Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
135


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


" Kalau begitu Ismail, sebagai kepala komandan yang baru, tolong bereskan masalah di distrik B, jika perlu buat mereka menyesali perbuatannya. " ujar Alexa pada Ismail setelah mendapat laporan di tangannya.


Setelah menduduki kursi pemimpin, hari Alexa menjadi sangat sibuk, selain menjadi pemimpin sementara ia juga harus bekerja keras untuk menjadi orang tua tunggal dari putra dan putrinya yang masih tertidur itu.


Beberapa bulan setelah kejadian itu, Alexa berhasil melahirkan seorang putra yang di beri nama Ethan Wisesa, berharap anak lelakinya bisa membantu kakaknya kelak.


Meski baru berusia beberapa bulan, Ethan memiliki aura yang sama persis dengan Ayahnya, hal ini membuat Alexa sangat senang karena dia masih bisa melihat sosok orang yang disayanginya, meski dalam bentuk mininya.


Sesekali, di waktu luangnya, ia akan pergi ke rumah sakit mengunjungi Ruksa bersama Ethan tentunya, mengajaknya mengobrol serta menceritakan apa yang terjadi di dalam perusahaan.


" Ruksa, apa kamu tak ingin bangun dan melihat adik mu? Atau mungkin, kamu masih belum menerima kami berdua? Tolong kembalilah, aku yakin jika Ayah mu masih di sini, dia akan sedih melihat kondisi mu yang seperti ini. " Ungkap Alexa dengan nada sedih sembari menggenggam tangan Ruksa yang semakin mengurus.


" Nyonya, maaf menganggu mu, tapi ini sudah waktunya kita pergi. " ujar Gantari.


Alexa pun menghela nafas lalu melepas genggaman tangannya, kemudian bangkit dari kursi. Sebelum berbalik ia kemudian berkata. " Ruksa, tak peduli seberapa besar kamu membenciku dan putraku nanti saat kamu bangun, aku tak peduli, selama kamu bangun dan mengambil kursi yang tengah aku duduki ini. Jadi cepatlah bangun, meski tak ingin mengakuinya, kami sangat merindukan kehadiran mu, Ruksa. " Lalu pergi menunggu ruangan tersebut.


Tidurnya Ruksa yang panjang, tak hanya membuat Alexa sedih, tapi semua orang yang mengenalnya termasuk Dania, meski Ayah dan Kakaknya selalu mengatakan bahwa semua itu bukan salahnya, namun Dania selalu merasa bahwa itu adalah salahnya, karenanya wanita itu tak kunjung bangun.


Sama halnya yang di lakukan oleh Alexa, Dania juga selalu mengajaknya berbicara dan berkata bahwa dirinya sangat meminta maaf sembari berdoa agar wanita itu lekas bangun dan memarahinya seperti dulu.

__ADS_1


Walau pun Dania tak pernah memperlihatkan rasa bersalahnya, namun Ruslan bisa tahu bagaimana perasaan sesungguhnya dari gadis itu. Karena setelah tersadar waktu itu, ia selalu memperhatikan bahwa putrinya selalu tampak murung meski terkadang gadis itu selalu merubah wajah sedihnya dengan senyum palsunya itu setiap kali dirinya ataupun Aldan yang menyadari wajah murung gadis itu selalu berkata: Aku baik-baik saja, hanya saja aku sedang merindukannya, itu saja.


Ruslan sangat menyadari akan perkataan itu, karena ia pun sangat merindukannya, ia menyesal karena setelah sekian lama tidak bertemu, dirinya malah bersikap dingin dan malah menjauhinya, padahal ia tahu betul bahwa wanita itu tak ada kaitannya dengan kematian Nisya, semuanya adalah salahnya, Seharusnya saat itu dirinya segera menyadari hal aneh terjadi dan langsung mencari keberadaan wanita itu.


Namun sayangnya hal itu tidak dilakukannya, hingga pada akhirnya semua ini terjadi dan dirinya tak bisa berbuat apa-apa selain membuat Ayahnya sendiri menebus kejahatannya di masa lampau dan berusaha sebisa mungkin membahagiakan kedua anak Nisya dengan keringatnya sendiri.


Meski Alexa selalu meminta mereka untuk menempati rumah Chandra, namun baik Dania dan juga Aldan dengan tegas menolaknya.


Bagi Dania, rumah itu terasa asing baginya, sedangkan Aldan tak ingin kembali ke rumah lamanya yang sepi dan memilih untuk bersama sang adik, meski hubungannya dengan Ayah barunya terasa canggung dan asing, namun seiring berjalannya waktu ia mulai terbiasa walau terkadang mereka selalu bertengkar hanya karena masalah sepele terlebih lagi jika masalah itu mengenai Dania.


Pasca operasi sum sum tulang belakang yang dilakukan Dania untuk menyelamatkan nyawa sang kakak, hal ini membuat Aldan dan juga Ruslan menjadi overprotektif dalam urusan kesehatan gadis itu.


Walau pun kesehariannya telah berbeda dari sebelumnya, namun Ruslan sangat menikmati kebersamaannya bersama anak-anak Nisya.


Meski sulit di percayai, namun Ruslan telah menyadari bahwa Ruksa pernah berada di tubuh putrinya sampai ledakan itu terjadi.


Sesampainya di ruangan Ruksa, ia terduduk menatap wanita yang selalu dicintainya hingga sekarang, tangannya menggenggam erat tangan rapuh wanita itu dengan penuh kehati-hatian seakan takut jika genggamannya akan mematahkan jari jemari yang rapuh itu. Sorot matanya menatap wanita itu dengan penuh harap.


" Ruksa, aku datang lagi dan kamu masih tertidur. Apa kamu tidak bosan tidur menerus seperti ini? Bukankah kamu lebih menyukai berlarian di gang sempit lalu menghajar berandalan dengan ku? " ujar Ruslan yang terdengar putus asa. " Ruksa, maafkan aku tentang malam itu, sebenarnya malam itu aku ingin mengatakan bahwa aku mencintai mu dan jadilah milikku selamanya. " kemudian bangkit lalu mengecup lembut bibir Ruksa, perlahan ia menjauhkan wajahnya dari wajah wanita itu, namun tiba-tiba kedua bola matanya terbeliak melihat kedua mata Ruksa yang terbuka lebar.


" Se-se-sejak kapan kamu bangun? " tanya Ruslan dengan terbata-bata.

__ADS_1


" Sejak lo datang. " jawab Ruksa dengan santainya, ia terbangun dari posisi tidurnya, kedua matanya menatap lekat pada pria di depannya, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada sembari menyunggingkan bibirnya. " Gue nggak nyangka kalau lo ternyata suka menyerang di saat musuh sedang lemah? " sambungnya dengan nada meremehkan.


Ruslan yang terkejut sebentar, kembali berhasil menenangkan dirinya kembali. Ia kemudian membalas Ruksa dengan menerjangnya dan menyudutkannya di atas ranjang.


" Memangnya kenapa? Selama gue bisa menang? "


" Lo!. . . A.. .aduh kepala gue sakit! " Ruksa pun berpura-pura sakit hingga melemahkan pertahan Ruslan dan membuat keadaan berbalik.


" Okeh, gue nyerah. " ujar Ruslan tak lama kemudian.


" Cih, nggak seru banget sih. " ucap Ruksa sembari melepaskan Ruslan dari cengkeramannya.


Pria itu kemudian tersenyum, kemudian kembali terduduk sembari menatap kearah luar jendela. Keduanya saling terdiam dengan pemikiran masing-masing hingga akhirnya. . .


" Karena kamu sudah mendengarnya, jadi apa jawaban mu? "


Ruksa terdiam, sembari berpose seakan-akan dirinya tengah mencari jawaban untuk soal yang sangat rumit. Sedangkan Ruslan hanya bisa menunggu dengan sabar.


" Gimana yah, mengingat lo pernah cuekin gue dan bersikap dingin sama gue kayaknya. . .


Ruslan menunduk pasrah sembari menghela nafas.

__ADS_1


" Kayaknya, kita harus nikah deh. "


Kepala Ruslan seketika mendongkak dengan ekspresi wajah yang kebingungan. " Huh? "


__ADS_2