
Satria bergegas pergi dari kafe itu , dengan kecepatan penuh ia lakukan mobilnya menuju apartemennya karena titik GPS yang ia lacak dari hp Fia menunjuk arah ke apartemennya .
Dengan sepengetahuan Fia dia memang memasang GPS di ponsel sekretarisnya itu , untuk berjaga jaga agar jika ada meeting mendadak di tempat yang ia belum tahu ia segera bisa menyusul sang sekretaris .
Tak ia sangka alat itu malah digunakan saat Fia meminta tolong , mungkin keadaan yang darurat . Seperti kesetanan Satria ingin segera sampai dimana Fia berada . la takut terjadi apa apa pada gadis itu . Setelah sampai dan memarkir kendaraannya Satria segera berlari menuju lift . la segera menekan lantai dimana kamarnya dan kamar Fia berada .
Ketika sampai di depan unit Fia Satria segera mendobrak sambil mulutnya meneriakkan nama sekretarisnya itu . Dengan sekali dobrak pintu itu terbuka karena Satria mempunyai tenaga yang sangat besar .
" Fiiaaaa. ... Fiiiiaaaa !!!!! "
DAGGGHH ... GUBBRRAAKKK
Betapa terkejutnya Satria ketika melihat apa yang ada didepannya . Tampak Sofiana sedang berdiri terpaku menghadap ke arah pintu dengan menggunakan apron warna pink dan membawa sebuah spatula , sepertinya gadis itu sedang memasak dan dia baik baik saja .
" Fia ??? "
Satria menatap Fia penuh keheranan , gadis itu terlihat baik baik saja . Jauh dari bayangannya yang tadi sempat menyangka bahwa Fia sedang dalam keadaan bahaya . Satria juga masih terpaku dipintu dengan tangan yang masih memegang handle pintu .
" Kau apakan pintuku Satriaaa !!! "
Wajah Fia memerah menahan marah ketika tahu Satria telah merusak pintu unitnya . Dia segera mendekat ke arah Satria dan memukul bahu pria itu dengan menggunakan spatula ditangannya .
" Aww ... "
Satria mengaduh ketika spatula itu mendarat dengan sangat manis di bahunya .
" Kau tidak apa apa ?! " tanya Satria masih penasaran dengan keadaan Fia .
" Seharusnya aku yang bertanya padamu , apa kau sudah gila hahh mendobrak pintu orang sembarangan? Kau pikir pintuku samsak hingga menjadi sasaran tendanganmu ? "
__ADS_1
" Tapi tadi kau mengirimiku pesan minta tolong , kukira ada pencuri atau semacamnya sedang mengancammu " elak Satria mencari pembenaran atas tindakannya .
" Jika cuma pencuri aku masih bisa menanganinya . Kau lupa aku pemegang ban hitam taekwondo ? Aku bukan Mikamu yang hanya bisa menangis jika sedang diganggu . Ehh ... " kata katanya terhenti seketika tak sengaja ia menyebut nama gadis pujaan pria dihadapannya .
" Maaf ... aku tidak punya maksud menyinggungmu " lanjutnya , ia merasa tidak enak telah menyebut nama Mika . Fia segera berjalan kembali menuju dapur . Sebelum mendengar suara dobrakan tadi ia memang sedang memasak . Tentu saja ia memasak makan malam Satria karena gadis itu yakin hari ini pria itu pasti tak mengisi perutnya dengan benar .
Satria menghela nafas kasar , ditutupnya pintu itu walau sudah tidak bisa tertutup sempurna karena sudah rusak . la juga berjalan menuju dapur menyusul sekretarisnya .
" Aku tadi .memang mengirimi pesan minta tolong padamu , kau sudah baca pesan keduaku kan ? Aku memintamu membeli olive oil di bawah , kemarin aku lupa membelinya . Tadi aku juga sempat mencari di dapurmu tapi disana juga tidak ada "
Satria segera mengeluarkan ponsel dari sakunya . Ternyata benar setelah pesan itu Fia mengiriminya pesan lagi yang isinya meminta nya membeli olive oil di mart yang berada dilantai bawah apartemennya . Dia tadi sudah panik dulu hingga tidak mendengar ada notif pesan lagi dari Fia .
Satria terduduk lemas dikursi makan , ditenggaknya sampai habis air mineral yang di sodorkan Fia kepadanya .
" Jangan lagi lagi kau kirim pesan tolong padaku " Satria memijat pelipisnya mengingat bagaimana tadi ia seperti orang kesetanan dalam mengendarai mobilnya .
" Ribet banget sih , aku tidur di kamarku sendiri dan kau tidur di sofa kamar tamu . Kalau aku tidur di unitmu pagi pagi bawaannya pasti ribet , semua alat mandiku kan disini ! masa iya sekarang aku boyong alat mandi dan baju ganti ke unitmu " keluh Fia tak setuju dengan usulan Satria .
"Ya sudah , terserah "
Fia menyajikan semangkok sup daging ke depan Satria , tak dapat dibohongi dia memang sedang sangat lapar saat ini . Drama penyelamatan tadi sudah menguras tenaganya . Tanpa aba aba Satria segera melahap habis sup daging didepannya .
" Heii .. pelan pelan makannya "
Hati Fia menghangat melihat Satria makan dengan lahap masakannya , bahkan sampai dua kali Satria meminta sup itu lagi . Disudut hatinya juga bahagia betapa laki laki pujaannya itu begitu mengkhawatirkan keadannya walau kejadian tadi cuma salah paham . Tapi setidaknya sekarang ia tahu bahwa Satria sangat menyayanginya .
Malam itu Satria benar benar tidur di sofa yang berada di ruang tamu milik Sofiana . Dan tadi dia juga sudah menghubungi seseorang untuk memperbaiki pintu unit milik Fia .
Tengah malam Satria bangun dari tidurnya , biasanya jika dikamarnya sendiri ada sebotol besar air minum yang ia letakkan dinakas disamping tempat tidur . Karena setiap malam ia akan bangun untuk sekedar minum air .
__ADS_1
Ketika melihat tak ada air di meja Satria segera berjalan menuju dapur . Matanya memicing melihat siluet wanita juga sedang berada didepan lemari pendingin . Satria segera berbalik lagi menuju ruang tamu . Dari siluet itu Satria bisa menerka bahwa Fia sedang mengenakan baju kurang bahan lagi .
" Satria ... kamu ingin minum juga ? "
Terdengar sebuah suara menghentikan langkahnya , tapi Satria tidak membalikkan badan ke arah suara itu .
" Tidak aku cuma mendengar langkah orang tadi , kupikir bukan kamu " Satria kemudian melanjutkan langkahnya kembali menuju ruang tamu .
" Cihh .. kau takut tergoda padaku bukan ? "
Fia mencoba mempermainkan emosi laki laki yang mulai melangkah meninggalkannya itu .
" Jika hatimu untuk Mika kenapa kau harus takut tergoda padaku ?! " provokasinya berhasil , laki laki itu menghentikan langkahnya lagi .
" Takut ??? "
Tiba tiba Satria melepas kaosnya hingga menampakkan perut six packnya yang sempurna dan berjalan menuju gadis yang masih memegang gelas air minumnya . Fia tak kuasa untuk mengalihkan pandangannya pada pahatan maha sempurna didepannya . Wajah yang tampan dengan tubuh kekar yang membuatnya sulit untuk menelan salivanya . Satria mengangkat dagu Fia hingga wajah gadis itu hanya berjarak beberapa centi di depan wajahnya .
Satria meniup telinga Fia hingga membuat gadis itu meremang . Hampir saja tubuh Satria menempel sepenuhnya pada tubuh Fia . Sepertinya Satria memang sengaja mendekatkan dirinya pada gadis di depannya .
" Tergoda padamu ?? Kau bahkan tidak bernafas saat ini "
Bluussshh ....
Fia merasakan pipinya terasa panas , untung saja pencahayaan di dapur malam itu tidak begitu terang hingga ia bisa menyembunyikan rona merah di pipinya . Bisa bisanya laki laki itu menggodanya dengan berdiri setengah telanjang tepat didepannya . Seperti bukan Satria ! Padahal dia tadi sudah merencanakan dengan matang bagaimana ia bisa menakhlukan laki laki super dingin itu . Sekarang malah terbalik , dengan mudahnya Satria bisa membuatnya kelimpungan antara ingin dan malu .
Satria terkekeh sambil melangkah meninggalkannya dan dia masih bertelanjang dada , Fia bisa mendengar laki laki itu kembali mengeluarkan suaranya .
" Sekarang kau tahu kan siapa yang akan tergoda ?! "
__ADS_1