
Fia serasa baru terbangun dari tidur panjangnya , dia bangun dengan kepala yang masih sedikit pusing . Dia mendengar suara bariton yang amat sangat ia kenal ketika ingin memaksakan diri untuk bangun .
" Jangan dipaksakan jika masih pusing "
Dia melihat Satria berdiri dipinggir ranjangnya , bukan ! lni bukan kamarnya , sepertinya ia tertidur dikamar Satria .
" Kenapa aku bisa tertidur di kamarmu ? " tanya Fia yang kemudian kembali merebahkan badannya . Benar kata Satria , kepalanya masih terasa pusing ketika memaksakan diri untuk bangun .
" lstirahat saja dulu , jika tidak nyaman disini kau bisa pindah ke kamarmu jika kau memang sudah bisa bangun . Atau kau ingin ku gendong ke kamarmu sekarang ? "
" Tidak terimakasih . Kau ada meeting pagi ini , maaf sepertinya aku tidak bisa mendampingi "
" Tidak apa apa . Lain kali lebih berhati hati jika ke klub sendirian "
" Memang kenapa ?! "
" Tidak , kita bahas nanti setelah aku kembali dari kantor "
Fia hanya memandang Satria yang saat ini melangkah pergi dari kamar itu . Fia melihat tubuhnya sendiri yang hanya berbalut kemeja warna putih milik Satria dan tanpa menggunakan apapun lagi di dalamnya . Fia menghela nafas panjang berkali kali . Hatinya bertanya apa laki laki.itu yang mengganti pakaiannya semalam , apa dia sudah bertingkah di luar batas semalam hingga Satria bersikap dingin padanya pagi ini .
# Flash back on #
Satria masih melihat tingkah Fia yang semakin tak terkendali , gadis itu sudah melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya . Mulutnya tak henti hentinya meracau dengan logat tubuh yang sudah seperti cacing kepanasan .
Satria kembali menelpon teman sekaligus dokter pribadi yang tadi sempat ia minta datang ke penthousenya .
" Ben .. Fia sudah sangat tidak terkendali lagi , apa yang harus aku lakukan ? Haruskah aku membawanya ke kamar mandi ? "
" What ?!! You mean you guys gonna make love in the bathroom ( Maksudmu kalian akan bercinta di kamar mandi ) ? "
" ls that all in your brain? I'm just going to soak fia in the bath up because she's been complaining of heat ( Apa hanya itu isi otakmu ? Aku hanya akan merendam tubuh Fia di bath up karena dari tadi ia mengeluh kepanasan ) "
__ADS_1
" Oh God damned , bukan itu yang dibutuhkan Fia sekarang . Mau kau rendam dia sampai pagi pun tetap tidak akan merubah keadaannya sekarang . Dia butuh pelepasan ! Dia butuh sentuhanmu ! "
" Are you crazy Ben ?!! Aku tidak akan merusaknya .. never !! "
Benedict hanya terkekeh diseberang sana dia tahu Satria bukan laki laki yang mudah tergoda dengan seorang wanita . Dia laki laki yang sangat menjunjung tinggi kehormatan wanita .
" Lima menit lagi aku sampai .. semoga obat ditubuhnya masih dalam dosis rendah karena jika tidak , aku tidak begitu yakin jika obatku dapat menawarkan obat yang saat ini menguasai tubuh Fia . Kalau kau terlambat menolongnya maka kupastikan kau akan melihatnya menjadi pasien rumah sakit jiwa seumur hidupnya . I'm telling you one more time, he needs a release ( Kukatakan padamu sekali lagi , dia butuh pelepasan ) !!! Dan aku tidak meminta kau merusaknya , kau bisa membantunya tanpa harus merusaknya , kau pasti tahu maksudku "
Setelah berkata seperti itu dokter Ben menutup telponnya dan itu membuat Satria mengumpat kasar . Bukan kebiasaannya untuk mengumpat tapi keadaan ini baru ia alami . Dari awal ia sudah bertekad untuk tidak menyentuh Fia , tapi jika saat ini ia tak membantunya resikonya adalah gadis itu akan menjadi gila atau mungkin kematian datang menjemputnya .
Perlahan ia dekati Fia yang saat ini bahkan sudah tak memakai sehelai benangpun di tubuhnya . Satria adalah laki laki dewasa yang normal , ia hanya menahan nafas ketika disuguhi pemandangan yang membuat adrenalinnya naik .
Tanpa ia duga Fia langsung memeluknya erat , gadis itu mencium kasar dan menggigit lehernya .
" Satriaaaaa ... help me ... touch me please !!"
Satria masih tak bereaksi ketika Fia menyambar bibirnya dan menciumnya dengan rakus .
Satria tak bisa berbuat apa apa , dia sama sekali tidak membalas semua perlakuan Fia yang memancing naluri laki lakinya .
" l love you ... l love you like crazy Satriaaaa "
Fia mulai membuka kancing kemeja milik Satria satu persatu , satu tangannya sudah membelai lembut milik Satria yang masih di balut celana jeans nya . Dan Satria dengan cepat menahan kedua tangan Fia agar tak berbuat lebih jauh .
" God damned .. !! "
Satria benar benar di uji kali ini , tubuh indah di depannya sudah membakar akal sehatnya dari tadi . Tapi sekuat tenaga ia tahan dengan berpikir Ben akan cepat menolong Fia tanpa ia menyentuh dan melecehkan gadis itu .
Satria segera menutup tubuh polos Fia ketika mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya . Dugaannya benar , Ben datang bersama seorang wanita yang memang menjadi asistennya . Ben sengaja mengajak asistennya karena ia tahu Satria tidak akan membiarkannya menyentuh Fia dalam keadaan seperti itu .
" Ckk .. lama sekali !! Bulan ini gajimu kupotong setengahnya , jika kau gagal menyembuhkan Fia jangan harap kau bisa keluar hidup hidup dari sini !! "
__ADS_1
Ben hanya terkekeh melihat kondisi Satria yang saat ini bertelanjang dada , ia yakin Fia sudah menelanjangi big boss nya itu .
" Seharusnya kubiarkan dulu sampai kau memuaskannya terlebih dahulu , setidaknya aku membantu Sofiana mendapatkan cintanya " sahut Ben sambil tertawa .
" Cihh .. hanya aku yang mau mempekerjakan dokter gila sepertimu "
Ben menyuntikkan obat pada Fia , tak lama setelah itu Fia tertidur walau kadang masih terdengar sesekali ia meracau .
Asisten Ben ditugaskan untuk menunggu Dia dikanar , sedang Satria dan Ben keluar menuju ruang kerja Satria .
" Bagaimana bisa Fia mengalami hal ini ? Setahuku dia bukan perempuan lemah yang bisa dikelabui dengan tipuan murahan seperti ini . Untuk obat perangsang yang ada di tubuhnya hanya dosis rendah , apa jadinya jika Fia sampai terkena dosis yang tinggi ?! Aku tidak menjamin ia akan waras esok hari "
" Aku sudah menyuruh orang orangmu untuk mengurus dan mengusut tuntas hal ini "
" Kalian pasangan yang cocok , kenapa kalian tidak menikah saja ? Kau juga sudah mengenal dengan baik kedua orang tua Fia bukan ?! "
Satria menatap tajam teman sekaligus dokter pribadinya itu . Dia tidak suka jika persahabatannya dengan Fia disalah artikan oleh orang lain . Perhatiannya selama ini murni perhatian sebagai seorang teman , bukan sebagai kekasih . Karena memang sudah ada satu nama yang menjadi ratu di hatinya .
" Fia adalah tanggung jawabku , tapi dia bukan kekasihku . Apa perlu aku ulangi itu ribuan kali ? Jangan buat hubunganku dengan Fia retak hanya karena persepsi kalian yang konyol . Aku menyayanginya , dia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri "
" Tapi dia sangat mencintaimu "
" Ckk .. kupastikan kau bertugas di pedalaman Afrika jika kau masih mengoceh tentang kehidupan pribadiku !! Kapan Fia sadar ? "
" Haishh .. sayang jika gadis secantik dia kau sia siakan . Tergantung dengan tubuhnya , jika tubuhnya kuat mungkin tiga sampai empat jam lagi dia siuman "
Menjelang pagi akhirnya Satria mengijinkan Ben dan asistennya pulang . Satria tertidur sebentar di sofa ruang tamunya karena semalaman ia sama sekali belum memejamkan matanya . Ketika pagi ia menengok keadaan Fia yang masih tertidur . Ketika ia berdiri di pinggir ranjang tampak gadis itu perlahan membuka matanya .
Setelah memastikan keadaan Fia baik baik saja Satria kemudian pergi ke kantor karena pagi ini ada meeting penting yang harus ia hadiri .
Fia menatap punggung Satria yang sudah melangkah meninggalkan ruangan kamar itu . Dia menyapu sudut matanya yang sudah berair ...
__ADS_1
" Maafkan aku Satria ... "