Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
37


__ADS_3

" Siapa itu Ruksa? " Tanya Ruksa pada Ruslan.


Pria itu tertegun sejenak setelah sekian lama mendengar nama itu kembali, nama yang sudah lama tak terdengar lagi kabarnya.


Meski dirinya sangat terkejut mendengat nama itu, tapi dia berusaha sekuat mungkin untuk bersikap seperti biasa. " Dari mana kamu dengar nama itu? "


Tanpa menjawab pertanyaan dari Ruslan, Ruksa pun merogoh sesuatu di kantong celananya, ia pun menyerahkan sebuah gelang tali berwarna hitam dengan dua buah ukiran nama yang menggantung di sana.


Awalnya Ruslan tal menyadari benda apa itu, tapi sepintas ia merasa akrab dengan benda itu. Karena penasaran, ia pun meraih benda kecil itu, di detik berikutnya kedua bola matanya terbeliak, tangannya sedikit gemetar memegangi benda itu. " Dari mana kamu mendapatkan benda ini? " tanyanya dengan suara ketir.


" Oh, aku tak sengaja menemukannya di bawah lemari tv. " ucapnya bohong, Ruksa pun mendesis. " Kenapa? Apa benda itu penting? " tambahnya mengompori.


Hening sejenak.


Ruslan pun terdiam sejenak, merasa tak pernah menyangka akan melihat benda itu, padahal benda itu sudah lama hilang sebelum dirinya pindah ke rumah ini.


Tak peduli seberapa keras ia mencari, benda itu tak pernah di temukan di manapun, saat tahu benda berharganya itu telah hilang. Ruslan pun hanya bisa pasrah.


Tapi ia tak pernah menyangka akan melihat benda itu lagi. " Terima kasih sudah menemukannya. " Ungkapnya dengan tulus. " Kamu tahu padahal benda ini begitu berharga, namun dengan teledornya ayah malah menghilangkannya. "


" Jadi, siapa itu Ruksa? " tanya Ruksa kembali dengan raut wajah yang di penuhi rasa penasaran.


Namun Ruslan tak menjawabnya, ia beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju kamar tidur miliknya. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang.


" Itu apa? "


Lagi-lagi Ruslan tak menjawabnya, pria itu malah membuka kotak itu di depan putrinya.


Saat kotak itu terbuka, terdapat sebuah buku album dan barang-barang lawas, seperti telpon lipat, kartu ucapan dan juga sebuah jaket kulit berwarna hitam gelap yang sudah lusuh bahkan terdapat beberapa lubang di sana. Beserta benda lainnya.

__ADS_1


Kedua bola mata Ruksa bersinar, ia tak pernah menyangka bahwa pria itu masih menyimpan benda-benda itu. Tapi malah menghilangkan gelang itu yang merupakan benda paling berharga dan bersejarah di antara mereka.


Tangan Ruslan pun mengambil buku album itu, lalu membukanya dengan perasaan rindu.


Ada banyak poto yang tersimpan di sana, dari Ruslan yang masih bayi hingga remaja. Terdapat pula sebuah poto dirinya bersama dengan geng lainnya.


Halaman demi halaman, keduanya menikmati melihat album itu, termasuk Ruksa yang sejak tadi hatinya menjerit ingin mencuri album itu. Karena di dalam buku album itu Ruslan terlihat menggemaskan terutama photo bayinya.


Tapi ia harus menjaga sikapnya agar tidak ketahuan.


" Ini yang namanya Ruksa. " kata Ruslan seraya menunjuk sebuah photo gadis SMA yang tengah tertidur di sofa dengan wajah lelahnya.


Ruksa selaku pemilik photo tersebut tak pernah tahu kapan photo itu di ambil? Tak hanya ada satu itu saja. Namun ada banyak photo miliknya yang tak pernah disadarinya.


" Kenapa? Ada banyak photo dia? "


" Karena dia adalah wanita yang ayah sukai sekaligus cinta pertama ayah. " ungkap Ruslan.


Tangannya memegangi tubuh bagian dadanya, memeriksa apakah jantungnya masih baik-baik saja. " Ke-kenapa kamu begitu terkejut seperti itu? Untung saja, jantung ayah masih baik-baik saja. " ujar Ruslan yang masih menenangkan jantungnya akibat keterkejutannya.


Tubuh Ruksa menjadi limbung seketika, setelah mendengar pernyataan itu. Ia tak pernah menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. " Apa itu sungguhan? " tanya Ruksa kembali, memastikan bahwa apa yang baru saja di dengarnya adalah sebuah kebenaran.


" Tentu saja itu sungguhan, jika tidak? Untuk apa ayah mengumpulkan gambar miliknya. Lihat, ayah bahkan masih menyimpan semua barang pemberian darinya. " Terang Ruslan.


Tapi, Ruksa masih tak bergeming. Otaknya tiba-tiba menjadi sulit mencerna setiap perkataan dari pria itu.


Menyadari akan reaksi dari putrinya, Ruslan pun menangkan jantungnya terlebih dahulu. Ia pun menarik kursi tepat di samping putrinya lalu terduduk. Di tatapnya wajah putrinya dengan tatapan sakit hati serta kecewa. " Kenapa? Apa kamu tak percaya dengan apa yang baru saja ayah katakan? "


' Tentu saja gue nggak percaya sama sekali. Coba pikirkan. Jika benar gue adalah cinta pertama lo, kenapa lo malah pacaran dan nikah sama orang lain? Dan bukannya gue.' Batin Ruksa yang masih tak terima dengan pernyataan Ruslan. Ia pun mendelikkan matanya kepada pria itu.

__ADS_1


" Lantas, kenapa tak pernah mengungkapkan bahwa kamu mencintainya? "


" Bagaimana kamu tahu? Bahwa ayah tak pernah mengungkapkannya. "


" Oh, soal itu. . . Karena . . . Tak ada satu pun photo yang menandakan bahwa kalian adalah pasangan. " pungkasnya


Ruslan pun mengernyitkan dahinya, menatap curiga pada putrinya.


Di tatap seperti itu seketika, seluruh tubuh Ruksa terasa sedang bermandikan keringat, ia pun ingin mengutuk mulutnya yang tak bisa di kendalikan. ia yakin pria itu pasti sudah menaruh curiga terhadapnya


Akan tetapi, pria itu tiba-tiba menghela nafas dengan kasar, ia kemudian menjelaskan bahwa saat itu dirinya adalah seorang pria yang pengecut.


Dirinya terlalu takut bahwa wanita yang disukainya itu menolaknya dan pada akhirnya meninggalkannya. Sungguh, Ruslan tak ingin kehilangan wanita itu, Terlebih lagi banyak yang mengatakan bahwa cinta pertama itu tak akan pernah berhasil. Apalagi jika dia itu merupakan seorang teman dekat.


Maka dari dari itu, Ruslan hanya bisa memilih untuk menyembunyikannya dan memilih untuk mempertahankan persahabatannya yang tak ingin berakhir sampai kapan pun.


Namun sayangnya, apa yang diharapkannya tak semudah di lakukan. Karena sebuah kesalahan fatal yang dilakukannya membuatnya harus memilih menjauh dari wanita iyu.


" Memangnya kesalahan apa itu? " tanya Ruksa.


Namun pria itu kali ini tak menjawab, dia malah menyuruh putrinya untuk pergi tidur.


Akan tetapi Ruksa menolak dengan keras, sebelum ia mendengar penjelasan itu dirinya tak akan pernah pergi tidur.


Tapi setelah melihat tatapan tajam dari Ruslan, membuat Ruksa mau tak mau menuruti semua perkataan pria itu.


Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju kamar miliknya, sesampainya di dalam kamar, ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur dengan perasaan kesal


Padahal tinggal sedikit lagi dirinya bisa tahu apa yang terjadi pada pria itu? Namun seperti nya pria itu masih ingin menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


Tapi satu hal yang tak pernah duga, tenyata pria itu memiliki perasaan yang sama dengannya.


Andaikan dia tahu akan perasaan pria itu sejak dulu, apakah hubungan mereka sekarang akan berbeda?


__ADS_2