
Waktu sudah menunjukkan dini hari tapi Satria tak juga bisa memejamkan matanya . Dia masih terngiang ngiang kata kata Sofiana tentang Mika . Jika diam maka dia harus menyiapkan hati untuk kehilangan wanita yang dicintainya . Tapi jika dia ingin memperjuangkan cintanya maka dia akan menyakiti hati Reyhan juga Fia dan mungkin juga hati keluarganya yang lain .
Tak pernah ia bayangkan jika mencintai seseorang akan serumit ini . Jika saja ini tentang bisnis maka dia tidak akan takut untuk menghadapinya . Lagipula ia tak pernah tahu apakah Mika bisa mencintainya atau tidak , karena yang selama ini ia lihat Mika hanya sebatas menghormatinya .
Perlahan ia rebahkan punggungnya ke sofa yang berada di balkon kamarnya , angin yang semilir sejuk membuatnya tertidur tanpa sadar . Hingga pagi menjelang Satria masih saja terlelap , hangatnya matahari tak mampu mengusik tidurnya .
Fia merasa sangat kesal karena Satria tak juga turun sarapan , padahal hari ini dia berjanji akan mengantarnya ke bandara . Fia menolak fasilitas jet pribadi yang disediakan Satria karena menurutnya lebih menyenangkan terbang bersama banyak orang .
Seorang pelayan mengatakan bahwa Satria terlihat di balkon kamarnya masih terlelap , para penjaga bilang masih melihat Satria minum kopi di balkonnya saat dini hari . Fia tahu mungkin laki laki itu sedang memikirkan kata katanya semalam . Sulit memang untuk memilih maju ataupun mundur , karena semua mempunyai resiko sendiri sendiri .
" Fia tadi Om sudah minta Affan untuk mengantarmu , maafkan Satria yang tidak bisa mengantarmu . Om juga tidak bisa mengantar karena ada meeting pagi ini . Om sengaja tidak membangunkan Satria karena sudah beberapa hari ini dia terlihat sangat lelah "
" lya Om tidak apa apa , Fia ngerti kok ! Makasih sudah mau menampung Fia disini .Salam saja untuk Satria ya " jawab Fia , walau mereka sering saling berdebat tapi terlihat sekali Munir sangat menyayangi putranya .
" Ya sudah , sebelum ke bandara kamu sarapan dulu . Tadi Om minta maid buatin nasi goreng kampung kesukaan Satria "
" Nasi goreng kampung ? "
" Telurnya dari ayam kampung , suwiran ayamnya juga dari ayam kampung makanya Om sebut sebagai nasi goreng kampung "
Mereka berjalan menuju ruang makan , beberapa maid sudah menunggu mereka di sana . Para maid dengan sangat sopan melayani mereka , setelah selesai makan mereka segera pergi ke tempat tujuan masing masing . Affan sebagai supir sekaligus bodyguard sudah bersiap untuk mengantar Fia .
Sedang di balkon Satria mulai merasakan hangatnya sinar matahari , perlahan matanya terbuka . Matanya memicing sedikit silau dengan sinar yang menimpa penglihatannya . Satria terperanjat , pagi ini dia berjanji untuk mengantar sang sekretaris ke bandara . Jam tangannya sudah menunjukkan pukul delapan pagi . Sepertinya dia bangun sangat terlambat pagi ini .
Satria segera meraih ponselnya , dan benar saja papanya dan Fia mengirimkan pesan yang sama padanya . Mereka mengirim pesan bahwa Fia sudah berangkat pagi pagi sekali diantar oleh supir pribadi Satria . Dia meraup kasar wajahnya , gadis kecil itu sekali lagi berhasil mengganggu tidur malamnya .
Ponselnya tiba tiba berbunyi , tanpa melihat nama yang tertera dilayar ia mengangkat panggilan itu . Dia pikir Fia yang telah menelponnya .
" Kau sudah sampai bandara ? Maaf tadi aku ketiduran "
" Walaikumsalammm ... kemarin kan Mas Satria yang bilang suruh nunggu di kantor , bukan di bandara ! "
Suara di seberang sana sangat mengejutkan Satria , dia menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat siapa yang sudah menelponnya .
" Ya Tuhan Mika , kemarin aku memintanya datang pagi pagi untuk melihat kamar hotel papa yang ingin ditata ulang " batin Satria bermonolog .
" Mas sampai sebentar lagi , jangan pergi dari sana pokoknya "
Setelah berkata seperti itu Satria segera menuju kamar mandi dan bersiap siap pergi ke kantornya . Walau ia yakin seharian ini dia akan meihat muka Mika yang cemberut . Gadis itu paling tidak suka dengan orang yang tidak tepat waktu , apalagi mengingkari janji .
Satria mengendarai sendiri mobilnya , kali ini dia menggunakan mobil sportnya agar bisa memacu lebih cepat , setidaknya bisa memangkas waktu agar tidak terlalu lama pikirnya .
Benar saja , gadis itu sudah menatapnya sebal ketika Satria terlihat memasuki kantornya . Satria hanya terkekeh melihat tingkah gadis di depannya . Walaupun masih menatapnya sebal gadis itu tetap membawa punggung tangan Satria ke keningnya . Sebuah kebiasaan yang selalu membuat hati Satria menghangat .
" Mika marah sama Mas ya ? Maaf Mas ketiduran soalnya tadi malem ngga bisa tidur "
Gadis itu tampaknya benar benar marah kali ini , tanpa menjawab dia malah kembali duduk di sofa . Satria mengernyit menyadari ada dua mangkok kosong dengan bau khas mie instant dengan bau pedas yang sangat menyengat .
" Kamu makan mie instant ? "
" He em "
__ADS_1
" Dengan cabai ? Pagi pagi begini kamu makan pedas ? "
" He em "
" Mikaaaaa ... "
Mika sangat tahu jika Satria tidak suka jika ia makan mie instant apalagi dengan irisan cabai bertaburan di atasnya seperti yang biasa ia buat . Tapi bagaimana lagi , perutnya minta di isi karena kemarin Satria bilang harus ke hotel pagi pagi sekalian sarapan disana .
" Nungguin Mas Satria datang keburu pingsan kelaparan Mika " cibir Mika masih bersungut sungut .
" Kenapa engga sarapan dulu dari rumah ? Kan biasanya bawa bekal dari rumah " timpal Satria tanpa ingat dia sendiri yang menyuruh Mika kesini dan ingin mengajaknya sarapan bersama sekalian .
Ingin rasanya Mika menerkam laki laki yang tanpa dosa malah menyalahkannya itu . Tapi apalah daya ketampanan dan kharisma laki laki didepannya selalu membuatnya tertunduk tak berani menatapnya . Sorot mata itu kadang ia rasa bisa menghanyutkannya ke negeri antah berantah . Badannya kadang malah panas dingin ketika mata elang itu menatapnya .
" Kok diem ?! " kata Satria mendekati Mika yang duduk di sofa .
Mika masih tak bergeming , rasa kesalnya sudah sampai di ubun ubun rasanya . Dimas tiba tiba masuk ke ruangan yang memang sudah terbuka pintunya .
" Bos hotel kita di Tangerang telpon menanyakan reservasi restoran dihotelnya yang dibooking jam 7 mau di lanjut apa dibatalkan ? Soalnya ini udah jam sepuluh lebih . Lagian mereka juga mau masak ulang , hidangan yang tadi pagi udah dingin . Nggak mungkin juga mereka angetin , Masa owner suruh makan makanan yang udah nggak fresh "
Dimas sengaja berbicara panjang lebar karena ia tahu Mika sedang kesal dengan bossnya itu , tadi pagi ia sempat mendengar gadis itu mengomel karena harus sarapan mie instant sendirian . Dimas ingin Satria mengingat janji yang ia buat dengan Mika , yaitu sarapan bersama di salah satu hotel mereka .
Satria terdiam seperti sedang mengingat sesuatu . Ya ia baru saja ingat janji yang ia buat kemarin , ia menggaruk tengkuknya merasa bersalah pada gadis yang masih melakukan aksi bungkam itu .
" Heiii .. maaf Mas ngga inget , masih laper ? " Satria mengelus puncak kepala gadis itu , dia merasa bersalah sempat mengomel saat tahu Mika sarapan dengan dua mangkok mie instan .
" Masih lahh ... cuma semangkok mie ngga bisa bikin perut Mika kenyang "
" Tadi pas bikin mie Kak Dimas ikutan bikin , katanya mie bikinan Mika kelihatannya enak . Jadi Mika bikinin satu buat Kak Dimas "
" Jadi ? "
Dimas yang masih di ambang pintu tersenyum.tanpa dosa , tadi ia memang ikut makan mie di ruangan itu . Tadi ia bujuk Mika agar makan mie diruangannya saja , tapi gadis itu ngotot makan di ruangan bosnya .
" Jadi harus jawab apa nih bos? "
" Aku dan Mika kesana sebentar lagi "
" Ok bos "
Dimas pun berlalu dan menutup ruangan itu , sedang Mika sudah kembali dari pantry karena tadi sempat mengembalikan mangkok bekas mie .
" Kita ke Tangerang sekarang , kita lihat kamar yang ingin papa renof "
" He em "
Ternyata gadis itu masih meneruskan aksi bungkamnya . Satria menjadi semakin gemas melihat gadis yang sedang bersiap untuk mengikutinya . Entah kenapa Satria begitu ingin melahap bibir kemerahan yang masih mengerucut itu .
" Ckk .. makin jelek kalau marah marah gitu ! Kan Mas udah minta maaf "
" Iyaaaa .. Mika tau kalau Mika jelek makanya Mas selalu pandang dengan sebelah mata . Mana bisa Mika bisa saingi Kak Fia yang cantik sempurna gitu ? Ayah juga pernah bilang selera Mas bukan cewek kaya Mika . Jadi jangan lagi bilang Mika jelek , udah tahu !!! " tumpah juga air mata yang sejak tadi ia tahan .
__ADS_1
Tiga jam lebih menunggu bukanlah waktu yang singkat , tadi sebelum berangkat dia sudah merasa bahagia karena baru pertama kali Satria mengajaknya sarapan bersama . Momen langka yang bisa terjadi karena Mika tahu Satria tidak akan lama tinggal di Jakarta . Apalagi kemarin Fia berkata mungkin Satria akan kembali ke Dubay lusa .
Satria kebingungan melihat gadis didepannya menangis , padahal ia hanya bercanda dengan ucapannya tadi . Tapi gadis itu malah menganggapnya serius . Tanpa sadar ia mendekat dan membawa gadis itu ke pelukannya , ia benamkan kepala Mika ke dadanya dengan kedua tangannya melingkar di pinggang gadis itu . Sesekali di kecupnya pucuk kepala Mika , sungguh wangi gadis itu sungguh bisa menghanyutkan dirinya .
" Tadi Mas hanya bercanda ... kamu tahu ? Bagi Mas kamu adalah wanita paling cantik di dunia ini , cuma kamu yang bisa mengalihkan dunia Mas selama ini . Cuma kamu yang bisa membuat Mas jungkir balik menahan rindu "
" Bohong banget !! "
Satria terkekeh mendengar kata kata yang keluar dari mulut gadis dalam dekapannya . Dia mengacak rambutnya pelan .
" Kalau Mas bilang sayang sama kamu , kamu mau belajar menyayangi Mas ? "
" He em "
" Kalau Mas bilang cinta sama kamu , kamu mau belajar mencintai Mas ? "
" He em ... ehhh cinta ? "
Kepala Mika mendongak melihat wajah Satria yang menjulang tinggi di depannya , karena tingginya hanya sebatas dada Satria .
" Mas cinta sama kamu . Mas bahkan udah cinta sama kamu saat pertamakali lihat kamu . Saat pertama melihat kamu berdiri dipintu kelas , waktu itu Mas jadi guru pengganti matematik . Kamu ingatkan ? "
" Mas Satria nembak Mika ? "
Satria hanya tertawa , hatinya merasa lega sekali karena sudah menyatakan perasaannya . Tak peduli apa nanti jawaban Mika , setidaknya beban berat yang selama ini ia simpan sudah ia keluarkan dari hatinya .
" Tapi kata ayah ngga mungkin selera Mas kaya Mika . Bukankah Kak Fia pacar Mas ? "
" Dia cuma sekretaris Mas . Jadi gimana ? "
" Apanya ? "
" Perasaan kamu sama Mas ? "
" Ehmmm .. "
Mika menunduk malu , wajahnya sudah Semerah tomat saat ini . Mika sama sekali tidak menyangka akan mendapat pernyataan cinta dari laki laki yang selama ini memang ia kagumi . Dia sudah menyukai laki laki yang saat ini masih erat mendekapnya saat berkunjung kerumahnya untuk pertama kali .
Mika suka dengan pembawaan Satria yang dewasa , penyabar dan penyayang . Di sisinya ia selalu merasa dilindungi . Tapi dulu ayah dan ibunya selalu berkata untuk tidak menjatuhkan hatinya pada Satria . Karena laki laki itu pasti punya kriteria yang tinggi untuk pasangannya . Sampai akhirnya dia mengubur rasa itu jauh dilubuk hatinya . Dan mencoba mengisinya dengan nama laki laki lain walau akhirnya usahanya gagal .
" Mika tak ingin buru buru bilang cinta sama Mas sebelum mas buktikan bahwa Mas memang cinta sama Mika "
" Ok .. deal " sebelum melepaskan pelukannya Satria menyambar bibir yang dari tadi sudah sangat mengganggu naluri laki lakinya itu . Dil*matnya pelan bibir kemerahan itu , di cecapnya rasa manis dari bibir atas dan bawah secara bergantian . Sungguh ia hampir saja tidak bisa mengendalikan dirinya lagi .
Apalagi ia tidak merasakan perlawanan dari wanita diperlukannya , ia kemudian menahan tengkuk Mika agar bisa memperdalam ciumannya . Dan ia tak menyia nyiakan kesempatan ketika bibir itu sedikit terbuka . Dilesakkan lidahnya untuk merasai manisnya rongga mulut gadis yang mulai terengah engah karena mencoba mengimbanginya .
" Euunngghh ... ahhhh .. Masss " Mika meremas kemeja putih yang saat ini dikenakan Satria . Baru kali ini dia merasakan ciuman seintens ini . Tubuhnya bahkan seperti sudah diterbangkan ke awang Awang .
Satria melepaskan bibir itu karena merasakan Mika mulai kehabisan pasokan oksigennya .
" Breathe .. honey "
__ADS_1