Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
75


__ADS_3

Selama perjalanan menuju Rumah Sakit, Ruksa tak bisa tenang, ia terus memikirkan kondisi Ruslan, karena terakhir kalinya dirinya bertemu adalah saat dirinya menanyakan tentang siapa ayah Dania, dan malah berakhir dengan sebuah pertengkaran yang membuat hubungan mereka sedikit merenggang.


Karena malu dengan sikapnya yang kekanak-kanakan membuatnya jadi enggan untuk menemui Ruslan, takutnya pria itu masih marah dan malah membenci orang yang salah di masa depan, di dalam hatinya ia tak berhenti mengutuk kebodohannya sendiri serta sikapnya yang tidak sabaran itu padahal dirinya tak pernah bersikap seperti ini.


Jika Ismail tahu dengan sikap tak sabarannya ini, Ruksa tak yakin bahwa pria itu masih bisa mau mengakuinya sebagai atasannya.


" Pak bisa cepat sedikit lagi nggak? Soalnya saya lagi buru-buru nih. " pinta Ruksa yang merasa kesal karena perjalanannya yang terasa sangat lama dan tak kunjung sampai tujuan, sesekali ia melihat ponselnya, memastikan jika Bibi May kembali menghubunginya lagi.


" Sabar Neng, inikan masih lampu merah, memangnya Neng mau tanggung jawab kalau saya di tangkap sama polisi? " timpal sang pengemudi ojek online yang berusia sekitar tiga puluh awal.


Ruksa yang tak bisa berbuat apapun hanya bisa mendengus berulang kali, kenapa juga lampu merah itu mendadak menjadi sangat lambat untuk berganti dengan lampu hijau?


Kedua kakinya tak bisa berhenti bergerak gelisah, sesekali menatap lampu lalu lintas yang tak kunjung berubah. Belum lagi cuaca sedang terik-teriknya, membuatnya semakin tidak sabaran.


Setelah memakan waktu kurang lebih satu jam, Ruksa pun akhirnya bisa sampai ke Rumah Sakit tujuannya dengan selamat.


Tanpa membuang waktu, ia pun langsung beranjak turun dari ojek online yang di pesannya dari sekolah itu, tak lupa ia membayar terlebih dahulu, namun lupa untuk melepas helm yang melekat di kepalanya.


" Neng! Itu helmnya belum di lepas! " teriak sang pengemudi ojek online.


Ruksa yang menyadari hal tersebut, langsung menghentikan langkah kakinya dengan segera, ia pun berbalik, dan berlari ke arah sang pengemudi ojek online, melepas helm di kepalanya lalu memberikannya pada pria itu. " Maaf, dan juga terima kasih. " Ujar Ruksa seraya kembali berlari masuk ke dalam rumah sakit dengan tergesa-gesa.


Sang pengemudi Ojek online itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, seraya berdecak. " Dasar anak zaman sekarang. " ucapnya lalu menancap gas meninggalkan area rumah sakit, meneruskan pekerjaannya mencari pelanggan.


Setelah berlari menyusuri lorong lalu naik tangga satu lantai, Ruksa pun akhirnya sampai di depan kamar pasien di mana kamar itu adalah tempat Ayah Dania di rawat.


Dengan nafas yang masih memburu, Ruksa pun menggeser pintu kamar pasien itu dengan cukup keras, hingga membuat penghuni pasien lain yang berada di kamar itu terlonjak kaget, termasuk seorang suster yang hendak menyuntikkan obat pada infus salah satu pasien yang di tanganinya.

__ADS_1


Beruntung di ruangan itu tak ada pasien yang menderita gagal jantung, jika ada. Pasti pasien itu langsung meninggal.


Ruksa yang bermuka tebal pun langsung berjalan masuk, tanpa menghiraukan tatapan-tatapan yang mengarah padanya.


" Bi . . . Bibi May, di .. . . dimana dia sekarang? " Tanya Ruksa dengan nafas tersengal-sengal.


Wanita berusia empat puluh tahunan itu berbalik lalu mengernyit dahinya melihat gadis yang sudah di anggap sebagai keponakannya itu tampak sangat kacau. Rambut yang acak-acakan serta kacamata yang hampir jatuh.


" Bi. . .Bibi May, a. . apakah kamu mendengarkan aku? " tanya Ruksa kembali.


Di detik berikutnya, wanita yang di sapa dengan panggilan Bibi May, langsung tersadar, tanpa membalas pertanyaan itu, ia pun langsung menyuruh Ruksa untuk duduk sejenak, sambil menyuruhnya menenangkan diri terlebih dahulu.


Dengan telaten, tangannya dengan merapihkan rambut keponakannya itu.


Tak lupa, BIbi May memberi Ruksa segelas air putih.


" Lagi? " tawar Bibi May.


Namun, Ruksa menggelengkan kepalanya, ia kemudian kembali bertanya kemana perginya Ruslan? Kenapa dia tak ada di kamar itu? Dan hal gawat apa yang di maksud wanita itu tadi di telpon?


" Oh dia sedang menjalani, pemeriksaan akhir apakah dia bisa pulang atau tidak hari ini. " ungkap Bibi May dengan santainya.


Ruksa pun tertegun sejenak, bukankah tadi di telpon tadi, wanita itu mengatakan bahwa kondisi Ruslan sedang gawat.


" Tunggu? Bukankah tadi Bibi bilang, bahwa kondisi. . .


Bibi May berbalik menatap Ruksa, di detik berikutnya ia menepuk tangannya seraya mengatakan maksud kondisi gawat yang di maksudnya.

__ADS_1


Sebenarnya, memang kondisi Ruslan sudah membaik, namun Bibi May masih merasa ragu, sebab waktu lalu luka di tubuh pria itu pernah terbuka kembali.


Karena kekhawatirannya, ia pun meminta Ruslan untuk di rawat kembali setidaknya dua hari lagi, setidaknya sampai luka di tubuhnya sudah mengering dan tak akan terbuka lagi. Jika masalah biaya, Bibi May mau menanggung semua biaya rumah sakit. Lagi pula pria itu juga sering membantunya di masa lalu, jadi wanita itu ingin membalas budi.


Namun seberapa keras ia membujuk, pria itu tak pernah mau mendengarkannya, dan bersikeras ingin segera pulang ke rumah, dengan alasan kalau tokonya harus tetap buka dan juga pria itu sangat mengkhawatirkan putrinya. Takut jika putrinya kesepian.


Ruksa yang awalnya ingin marah, tiba-tiba mengurungkan niatnya dan malah berubah menjadi tak enak hati karena menyadari bahwa terbukanya luka Ruslan pasti karena sikap dirinya waktu itu, padahal saat itu dirinya sadar bahwa pria itu terjatuh dari atas ranjang, tapi dirinya malah memilih untuk menulikan pendengarannya.


" Dania? Kenapa kamu malah ke sini? " Ujar Ruslan yang baru saja kembali.


" KENAPA APA AKU TAK BOLEH MENGUNJUNGI AYAH KU SENDIRI?! "


Tubuh Ruslan pun sedikit tersentak. " Apa kamu sudah tidak marah lagi pada Ayah? "


Ruksa pun beranjak turun dari ranjang pasien, ia berjalan menghampiri itu, lalu memeluknya pelan seraya membenamkan wajahnya. " Kenapa aku harus marah? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu? Karena sudah bersikap kasar. "


Tanpa sadar pelukan itu semakin mengerat membuat Ruslan sedikit meringis, tapi rasa sakit itu tak seberapa dengan rasa keterkejutannya. Ia pun membalas pelukan itu, salah satu tangannya mengelus punggung kecil putrinya dengan lembut.


" Maaf. " ucap Ruksa.


Ruslan pun tersenyum, tangannya mencoba menjauhkan putrinya dari tubuhnya, dirinya ingin menatap wajah putrinya, namun gadis di depannya itu malah semakin mengeratkan pelukannya, membuatnya kembali meringis.


Ruksa yang mendengar rintihan itu pun langsung melepaskan pelukannya, dengan raut paniknya, ia membantu pria itu untuk berjalan, memapahnya ke atas ranjang.


" Pokoknya, Ayah harus di rawat dua hari lagi, " putus Ruksa


Ruslan yang mendengar itu keputusan secara sepihak itu, ingin melayangkan protes, namun putrinya itu malah mengancam bahwa dia akan mogok makan dan mogok berbicara, membuatnya terpaksa menyetujuinya, padahal dirinya sudah sangat bosan dengan suasana Rumah Sakit serta bau obat yang selalu menusuk hidungnya.

__ADS_1


__ADS_2