
" Pih kemarin Vera lihat tas model baru , boleh ya ? " kata seorang gadis dengan manja dengan bergelayutan ditangan seorang pria parubaya yang seumuran dengan ayahnya . Laki laki buncit dengan masih mengenakan setelan jasnya .
Ya , gadis itu adalah Vera ! Dia menjadi sugar baby seorang laki laki yang jauh lebih tua darinya . Dia tidak melanjutkan kuliah dengan alasan bila bisa mendapat apapun yang dia inginkan dengan mudah , untuk apa dia capek capek kuliah . Sudah satu tahun ini dia menjadi sugar Daddy laki laki kaya , tak peduli jika dia sudah merusak keharmonisan sebuah keluarga .
Dan lebih parah ayahnya malah mendukungnya , Kusman selalu saja meminta uang untuk hobi barunya yaitu berjudi . Burhan yang sudah tidak sanggup melihat kelakuan mereka memutuskan untuk tinggal di mess yang disediakan oleh tempatnya bekerja . Bukan karena dia melepas tanggung jawab pada ayah dan adiknya tapi dia terlalu lelah melihat tingkah mereka yang tiap hari bertambah tidak karuan .
" Pilih saja pasti Papih beliin tapi nanti malam temenin Papih ketemu klien ya " pinta laki laki buncit itu dengan satu tangannya meremas b*Kong Vera dengan gemas . Bisa bisanya mereka dengan santai melakukan hal itu di tengah keramaian seperti ini .
Mereka menuju sebuah outlet tas branded di mall itu . Nampaknya laki laki buncit itu memang cukup kaya untuk memenuhi permintaan Vera .
" Mikaaa ... " Vera mendesis melihat gadis yang amat dibencinya sedang berjalan bersama seorang laki laki gagah nan tampan . Sejenak Vera terjatuh dalam pesona laki laki yang berjalan disamping Mika .
Dia Satria , mereka sedang mencari barang barang yang untuk melengkapi ruang kantor Satria . Tadi Satria meminta bantal sofa warna hitam untuk melengkapi sofa putih di ruangannya . Dia juga meminta vas besar warna putih untuk dipajang didekat ruang meeting kecil yang ada di samping meja kantornya .
Saat ini mereka hanya mengenakan pakaian casual , Satria mengenakan kaos putih dengan bawahan jeans begitupun dengan Mika yang mengenakan sweater putih dengan bawahan celana bahan motif garis . Mereka malah tampak seperti sepasang kekasih .
Vera menatap sinis mereka dengan pandangan merendahkan .
" Cihh .. ganteng juga pacar barunya , sayang cuma kere ( kalau dijogja kere itu sebutan lain dari miskin ) "
Setelah mendapat yang ia mau Vera mengajak sugar Daddynya keluar dari outlet tas itu .
" Vera ! Papih tinggal dulu ya , mau balik ke kantor jam makan siang Papih udah abis . Nih buat naik taksi nanti " Pria itu memberikan beberapa lembar uang kepada Vera . Dan dengan senyum gembira Vera menerima uang itu .
" Udah dapet tas , dapet duit lagi . Lumayan buat jatah ayah . Dasar pria tua menyebalkan bukannya cari uang malah ngabis abisin uang aku " sungutnya sebal karena hampir tiap hari sang ayah meminta jatah uang padanya .
Bukannya langsung pulang Vera malah brjalan ke arah dimana Satria dan Mika berada , ia ingin sekali mempermalukan gadis itu di depan orang orang . Dengan sombongnya ia berjalan dengan menenteng tas yang baru saja ia beli .
__ADS_1
Baru beberapa langkah ia berjalan tiba tiba seorang laki laki menabraknya dari arah depan , sekaligus menumpahkan minumannya hingga mengotori baju bagian depannya .
" Hei kau tidak punya mata hahh !! Sial , brengsek !! "
Naasnya laki laki itu malah langsung pergi meninggalkannya tanpa meminta maaf padanya terlebih dahulu . Mau tidak mau ia mengurungkan niatnya untuk menyambangi gadis yang dibencinya itu .
#
Setelah membicarakan tentang desain ruangannya dengan Mika . Satria mengajak Mika untuk berbelanja detil detil yang dia inginkan .
" Nanti temenin Mas ya nyari bantal sofa dan vas , kamu free kan ? Sekalian nanti kita makan siang bareng Mama "
" Siaapp kapten !! Mika free dua Minggu , ini kan masih liburan semester . Makanya Mika bisa cari job buat tambahan uang jajan "
Satria terkekeh melihat tingkah gadis didepannya yang meletakkan satu tangannya dikeningnya seakan memberikan hormat padanya .
" Kenapa tidak pernah memakai kartu yang mas berikan dulu ? Tugas utama kamu kuliah , bukan cari uang "
Satria melihat jam tangannya kemudian bangkit dari duduknya . Dia tidak ingin melihat kesedihan Mika berlanjut dan berlarut larut .
" Kita berangkat aja sekarang , sukur sukur kita nemu semua sebelum makan siang . Kalau telat dikit aja pasti kita udah kenyang duluan sebelum makan "
Mereka tertawa bersama mengingat Lisa yang tidak pernah mau menunggu . Dia akan mengomel jika dirinya menunggu anak anaknya ataupun mantan suaminya , tapi lain halnya jika dia yang telat . Lisa selalu pura pura tidak tahu jam berapa mereka janjian .
Setelah sampai di mall mereka segera mencari apa yang mereka inginkan .
" Kamu engga pakai kalung yang Mas kasih waktu itu ? "
" Yaaahhh kalung mahal banget kaya gitu mana berani Mika pakai , kalau di jambret bagaimana ? kan sayang . Makanya kalau kasih hadiah yang biasa aja , yang murah aja ngga apa apa . Kan yang penting niatnya . Lagian nih ya kalau ibu tahu Mika pakai kalung itu pasti langsung suruh dilepas , ibu bilang kaya gini nih ' sayang kalungnya kalau dipanas panasin bisa memudar warnanya . Ngga enak sama nak Satria udah dibeliin engga kamu jagain ' . Kelihatannya ibu lebih sayang sama kalung pemberian Mas daripada sama aku "
Penjelasan Mika yang panjang lebar membuatnya tersenyum lebar . Hal ini adalah salah satu yang membuat ia kangen dengan gadis didepannya ini . Cerewet dan apa adanya , begitulah Mika dalam pandangan Satria .
__ADS_1
" Kalau ngga pernah dipakai juga lebih sayang dong , masa udah dibeliin ngga dipake sih "
" Kata siapa ngga dipake ? Sering kok , sering dipinjam ibu kalau pas lagi arisan RT atau lagi kondangan "
Satria sontak tertawa terbahak bahak mendengar celotehan Mika . Di luar sana para gadis berlomba lomba menjadikan tampilan dirinya lebih ' mahal ' tapi gadis didepannya tetaplah menjadi gadis sederhana walaupun sudah memegang black card yang ia berikan .
" Mas Satria kita kesana yuk , kayanya disana ada bantal yang Mas inginkan " tanpa Mika safari dia menggenggam tangan Satria dan menyeretnya berlari kecil menuju toko yang ia maksud .
" Mika jangan lari lari , lagi banyak orang nanti bisa ketabrak kamu . Bandel "
Satria mengeratkan pegangan tangan mereka sambil menahan tangan gadis itu supaya tidak berlari lebih cepat .
Tiba tiba dia mendengar ponselnya berdering . Satria kemudian mengangkatnya dengan satu tangannya masih digenggam oleh Mika .
" Ya Edgar ? "
" ...... "
" Jauhkan dia dari kami apapun caranya . Aku tak ingin Mika melihat perempuan ular itu "
Satria menghembuskan nafasnya dalam dalam , tak ia sangka mereka akan bertemu sepupu jahat Mika dari Jogja . Satria sudah tahu semuanya , bahkan rencana Vera yang berhasil menghancurkan hubungan antara Mika dsn Reyhan . Sayang waktu itu dia telat menyelidikinya . Dia merasa kecolongan . Satria tak menyangka Kusman dan Vera telah tiba di ibukota ini .
Pada akhirnya Satria memberi perintah pada semua orang yang dia beri tugas menjaga Mika untuk menjauhkan Mika dari Vera dimana pun itu .
Mereka menuju sebuah Bazaar dilantai bawah yang menyediakan aneka furniture kebutuhan rumah tangga .
" Kita cari bantal sofa , bukan sofanya "
" Bawel ihh .. ikut aja "
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya Satria hanya menurut dan mengekori kemanapun Mika pergi . Padahal disini dia adalah klien yang seharusnya lebih berkuasa mengatur Mika . Bahkan ketika diseret kesana kemari Satria hanya bisa menikmatinya . Siang itu senyum kembali menghias wajahnya .
__ADS_1