
"Pasti karena dia di buli kan? Kasian sekali... benar-benar deh Jena itu," Leyan juga mudah simpati.
" Aku bisa dengar itu," gumam Olivia sambil senyum. Sementara Dira di sana, membisu, Ash yang sedang kesal tidak mudah di ajak bicara.
" Ash, aku pergi ke taman ya," tidak ada respon, Ash masih diam melamun.
" Aku sudah bicara loh, aih aku pergi! Ash! Tuli!!"
" Pergi ya pergi sajalah, ini pun istana area milikmu, milik Putri Olivia tentunya," tanpa memandang Dira
" Kamu tidak temani?"
" Tidak, jangan jauh-jauh," kali ini memandang Dira
" Oh baiklah," senyum
"..." Membisu
" What?"
" Kamu bisa menangis?" Pertanyaan macam apa itu, batin Dira.
" Well, kenapa tanya itu?"
" Bisa nangis sekarang?"
" Hei buat apa?" Kesal
" Hiburan,"
" Hi, hiburan? "
" Aku ingin lihat wajahnya yang menyedihkan dan kasian itu, maka aku akan maafkan keangkuhannya selama ini," melamun lagi
"Hmm?"
" Ah lupakan, pergi sana!"
" Kamu kenapa sih?"
" Udah sana, kamu ini lamban,"
" Huh?"
" Lamban!" Menatap datar
" Ash menyebalkan!" Pergi dengan kesal, tiba-tiba ia melihat kupu-kupu yang bersinar terang, dirinya tak pernah melihat hal seperti itu, Dira mengejar kupu-kupu itu sampai ke taman pribadinya.
" Wuahhh," brukk, tiduran di rerumputan
" Teriknya menyilaukan," menutup mata saat dirinya diterpa sinar matahari.
" Ai seorang putri yang ku tarik," seorang pria usia 19 tahun, Wilius, ia mempunya bakat mengendalikan hewan.
" Hmm? Siapa?" Wilius hanya tersenyum.
" Putri Olivia ternyata masih anak-anak, pfft..."
__ADS_1
" Oh hei apa yang lucu? "
" Perkenalkan aku pangeran Wilius ovilis, apa kamu pernah dengar?"
"..." Mana kutahu, aku kan bukan orang sini, batin Dira.
" Tau tapi sudah lupa ya?" Senyum
" Kurasa begitu," sok polos
" Haha tunjukan saja jati dirimu, kamu bukanlah orang seperti ini,"
" Jadi kamu tau aku?"
" Tentu saja, "
" Aku juga tau siapa pangeran yang renacannya akan menikahimu, "
" Peramal ya? Aku saja tidak tau,"
" Aku memang sudah tau," senyum
" Lalu siapa?"
" Rahasia," ughhh dia pembohong.
" Aku tidak bohong," seakan pikiran terbaca
" Kamu bisa membaca pikiran?"
" Lalu siapa?" Nada sinis
" Rahasia," masih santai
" Ya sudah, terserah kamu deh,"
" Aneh,"
" Apanya?" Dira ingin segera pergi menjauh darinya, karena takut dia orang jahat.
" Kamu," mendekat
" A, ada apa? Jangan dekat-dekat dong,"
" Seperti bukan dirimu,"
" Apa maksudmu?" Dira menjadi tegang
" Biasanya kamu selalu menghindar dari trikku, seakan tau akulah yang melakukannya, tapi pada saat ini, kamu polos dan seperti tidak tau apa-apa...apa aku salah menebak?"
" Itu, rasanya bukan urusanku," pergi, tapi Wilius menghadang
" Apa-apaan?" Takut
" Kita baru saja bertemu,"
" Lalu?"
__ADS_1
" Ikut denganku, kita main," senyum
" Apa?"
" Anak-anak suka main kan?"
" Tidak, bukan, maksudku..."
" Ayolah, aku ini ramah," wajahnya yang cerah, rambut dan mata merah muda, seakan menjanjikan pertemanan yang hangat.
" Aku tidak," Dira ragu, Wilius mengulurkan tangannya.
" Jangan coba-coba menyentuhnya!" Peringat Ash
" Huh? Kalau begitu lain kali saja," menghilang dengan jejak kupu-kupu.
" Apa dia orang jahat?"
" Tidak jahat,"
" Lalu kenapa aku tidak boleh ikut dengannya?"
" Kalau wanita mungkin akan ku biarkan, kecuali lesbi," jelas dia sedang menjelaskan kecemburuan nya.
" Ash, apakah putri Olivia akan di jodohkan?"
" Iya, kayanya," langsung suram
" Pria itu, dia katanya tau siapa pangeran yang akan menikahi putri Olivia"
" Aku juga tau," makin suram
" Putri Olivia tau?"
" Tidak, walau dia bisa tau dengan bertanya, dia tidak melakukan itu, dia mengabaikan hal itu, aku tidak tau apa yang dia pikirkan,"
" Dengan sihir kan kamu bisa tau..."
" Mana mungkin aku lancang, lagipun dia punya sihir, mungkin aku tidak bisa menerobos ingin tau apa isi pikirannya,"
" Aku tidak tau hal itu,"
" Mau ku jelaskan?"
" Tidak, terima kasih, aku banyak baca ini di novel, mungkin tidak jauh beda, seperti mana, iya kan?"
" Kayanya kamu tau dikit, ga apalah," senyum
" Nah gitu dong,"
" Apa?"
" Senyum," Ash langsung dingin
" Aih?"
" Waktunya makan siang, ayo..." Dira hanya mengangguk.
__ADS_1