Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
96


__ADS_3

Meski awalnya enggan ragu, pada akhirnya Ruksa memilih untuk menceritakan kejadian penggrebekan waktu lalu tanpa menyisakan sedikit pun. Kecuali saat dirinya memukul Roland dan kawan-kawannya, ia berasumsi bahwa dendam itu berawal karena dirinya adalah orang yang membuat mereka tertangkap. Sayangnya saat penggrebekan Roland berhasil melarikan diri. Karena tak memiliki bukti yang kuat, maka ia hanya memilih bungkam.


" Tapi kenapa kalian ingin tahu? Bukankah kasus itu telah selesai? " Tanya Ruksa penasaran." Mereka sudah mendapat hukuman bukan? "


" Menurut mu? " Tanya Zaiden.


Ruksa langsung terdiam berpikir, kedua tangannya terlipat di dada, di detik berikutnya kedua bola matanya terbeliak. Tanpa sadar ia berdiri sembari berteriak." Apa mereka sudah bebas?! Tapi bukankah seharusnya mereka menjalani hukuman, setidaknya empat tahun penjara kan? "


" Putri ku tenanglah. " tutur Ruslan yang berusaha menenangkan putrinya.


" Jadi, kamu sungguh tidak berkelahi dengan Roland? " tanya Rajendra memastikan sembari mengalihkan pembicaraan mereka.


" Tentu saja, apa paman bodoh, aku ini hanya seorang gadis yang lemah, jadi mana mungkin aku melakukannya. " Elaknya. " Benar kan Ayah? "


Seketika, kedua mata Zaiden menyipit, ia tahu bahwa gadis di depannya ini sedang berbohong, padahal sudah jelas bahwa gadis itu telah memukuli Roland dan temannya hingga babak belur. Bagaimana ia tahu? Karena ia menyaksikan sendiri dengan kedua mata kepalanya.


Kala itu, dirinya tengah menyusup ke Cloud School untuk mencari informasi. Tapi siapa sangka, dirinya malah melihat adegan tak senonoh, awalnya ia berniat menolong, tapi siapa sangka gadis itu bisa mengatasi sendiri.


Akan tetapi, apa yang dilakukannya sekarang? Kenapa dia harus berbohong dan bersandiwara seperti ini? Pikir Zaiden.

__ADS_1


" Kamu dengar, sudah ku bilang, anakku tak melakukan seperti yang kamu bicarakan " Ujar Ruslan yang merasa kesal dengan perkataan Zaiden tadi, ia bahkan menuduh pria sebagai seorang penipu karena menceritakan sesuatu yang tidak masuk di akal.


Meski perkataan Ruslan cukup kasar, tapi Zaiden tak peduli sama sekali dengan pernyataan pria itu, ia memilih meminum air putih yang tersedia di atas meja dengan wajah datarnya.


Hal itu membuat Ruslan semakin geram, ia beranjak dari kursinya dan siap meninju wajah Zaiden


Namun, hal itu langsung di cegah oleh Rajendra dan juga Ruksa.


Merasa percikan api semakin membesar, Rajendra pun langsung meminta pada Ruslan untuk tenang sekaligus meminta maaf, ia juga mengatakan bahwa mereka bukan penipu. " Jika kalian ragu tentang kami, maka kalian bisa menanyakan pada kepolisian setempat, saya yakin mereka pasti mengenal kami dengan baik. " terangnya dengan nada serius.


Secara perlahan, Ruslan mengatur nafasnya supaya tenang, kedua matanya menyipit, menatap Zaiden dengan tatapan mengintimidasi.


Namun, Zaiden yang di tatap seperti itu, malah membalas tatapan itu dengan tatapan mengintimidasi juga.


Akan tetapi, Rajendra mengabaikan tatapan itu, setelah mendapat apa yang diinginkannya, ia pun pamit undur diri sembari menarik paksa Zaiden untuk keluar dari toko.


" Zaiden, bukankah kamu sudah berjanji padaku untuk bersikap tenang?" tanya Rajendra.


" Menurut mu, kenapa gadis itu menyembunyikan soal perkelahiannya? " timpal Zaiden dengan sebuah pertanyaan, mengabaikan pertanyaan yang di layangkan oleh rekannya padanya

__ADS_1


" Apa kamu mendengarkan perkataan ku? "


" Setelah di ingat-ingat, bukankah dia juga terlibat dalam baku tempak yang terjadi di keluarga Wisesa waktu lalu? "


" Jangan mengalihkan pembicaraan. "


" Sepertinya, gadis itu adalah kunci kita. " ujar Zaiden dengan wajah sumringahnya, berbeda dengan Rajendra yang lelah karena terus di abaikan, ia kemudian memilih berjalan lebih dulu dan meninggalkan pria itu yang masih bergelut dengan pikirannya.


Sepeninggalnya Zaiden dan Rajendra, Ruslan dan Ruksa memilih untuk mendisplay beberapa rak makanan yang sudah kosong.


Di selanya mendisplay rak makanan yang kosong, Ruslan tal sengaja melirik ke arah jam di dinding, dan menyadari bahwa putrinya sedikit terlambat dari biasanya. " Tak biasanya kamu pulang terlambat. " ujarnya tiba-tiba.


" Apa lebih lima belas menit, bisa di bilang terlambat. " t


" Tentu saja. "


Ruksa memutar bola matanya dengan malas, hal yang paling tidak di sukai dari Ruslan dari dulu adalah, sifatnya yang terlalu On Time. Bahkan sejak dulu, dirinya selalu merasa di interogasi setiap kali dirinya terlambat, meski pun hanya terlambat satu menit saja


" Aku hanya mampir ke sebuah tempat bersama seorang teman. " timpal Ruksa seadanya.

__ADS_1


" Teman? Siapa? Apa dia laki-laki? Atau perempuan? "


Pergerakan Ruksa terhenti sejenak, ia berbalik lalu menatap punggung pria itu yang tengah sibuk mengisi rak kosong dengan snack baru. Ia terdiam, tak menjawab pertanyaan itu, pasalnya ia sudah berjanji pada Rusdi untuk tidak menceritakan perihal pertemuannya di depan sekolah


__ADS_2