
Esok paginya.
Sejak ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah, Ruksa tak bisa berhenti mendengus kesal, setiap kali dirinya mengingat kejadian semalam yang membuatnya malu.
Sungguh laki-laki yang tak punya hati!
Bagaimana bisa laki-laki itu meninggalkannya begitu saja? Untung saja ada polisi yang baik hati dan mengantarkannya pulang hingga ke dalam rumah. Walau sebenarnya itu tak perlu, karena Ruksa bisa mengurus dirinya sendiri.
Tapi tetap saja, seharusnya sebagai seorang laki-laki sejati, dia seharusnya tak berbuat seperti itu terhadapnya.
Dasar anak jaman sekarang.
Di saat otaknya sedang bergelut dengan pemikiran dirinya sendiri. Tiba-tiba langkah kaki Ruksa terhenti ketika menyadari bahwa sekolah ini terasa tenang seperti biasanya. Tidak ada jejak-jejak kegaduhan yang seharusnya terjadi sejak tadi.
Padahal waktu semalam telah terjadi penggrebekan di sekolah ini.
Ruksa pun terdiam sejenak dan menyadari, bahwa tak ada berita yang muncul di televisi atau pun di sosial media mengenai kejadian semalam. Padahal Ia sangat yakin bahwasannya semalam, setidaknya ia menangkap ada satu hingga empat reporter yang datang untuk meliput.
Lantas kenapa tak ada satu pun dari mereka yang menayangkannya? Apa mereka ketiduran?
Rasanya tidak mungkin, karena bagi seorang reporter hal itu sudah biasa. Bahkan setelah setengah jam setelah kejadian, mereka mampu mengedit, lalu langsung menyebar luaskan baik itu berupa sebuah siaran langsung atau pun sebuah artikel yang tersebar di seluruh jejaring sosial media.
Padahal, kejadian semalam merupakan sebuah berita besar yang mampu menggemparkan seluruh kota. Tidak, malah bisa menggemparkan seluruh negeri bahkan bisa mencapai berita internasional.
" Pagi Dania. " Sapa Mikael.
" Pagi. . . Eh. " Tanpa sadar langkah kaki Ruksa terhenti, kedua alisnya mengernyit. Ia pun berbalik dan menghampiri Mikael yang masih setia menyapa setiap murid yang baru saja tiba di sekolah.
Kedua tangannya terlipat di dada, seraya menatap Mikael dengan intens.
Sadar tengah di tatap, Mikael pun berbalik dan menatap balik pada Ruksa dengan tatapan teduhnya. " Ada apa? "
" Nggak, hanya saja gue ngerasa kalau lo sedikit berbeda dari biasanya. Lo sakit? " tanya Ruksa yang menyadari akan hal aneh pada diri Mikael. Selain tak menghindarinya seperti kemarin-kemarin, dia juga terlihat sangat pucat. Meski pun dia menyembunyikannya di balik riasan yang hanya bisa di sadari oleh orang profesional seperti Ruksa.
__ADS_1
Akan tetapi, Mikael dengan tegas mengatakan bahwa dirinya sangat baik-baik saja, ia juga menjelaskan di balik tampilannya hari ini karena semalam ia belajar hingga menjelang pagi.
Kedua mata Ruksa menyipit, ia merasa bahwa laki-laki itu tengah menahan sesuatu, tapi ia pun tersadar bahwa itu bukan urusannya.
" Oh iya, tahu nggak semalam . . .
" Pagi EL. " sela Queensha yang baru saja tiba, tubuhnya mendorong tubuh Ruksa hingga membuatnya mundur tiga langkah.
Kedua mata gadis itu mendelik tajam pada Ruksa, namun ketika menatap Mikael, kedua mata gadis itu berubah menjadi hangat dan menatap Mikael dengan tatapan penuh cinta.
Ruksa pun hanya bisa mencibir di dalam hati dan memilih pergi menjauh dari gadis itu. Ia sedang tidak mood berurusan dengan Queensha.
Tak lama kemudian, tak sengaja, ia berpapasan dengan Darian yang terlihat sangat sibuk dari biasanya. Kedua matanya begitu fokus dengan tablet yang tengah dipegangnya.
" Selamat pagi! "
Tubuh Darian terlonjak kaget, beruntung tablet di tangannya itu tidak jatuh ke lantai, ia pun mendengus dan mendelikkan matanya pada Ruksa. " Pagi! " timpalnya dengan nada ketus
Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka terlihat marah sama gue? Salah gua apa anjir? batin Ruksa
" Kita harus bicara. " Sela Darian
Tanpa melayangkan protes, Ruksa pun menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti setiap langkah Darian dari belakang, hingga membawanya ke ruang osis.
" Soal semalam, lebih baik kamu lupakan saja. Anggap saja semua itu tak pernah terjadi, kamu tahu bukan, reputasi sekolah ini telah hancur oleh mu dua kali. Jika kejadian semalam mencuat ke publik, kamu pasti sudah tahu apa yang akan terjadi pada sekolah ini. " terang Darian tanpa basa basi.
Ruksa terdiam, merenungkan setiap kata Darian yang memang ada benarnya. Dan mengetahui alasan, kenapa kejadian itu tak mencuat ke publik sedikit pun? Ia yakin, pasti semuanya pasti perbuatan Darian yang menggunakan kekuatan jabatan ayahnya.
Setelah di pikir kembali, walau terbilang salah karena menyembunyikan kejadian semalam. Tapi tak bisa di pungkiri, bahwa keputusan Darian memang ada benarnya.
Karena jika berita itu mencuat ke publik dan membuat heboh seluruh penjuru negeri, Ia yakin sekolah ini pasti akan di tutup saat ini juga, merangkum serentetan kejadian tak terpuji yang terus terjadi di sekolah ini.
Lagi pula Ruksa tak mau, jika saham keluarga yang sudah tertanam di sekolah ini menjadi anjlok dan merugikan dirinya.
__ADS_1
" Ah, dan juga. Aku ingin memberitahukan padamu, bahwa pertandingan mu dengan Roland secara resmi di batalkan, sebab dia dan kawan-kawannya sudah mengundurkan diri dari sekolah ini. Jadi urusan kita sudah berakhir sampai di sini saja." Ungkapnya.
Kenapa mendadak? Apa mungkin dia takut terungkap? Pantas saja, Laila terlihat sangat loyo. ' Batin Ruksa.
Namun ia tak peduli, berarti Ruksa tak perlu menyuruh Dania untuk pindah dari sekolah ini, karena hama terkuat sudah pergi. Kalau soal Queensha, ia yakin, Dania pasti bisa menanganinya dengan mudah.
Terlebih lagi, semua mata sedang memperhatikan Queensha. Jadi bisa di pastikan bahwa dia tak akan berbuat sesuka hati seperti sebelumnya.
Ahh rasanya ia tak rela meninggalkan tubuh ini, sebab ada banyak keseruan yang tak pernah ia dapatkan di tubuhnya yang sudah dewasa.
Rasanya seperti mimpi saja. Dia tak pernah menyangka bahwa dirinya akan terjebak di tubuh anak SMA yang ternyata anak dari Ruslan.
Kalau di ingat kembali, hari ini adalah hari terakhir jiwanya berasa di tubuh Dania.
Kalau begitu, sebelum besok dirinya kembali ke tubuhnya, sebisa mungkin ia harus mendengar cerita lengkap dari pria itu malam ini juga.
" Okeh, kalau begitu terima kasih atas kerja samanya. " ujar Ruksa seraya mengulurkan tangannya ke depan.
Darian pun dengan senang hati menjabat tangan itu.
Di rasa tak ada lagi urusan, Ruksa pun berjalan meninggalkan ruang osis dan berjalan menuju ke kelasnya.
Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba. . .
" Kejutan!!! " Tiba-tiba sang malaikat maut secara tiba-tiba muncul, membuat Ruksa terlonjak kaget. Tanpa sadar ia pun mengumpat.
Seketika, puluhan pasang mata mengarah padanya.
Menyadari akan hal tersebut, Ruksa pun mengajak malaikat maut, untuk menjauhi kerumunan dan membawanya ke atap sekolah.
" Bisa nggak sih? Lo nggak muncul seenak jidat! "
" Maaf, tapi yang penting sekarang adalah. .. . . . Selamat! Pertukaran tubuh kalian di perpanjang hingga seratus hari. "
__ADS_1
" Oh~. . . . Apa?!!! "