Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
89


__ADS_3

Waktu pun berlalu begitu cepat, tiga hari pun telah berlalu, akan tetapi, baik dari Ruslan mau pun dari pihak keluarga Wisesa dan musuh, ketiganya belum menemukan keberadaan dari Ruksa dan Dania hingga sekarang, padahal mereka sudah mengerahkan semua tenaga yang di miliki, tapi mereka masih belum membuahkan hasil apapun.


Di sisi lain, Ruksa yang sudah bertahan sebisa mungkin dengan memanfaatkan tumbuhan dan berburu hewan babi yang hidup tak jauh dari pondok mulai merasa resah dan juga khawatir.


Pasalnya, meski demam di tubuh Dania sudah turun, namun kondisinya masih sangat mengkhawatirkan. Rona wajahnya masih pucat pasi bahkan nafsu makannya semakin berkurang, membuatnya semakin khawatir, dia berasumsi bahwa gadis itu sepertinya terkena racun, entah itu dari peluru atau dari tumbuhan beracun yang tak sengaja mengenainya saat melarikan diri.


Ia kemudian memutar otak, mencoba mencari cara untuk segera keluar dari gunung itu dan segera membawa gadis itu ke rumah sakit. Takutnya, jika di biarkan semakin lama, tubuh itu tak akan lama lagi untuk bertahan.


Namun, dirinya harus berhati-hati dan tak boleh bertindak gegabah, pasalnya ia harus memikirkan kemungkinan bahwa para musuh, masih mencari keberadaanya.


Mungkin untuk sekarang, dirinya harus bertahan sampai dari keluarganya datang, tapi sayangnya, Dania tak bisa terus menunggu.


Setelah memaksa Dania untuk mengisi perut dengan makanan yang ada, Ruksa kemudian berjalan keluar, berharap sebuah ide muncul di dalam kepalanya.


Akan tetapi, tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan menyadari bahwa suasana hutan begitu sunyi dari sebelumnya, bahkan suara cuitan burung pun tak terdengar sama sekali, membuatnya menyadari, bahwa akan ada bahaya yang sedang mengarah kepadanya.

__ADS_1


Tak ingin menyesal di kemudian hari, Ia kemudian kembali ke dalam gubuk , lalu memindahkan tubuh Dania ke punggungnya dan membawanya pergi dari gubuk itu.


Dan benar saja, tak lama setelah kepergian mereka, seekor Beruang coklat berukuran besar baru saja melintasi gubuk itu


Jika saja, dirinya terlambat menyadari hal tersebut, ia dan Dania pasti sudah berakhir berada di dalam perut hewan buas itu..


Ia kemudian bernafas lega, namun kelegaannya berakhir dalam waktu singkat, ketika dirinya tak sengaja menangkap beberapa siluet pria yang terasa tak asing di matanya.


Hingga beberapa detik kemudian, kedua bola mata Ruksa terbeliak ketika menyadari bahwa merek adalah orang sama yang telah membuatnya berakhir tersesat di dalam hutan.


Jika dirinya memilih kembali, ia pasti akan bertemu dengan Beruang itu dan berakhir menjadi santapan hewan buas, namun jika maju, dirinya akan bertemu dengan para pembunuh itu dan berakhir mati di tangan mereka


' Apa yang harus gue lakukan?' Batinnya kembali.


Di balik punggungnya, Dania tertidur tak sadarkan diri. Ia terdiam sejenak mencoba berpikir, namun belum sempat ia berpikir, sebuah tembakan melesat ke arahnya dan mengenai salah satu sisi tangannya.

__ADS_1


Ruksa pun meringis kesakitan, namun hal itu tak membuatnya kehilangan keseimbangannya. Secara spontan ia berlari menuju kemana Beruang coklat itu pergi, hingga membawanya berakhir berada di depan mulut gua.


Ruksa meyakini bahwa Beruang itu akan melakukan hibernasi panjang. Dan itu akan menjadikan hewan itu sangat sensitif pada suara.


Jantung Ruksa berpacu dengan cepat, tubuhnya gemetar karena lari dengan membawa tubuh Dania di punggungnya dari kejaran para musuh.


Saat ini, dirinya berada di depan mulut gua, dimana di dalam gua, sang beruang tengah bersiap-siap untuk melakukan hibernasi.


Ia kemudian berpikir, apakah dia akan memilih mati di makan beruang atau mati di bunuh oleh sekelompok musuh yang sedang mengincarnya?


Karena kedua pilihannya sama-sama mati, maka Ruksa pun memilih masuk untuk masuk ke dalam gua dan memilih mati di bunuh beruang saja.


Akan tetapi, saat hendak masuk, dirinya tiba-tiba di tarik ke samping semak-semak membuatnya sangat terkejut dan hampir berteriak. Namun, mulutnya langsung di bekap oleh sebuah tangan berukuran besar, ia kemudian menoleh dan mendapati Ruslan di depannya.


Tanpa sadar, kedua bola matanya terbeliak lalu berkaca-kaca, ia tak pernah menyangka akan kedatangan dari pria itu, padahal sebelumnya, ia sudah berpasrah diri.

__ADS_1


" Maaf, Ayah terlambat datang. " ujarnya dengan nada yang di penuhi dengan perasaan menyesal. Pria itu kemudian menatap menatap wanita yang berada di pangkuannya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan


__ADS_2