Lisa ke mansion Wiratama . Hari ini adalah hari pertama Baby A menginjakkan kakinya di mansion itu . Tak terasa usianya sudah dua tahun sekarang .
Mike tidak bisa menemaninya karena masih banyak pekerjaan yang harus ia tangani . Elis dan Swara masih dengan setia menjadi pengawalnya , tapi Toyo sudah kembali menjadi pengawal pribadi Bisma .
Mika tersenyum haru ketika melihat Lisa dan Munir bermain dengan baby A . Mika tahu dua orang parubaya itu sangat mendambakan seorang cucu . Nita sedang mengandung lima bulan di London , rencananya dia akan di boyong ke mansion dua bulan lagi agar lebih bisa di awasi .
" Mama ... "
Aarav memanggil namanya ketika mata anak itu menemukan sosok mamanya berdiri tak jauh darinya .
" Baby Mika ... "
" Ngga usah pakai baby dong Pah , cukup Baby A saja yang jadi baby di sini " gerutu Mika yang langsung membuat Lisa dan Munir tertawa .
" Ya kan baby punya baby jadinya " seloroh Lisa .
" Aarav pulang yuk sama mama " Mika mendekati anaknya yang sedang berada di pangkuan Munir .
Tapi Aarav malah mengeratkan pelukannya pada Munir .
" Nda mahu ... alav mahu halan halan beli emen sama kake "
" Nenek boleh ikut ngga ?! " goda Lisa pada anak menggemaskan itu .
" Nda boyeh .. Nene sama mama yumah aja "
Munir mencium pipi chubby Baby A bertubi tubi dan membuat Aarav tertawa geli . Mika heran kenapa putranya sangat lengket jika bersama dengan Munir ataupun Bisma .
Sejak kelahiran Baby A , Munir dan Lisa memang sering mengunjunginya di mansion Dananjaya . Tapi karena masih terlalu kecil mereka tak berani membawanya jauh dari mamanya .
Baru sekarang saat usia Baby A cukup untuk di ajak keluar baru mereka berani meminta Aarav ikut bersama mereka .
" Kok permen sih , gimana kalau kakek beliin mobil mobilan saja . Permen kan bikin gigi jadi sakit " bujuk Munir
" Nda mahu .. emen meyon ijo "
" Aarav jangan bandel deh , mama kan udah bilang ngga boleh keseringan makan permen , rusak nanti giginya "
" Huuuaaaa. ... nakal emua !! Antel Satiaaaa !!! toyongin Alav...dalak emua ama alaaav "
Mika mengernyitkan keningnya mencoba memahami kata kata putranya . Ada satu nama yang ia belum pernah mendengar dari mulut putranya . Mika melihat Aarav berlari ke arah seseorang .
DEGGG ...
Satria
Putranya sedang berlari ke arah Satria . Mika terkejut karena setahunya Satria menetap di Dubay . Pria itu merentangkan tangannya dan kemudian menggendong Aarav .
"' Aarav mau permen melon warna hijau ? " tanya pria tampan itu pada Baby A .
__ADS_1
" He em "
" Yuk kita beli "
Mika tersadar dari lamunannya ketika dua laki laki beda generasi itu melangkah pergi dengan Aarav yang masih dalam gendongan Satria .
" Maasss ... tunggu !! "
Satria berhenti melangkah tanpa membalikkan badan kearah Mika . Mika berdecak sebal , ia tidak suka jika Aarav terlalu di manjakan oleh orang orang sekitarnya .
" Jangan .... " sebelum meneruskan kata katanya Satria sudah menimpali . Mika bermaksud melarang Satria membelikan permen untuk putranya .
" Aku tahu "
Pria tinggi tegap itu berbalik hanya untuk mengacak acak rambutnya kemudian kembali melangkah pergi .
" Mass ... !!! " pekik Mika sebal .
Sedang Aarav melambaikan tangan dengan senyum yang menunjukkan semua gigi depannya , membuat Mika gemas ingin menggigit pipi bapau putranya .
" Biarkan saja , Satria pasti bisa menjaga Aarav . Papa tahu pasti kau akan bertanya bagaimana bisa mereka akrab "
" Aarav memang mudah akrab dengan semua orang Pah " sahut Mika dengan raut masih memberengut kesal .
" Aarav sering melihat dan mendengar suara Satria saat sedang vcall dengan Papa atau Mama . Pertama kali mereka bertatap muka lewat vcall mereka langsung akrab . Kau bisa bayangkan muka kulkas dua pintu itu ketika bercanda dengan Baby Aarav ??! "
Mika dan Lisa langsung terkekeh mendengar kata kata dari Munir . Benar juga , Satria memang jarang sekali tersenyum .
Satu sudut bibirnya terangkat ketika bayi laki laki berumur dua tahun itu terus bergelayut di lehernya .
" Aarav pernah sakit gigi !? "
" Enda .. "
" Sakit banget rasanya kaya digigit harimau , Aarav tau kan harimau ? Si raja hutan "
" Halimau besal ? "
" Besar banget "
" Alav ngga suka halimau , atut ! Alav beli loti aja ya lapel "
" Ok ... "
Satria membawa Aarav kesebuah toko roti yang ada di mall yang tak jauh dari mansion . Anak itu terlihat senang sekali melihat sekelilingnya . Aarav suka dengan ramai orang lalu lalang .
Baru kali ini Satria akrab dan berkomunikasi dengan bayi , tapi entah kenapa dia mengerti dengan yang semua Aarav ucapkan .
Satria terkekeh melihat pipi Aarav yang belepotan dengan selai coklat dan strawberry . Dalam waktu sekejap anak itu sudah menghabiskan dua potong roti dan segelas susu coklat hangat .
__ADS_1
" Kau mirip sekali mamamu jika sedang makan " lirih Satria .
Satria merogoh kantong jasnya ketika merasakan ponselnya bergetar , dan dia langsung mengangkatnya ketika ada nama Mike di sana .
" Halo .. "
" Ckk mana anak nakal itu ! Dari tadi mamanya marah marah meminta aku menyusul pipi bapau itu , tunggu di sana sebentar aku akan menyusul kalian "
" Kau tahu di mana kami ? "
" Tentu saja , pipi bapau itu punya radar di telinganya " jawab asal Mike .
Mike tak main main dengan pengawasan keamanan pewaris Dananjaya itu . Dia memasang satu alat yang di tempelkan di setiap sepatu Baby Aarav agar bisa memantau pergerakan bayi aktif itu .
" Satu lagi , jangan pernah mengalihkan pandanganmu kepadanya . Dia suka sekali mengikuti wanita cantik jika ada di mall "
" Jangan bercanda "
Satria menutup telponnya , dan betapa terkejutnya dia ketika melihat baby Aarav sedang berjalan dan sudah berada di pintu keluar toko roti .
" Aarav ! Tunggu uncle ... "
Tapi.si gembul sepertinya tidak.memperhstiksn teriakannya . Matanya fokus pada sesuatu dan sedang mengikutinya .
" Antik ... itut "
Satria menyambar tubuh gembul itu kembali dalam gendongannya . Mike benar Baby Aarav harus selalu dalam.pantauan . Matanya mengernyit ketika bayi itu tersenyum lebar dengan mata yang berbinar binar .
Satria terhenyak ketika mengikuti pandangan Baby Aarav , dua orang wanita cantik dengan pakaian cukup seksi sedang berjalan ke arah mereka .
" Hai ... anak sama papa sama gantengnya " ujar salah satu wanita itu dengan mencubit pelan pipi Aarav .
" Don't touch him " di gendongnya Aarav yang sepertinya tidak keberatan dengan cubitan wanita tadi .
Satria tak menggubris mereka dan segera pergi dari tempat itu .
" Antel .. antik ... itu " ucap Aarav menunjuk nunjuk wanita tadi .
" Hanya mamamu yang tercantik ! " sahut Satria yang membuat dirinya sendiri langsung bungkam . Mulutnya memang kadang menjadi racun untuknya , kadang ia takut pada dirinya sendiri yang tak bisa berhenti mengagumi sosok masa lalunya .
" Aarav ... pasti sempat lari kan dia ? Dasar pipi bapau , bandel "
Suara Mike sempat mengejutkan Satria , Aarav mengarahkan tangannya pada Mike pertanda anak itu ingin di gendong oleh papanya
" Papa .. mama antik "
" Tentu saja mamamu adalah yang tercantik , isn't that right uncle ? "
" Ckk .. tidak lucu "
__ADS_1
Satria langsung melangkah pergi meninggalkan Mike dan Aarav . Mike hanya geleng geleng kepala melihat tingkah temannya itu . Padahal dia hanya bercanda tadi .