
" Euunngghh ... ahhhh .. Masss " Mika meremas kemeja putih yang saat ini dikenakan Satria . Baru kali ini dia merasakan ciuman seintens ini . Tubuhnya bahkan seperti sudah diterbangkan ke awang Awang .
Satria melepaskan bibir itu karena merasakan Mika mulai kehabisan pasokan oksigennya .
" Breathe .. honey "
Satria masih menautkan keningnya pada kening gadis yang sudah mendengar pernyataan cintanya .Di sakunya lembut bibir yang sedikit bengkak itu dengan ibu jarinya . Sepertinya bibir itu akan menjadi candu baru untuknya . Dia bisa merasakan nafas Mika yang tersengal , dirinya pun tak jauh berbeda . Satria juga sedang mengatur nafas dan debaran jantung yang sempat bertalu dengan kencang .
" Ya Tuhan ... Maaf ya jadi kelepasan nyium kamu " bisik Satria .
Mika tersenyum dan tertunduk malu , sekarang ia yang membenamkan kepalanya sendiri ke dada Satria . Rasanya Mika tak mampu melihat laki laki yang tiba tiba menciumnya dengan ganas itu .
Sekuat tenaga Satria menahan keinginannya untuk kembali mencium gadis yang bersembunyi di dadanya . Tak pernah ia merasakan bahagia yang meluap seperti ini , walau ia tahu akan ada banyak hal yang harus ia lalui untuk mempertahankan gadis itu agar tetap disampingnya .
'" Kalau udah suka sama Mika pas pertama kali lihat , kenapa Mas engga ngomong sama Mika langsung ? " cicitnya dengan masih menyembunyikan wajahnya pada dada kekar itu .
" Aku ngga mau kamu mikir kalau aku adalah seorang guru pedofil yang suka sama muridnya sendiri "
" Mas Satria kan belum setua itu . Lagian Mas cuma guru pengganti kan "
" Kamu juga mulai dekat dengan Reyhan waktu itu , kalian serasi sama sama masih muda "
" Iya sama sama masih muda , tunangan aja cuma bertahan dua hari . Mika memberi kesempatan pada hati Mika sendiri untuk membuka hati pada laki laki lain . Tapi nyatanya malah berkali kali disakiti . Mungkin kami yang terlalu memaksakan hubungan itu "
Satria kembali mencium pucuk kepala Mika , dia menangkup wajah yang masih tertunduk itu dengan kedua tangannya .
" Lihat aku kalau lagi ngomong "
Satria membelai wajah Mika dengan penuh kasih sayang , tak tahan dengan rasa gemas karena wajah yang masih merona itu , ia kembali mengecup sekilas bibir kemerahan itu .
CUUPP ...
" Maaasssss .... udahhh ! Jangan cium cium terus !!! " rengek Mika yang tak bisa menyembunyikan wajah malunya karena dua tangan kekar itu masih menangkup wajahnya .
__ADS_1
Satria cuma terkekeh mendengar gadisnya merajuk , mana ia bisa tahan jika gadis itu terlalu menggemaskan baginya . Perlahan ia mengurai pelukannya dengan lebih dulu mencium kening gadis itu dengan penuh perasaan .
" Kita berangkat sekarang , papa juga sepertinya sudah selesai meeting . Pasti dia udah nunggu kita "
Bukannya melangkah mengikuti Satria , Mika malah masih berdiri tak bergeming . Mika tenggelam dalam lamunannya sendiri , masih tak percaya dirinya mendapat pernyataan cinta dari pemilik hatinya yang sesungguhnya . Jika ini di dalam kamarnya pasti ia akan melompat lompat atau berguling guling saking bahagianya .
Tapi sisi hatinya yang lain sedang bertanya , apakah keluarganya ataupun keluarga Satria akan bisa menerima hubungan ini . Dia sudah pernah ' hampir ' menikah dengan adik Satria . Dia tahu hubungan ini akan menyakiti Reyhan . Dia takut hubungan ini akan meretakkan hubungan kakak adik yang sangat erat itu .
Sampai suara deheman membuyarkan lamunannya . Satria sudah berdiri menjulang tepat dihadapannya dengan tangan bersedekap .
" Ngga usah mikir macam macam , biar aku yang hadapi . Kau cukup bertahan disisiku . and I will prove to you and all the world, that I love you very much. even more than my life ( Dan akan kubuktikan padamu dan seluruh dunia bahwa aku mencintaimu bahkan melebihi nyawaku ) "
" Tapi ngga akan semudah itu Mas "
" Memang ngga akan pernah mudah , tapi akan kita lalui bersama "
Satria kemudian menggenggam tangan mungil itu kemudian menuntunnya untuk melangkah keluar ruangan itu . Dimas yang melihat tautan dua tangan Satria dan Mika sedikit terkejut . Baru sekali ini ia melihat Satria bersikap mesra pada lawan jenisnya Tapi dia hanya diam karena memang bukan urusannya .
" Kenapa ? "
" Ehhmm .. itu .. ini ..lepas dulu "
Mika mengayunkan sedikit tangan yang masih digenggam Satria . Satria hanya tersenyum , ia paham apa yang sedang ada di otak gadis itu . Ada sebersit ide untuk menggodanya .
" Kenapa ? Ada yang salah ? "
Satria malah semakin mengeratkan genggamannya membuat Mika menatapnya dengan sebal . Ketika berjalan keluar dari lift pun Satria masih saja menautkan tangan mereka . Dan dugaan Mika salah ! Dia pikir mereka berdua akan langsung menjadi pusat perhatian para pegawai yang dilewatinya , tapi jangankan melihat , melirik pun seakan mereka tak berani . Mereka selalu menunduk jika berpapasan dengan mereka .
" Pantes ngga ada yang berani lihat , pasang muka killer gitu .. " batin Mika ketika melirik sekilas laki laki yang berjalan disampingnya . Raut itu berubah 360 derajat ketika berada lingkungan luar . Ketika berdua dengannya Satria menunjukkan wajah penuh sayangnya , tapi saat ini jangankan senyum tatapan matanya seperti sedang ingin menguliti seseorang saja .
" Jangan menatap Mas seperti itu , nanti tambah cinta "
__ADS_1
Ternyata laki laki disampingnya menyadari jika dia sedang mencuri pandang , Mika segera membuang mukanya ke samping karena tak ingin Satria jadi besar kepala .
" Isshh .. narsis "
Setelah sampai di salah satu hotel tempat Munir sudah menunggu , mereka segera menuju ke lantai atas .
Munir menatap heran dua orang muda dihadapannya yang menampilkan wajah bahagianya . Terlebih Satria yang ia lihat tak henti hentinya menatap gadis yang sudah ia anggap sebagai putrinya dengan sesekali tersenyum .
Mika terlihat sangat serius menanyakan tentang konsep kamar yang Munir inginkan . Mika ingin mengubah kamar itu seperti keinginan pemiliknya .
" Papa cuma ingin kamar ini lebih sederhana dan simpel . Papa juga ingin semua perabot di ganti dengan perabot kayu jati , jadikan warna coklat dan hitam mendominasi "
" Apa warna kesukaan mana Lisa ? "
" Biru langit , kok jadi tanya warna kesukaan mama sih ? lni kan kamar papa " Satria yang menyahut pertanyaan Mika .
" Boleh Mika mix sedikit dengan warna biru ? Cuma dikit kok , mungkin korden jendela itu bisa juga bantal kursinya kita ubah jadi biru . Jadi papa bisa merasakan ada mama di sini "
" Terserah kamu aja pokoknya papa tahu beres aja , kirim semua tagihannya ke papa . Ngomong ngomong kamu tahu kenapa muka Mas mu itu dari tadi berseri seri ? Apa dia menang lotere ? "
" Ckk .. Paaahh " sahut Satria dengan malas .
" Heii papa sedang tidak bertanya padamu , papa sedang bertanya pada putri kesayangan papa " kilah Munir tak mau kalah .
Mika hanya tersenyum mendengar pertanyaan Munir , tidak mungkin juga ia menjawab mungkin Satria seperti itu karena mereka sudah memutuskan untuk memulai sebuah hubungan .
" Beberapa hari yang lalu Reyhan menelpon papa , dia menanyakan kabarmu . Papa tahu kamu masih sakit hati , tapi papa tidak ingin hubungan kalian menjadi jauh . Kalian anak anak papa ! Jika kalian sudah benar benar tidak bisa membangun sebuah hubungan lagi , setidaknya papa ingin melihat kalian berhubungan baik selayaknya saudara "
" Mika tak pernah menyimpan kebencian pada Reyhan Pah . Mika cuma tak ingin jika sikap baik Mika malah disalah artikan oleh Reyhan . Satu satunya jalan Mika harus sedikit menjaga jarak dengan Reyhan "
Munir manggut manggut tanda ia mulai mengerti dengan sikap yang diambil oleh Mika . Dahinya mengernyit ketika putra sulungnya itu malah dengan penuh kasih sayang mengelus puncak kepala Mika .
" Kalian seperti sepasang kekasih !! "
__ADS_1
" Ehh ... "