Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
Eps.1


__ADS_3

"Baru pertama kali buat novel, imajinasi diri sendiri😊 jangan plagiat ok😉"


Dira Natalia, sekarang usia 9 tahun. Anak yatim piatu yang tinggal bersama pamannya bernama Jody dengan istrinya bernama Rossie serta kedua anaknya Jena dan Luis yang seumuran dengan Dira. Kehidupannya benar-benar tidak menyenangkan setelah ditinggal kedua orang tuanya yang meninggal karena kecelakaan baru-baru ini, Dira baru memasuki rumah barunya pada bulan ini dan setiap hari ia selalu mendapat perlakuan tidak baik dari istri dan 2 anak pamannya. Ia dipelakukan seperti pembantu, harus menuruti perkataan mereka, pamannya tidak tahu akan hal buruk yang dilakukan anak istrinya, dan lagi Dira tak pernah mau mengadu pada pamannya, Dira diam tentu saja atas dasar ancaman. Luis dan Jena, mereka sepasang kakak beradik kembar dengan usia selisih beberapa menit saja. Sekiranya impian kecil Dira hanyalah ingin bisa hidup bahagia dengan kesederhanaan atas cinta, Dira tidak ingin apapun lagi selain itu.


Dimalam yang sunyi, Dira memandang langit bertabur bintang, ia membayangkan pada saat-saat dirinya dipenuhi kasih sayang kedua orang tua tercintanya, pada saat itu hanya mengalir air mata dari salah satu matanya yang berlensa coklat.


" mama papa aku rindu..." gumamnya dengan suara parau, 'betapa tak beruntungnya hidup seperti ini', batin Dira


"Dira! Dira cepat kemari bodoh!!!" teriak Jena, Dira yang mendengar langsung bergegas keasal suara tersebut


"Jena, ada apa memanggilku, eh paman tidak pulang? " tanyanya hati-hati


" Dia itu ayahku, kamu tidak usah menanyakan ayahku, sekarang bereskan sisa makanan yang ada disini... " perintahnya, Dira hanya mengangguk dan sedikit kecewa, karena pamannya sepertinya tidak akan pulang malam ini. Sementara Luis hanya tersenyum melihat tingkah lucu adiknya yang memerintah itu, anak kembar yang memiliki mata biru dan berambut pirang, terlihat sangat luar biasa mempesona. Sedang Dira, ia memiliki rambut hitam dan bermata coklat, Dira memandang diri sendiri merasa biasa.


" Apa aku cantik? " dengan pasti terbesit dipikirannya, ' tidak secantik mereka' jawabannya dalam hati, mengapa tak pernah beruntung? Yah sudah berkali-kali kata itu terucap atau terbesit dipikirannya. Pagi cerah kemudian, ada apa dengan mereka yang tidak membangunkan Dira dengan paksa, apa pamannya sudah pulang, seketika wajah mungil itu tersenyum, entah kenapa ia sangat menyayangi pamannya itu, semua itu tak lepas dari kebaikan sang paman.


"paman!" segera memeluk pamannya dengan erat


" Haha Dira, sepertinya kamu setiap hari semakin cantik saja... " pujian pamannya membuat Dira merasa dirinya tidaklah buruk juga


" Terimakasih paman," Dira memperhatikan ketiga iblis itu dengan ragu, mereka memasang wajah malaikat, tentu saja, 'akting yang bagus' batin Dira.


" Dira, paman punya kabar baik, kamu bisa melanjukan sekolah lagi, kali ini kamu akan disekolahkan satu sekolah yang sama dengan Jena dan Luis... Apa kamu senang??? " wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tulus, Dira hanya mengangguk dan tersenyum manis.


" Paman sangat lelah, oh Dira, apa kamu tidak keberatan nak? Panggil paman dengan sebutan ayah? " wajah penuh harap, Dira membulatkan kedua matanya, dan sekilas aura ketiga iblis itu berasa tidak baik.


" Paman paham, kamu..." Murung


" Ayah," panggil Dira segera, persetan dengan ketiga iblis itu, Dira hanya ingin merasakan kehangatan kasih sayang pamannya, walau harus berhadapan dengan tiga iblis itu, paman atau ayah angkatnya Dira langsung memeluk dengan lembut layaknya seorang ayah. Jena, Luis dan ibunya memandang geram kearah Dira.


" Aku harap kalian tidak keberatan," tegasnya, seakan tahu apa yang selama ini terjadi pada Dira.

__ADS_1


Kemalangan takan berakhir, Jena dan ibunya merasa kesal, sedangkan Luis tidak merasa keberatan. Saat ini Dira dan ayah angkatnya sedang pergi mendaftar ke sekolah.


" Huh, walau rumah ini cukup besar, tapi rasanya sesaaaakk!! dengan adanya orang lain di rumah kita..." penekanan kata karena jengkel.


" Berlebihan sekali, kamu bodoh atau apa? Dia kan keluarga kita juga..." kata Luis


" Ayah dan si payah itu sedang mendaftar, aku tidak percaya ini!!" jengkel Jena


" Biar saja, toh dia memang layak, kita seperti ini bukannya sudah keterlaluan? Sekarang sadarlah, aku merasa kasian padanya..." kata Luis dengan santainya


" Gila! Sampai kapanpun aku tidak mau bersikap baik padanya, menjijikan, dia telah merebut ayah kita..."


" Dia kan juga seorang anak, dia membutuhkan orang tua, hah...jangan bodoh adikku tersayang, jika kamu ada di posisinya, mau bilang apa kamu?" pertanyaan yang sulit bagi Jena, yang sama sekali tidak pernah merasakan hal itu


" Yang pasti aku tidak akan bernasib sama, "


" Terserah saja," pergi tak memperdulikan mimik wajah apa yang dipasang sang adik


" Pfft... aku hanya memiliki adik cantik yang bodoh, selebihnya aku tidak bisa menilai," kini benar-benar pergi


" Jahat! " mencibir


Di sisi lain, Dira merasa sangat senang dengan apa yang terjadi hari ini, tidak sepenuhnya senang, karena dipikirannya mengganjal masalah tiga iblis itu.


" Ayah terima kasih," ayah angkatnya Jody tersenyum simpul


" Ayo naik,"


" Naik mobil, rasanya..." tiba-tiba Dira ingat peristiwa kecelakaan itu


" Rasanya sangat menyenangkan, haha" hibur sang ayah angkat

__ADS_1


" Iya, jadi tidak lelah kalo berpergiaan..." Segera mengenyahkan memori buruk itu


" Ingat Dira, kamu harus banyak-banyak berteman, oke?" harapan yang diharapkan Dira juga


" Pasti menyenangkan, tentu saja aku akan banyak berteman " ujar Dira


" Bagus," senyum sambil memandangi wajah mungil Dira


" Kalian berdua ada padanya, melengkapi menjadi satu...sekarang paduan dari kalian telah lahir, Dira Natalia." gumamnya, namun Dira masih bisa mendengarnya. Setelahnya, hari-hari Dira sedikit menyenangkan, karena ayah angkatnya selalu pulang cepat, sehingga ketiga iblis itu kekurangan waktu untuk memberi masalah pada Dira. Tapi ya, dengan kemarahan luar biasa, Jena memikirkan sebuah cara untuk memberi pelajaran pada Dira, tidak jarang Dira kena buli di sekolahnya ulah Jena, hal itu harus dibiasakan oleh Dira. Saat itu kelas mengadakan acara kemah, anak-anak seusia mereka memang sangat bersemangat dengan yang namanya perkemahan dan liar seperti hutan. Singkatnya, mereka berkemah tidak terlalu jauh dari sekolah, hanya untuk memberikan pengalaman, setidaknya merasakan alam bebas. Pagi hari mereka mengadakan pertandingan, yang mana mereka akan mencari sebuah pita biru di sekitaran hutan yang sudah di survei. Kebetulan Luis dan Dira satu kelompok, sedang Jena berkelompok dengan yang lain, Jena sangat enggan berpisah dengan kakaknya.


" Menyebalkan!" gerutu Jena, yang seakan cemburu akan kedekatan Luis dan Dira, yang semakin hari semakin akrab. Sementara itu, pertandingan sedang berlangsung.


" Kakak, mmm...Luis" ucap Dira ragu, mereka berdua berada di depan yang lain sebagai ketua, mereka maju duluan karena menang dalan menjawab pertanyaan.


" Kenapa? Kamu tenang saja, tak ada satupun motif jahat, aku tidak membencimu..." Luis tersenyum, tampan seperti biasa, wajah Dira merona.


" Terima kasih,"


" Apa? " tak mengerti mengapa Dira berterima kasih


" Terima kasih karena tidak membenciku,"


" Bagaimana bisa aku membenci adikku yang seimut dan secantik ini, haha" goda Luis, sekarang Dira tidak merasa canggung, karena akhir akhir ini mereka mulai akrab. Lalu terdengar suara arus sungai.


" Ada sungai, apa kita harus menyebranginya??" tanya Dira


" Sepertinya tidak," namun Dira mempercepat langkah, dan yang lain ikut tertarik


" Dira awas licin," waswas meski sungainya dangkal


" Tidak sampai selutut, tenang saja, eh apa ini yang berkilau? Rubi???" memiringkan kepala, dan menebak-nebak, memangnya di jaman sekarang ada batuan seperti ini? Seperti di jaman kerajaan terdahulu saja deh, Bantin Dira sambila memandangi batu berwarna merah itu keatas langit dan di perhatikannya melalui cahaya matahari.

__ADS_1


" Indahnya," tiba-tiba saja Dira merasa dadanya pengap, dan kepalanya pusing, ia seketika melihat Luis yang mengawasinya sedari tadi, tak lama mata Dira terasa berat, alhasil Dira pingsan.


__ADS_2