Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
97


__ADS_3

Sebenarnya Ruksa sendiri tak pernah menduga akan bertemu dengan Rusdi sepulang sekolah, apalagi pria itu langsung memeluknya tepat di depan gerbang sekolah tanpa memberinya aba-aba dan membuatnya menjadi pusat perhatian.


Ia yakin, besok, dirinya akan menjadi bahan gunjingan di kelasnya. Tidak, mungkin dirinya akan menjadi bahan gunjingan satu sekolah karena menjadi simpanan Om-om.


Dirinya terdiam, dan mengingat bahwa Dania belum pernah bertemu dengan Rusdi, maka ia pun hanya bisa berpura-pura tidak mengenal pria itu, lalu kemudian meronta dari pelukan pria itu.


" Paman, tolong jangan memeluk seorang gadis secara sembarangan. Aku tak mau jadi bahan gunjingan orang. " Ruksa berkata sembari terus meronta.


Tak lama kemudian, Rusdi pun tersadar, ada banyak pasang mata yang mengarah padanya, ia langsung melepaskan gadis di pelukannya, menggaruk kepalanya yang tidak sembari tertawa cengengesan tanpa ada rasa bersalah di wajahnya. " Maaf, paman mu ini terlalu bahagia karena berhasil menemukan mu. "


" Paman? " ucap Ruksa dengan salah satu alis yang terangkat ke atas. "


Kedua sudut bibir Rusdi terangkat ke atas, ia mengatakan bahwa dirinya adalah adik Ruslan. " Kamu pasti terkejut dan bahagia bukan? Kalau pria tampan dan kaya ini adalah paman mu? " ucapnya dengan bangga.


Salah satu ujung bibir Ruksa berkedut, mendengar pernyataan Rusdi yang begitu narsis itu.


" Ya ampun, kamu pasti sangat terkejut bukan? " ucap Rusdi tiba-tiba sembari menepuk kedua tangannya. " Maafkan paman mu ini yang telah membuat mu terkejut. Bagaimana kalau paman traktir makan es krim sepuasnya? Mau? "


Dahi Ruksa mengernyit, kedua matanya menatap aneh pada Rusdi, sebab pertanyaan pria itu mirip dengan seseorang yang ingin menculik anak kecil yang polos.


Ia kemudian menghela nafas lalu memilih mengabaikan Rusdi.


Namun, pria itu malah menarik tangan Ruksa dan menahannya, di detik berikutnya ia mengeluarkan ponsel di dalam saku celananya dan memperlihatkan layar ponselnya berupa sebuah poto dirinya yang berpose dengan Ruslan .


" Kamu percaya kan sekarang? Aku ini sungguh paman mu? Salahkan saya Ayah mu yang telah memisahkan kita. "

__ADS_1


Ruksa kembali menghela nafas, menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Senyuman di wajah Rusdi pun terukir begitu saja, ia begitu senang karena telah menemukan keponakan yang sudah lama di sembunyikan oleh kakaknya, dan juga ia tak menyangka bahwa sang keponakan ternyata memiliki paras yang imut dan juga manis, tapi anehnya, keponakannya itu sama sekali tidak mirip dengan kakaknya.


Akan tetapi, ia langsung mengenyahkan pikirannya dan berpikir mungkin, keponakannya itu lebih mirip dengan ibunya.


" Oh iya, apa kita jadi beli es krim? " tanya Rusdi kembali.


" Maaf, paman. Tapi Ayah sedang menungguku, jika terlambat sedikit saja, dia pasti akan mengintrogasi ku. "


" Ah, Paman lupa, kalau begitu, Paman akan mengantarmu pulang, tapi sebelum itu, ayo kita beli es krim. "


Entah sudah ke berapa kali Ruksa terus menghela nafasnya melihat sikap Rusdi yang kekanak-kanakan, jika saya tubuh ini berisikan jiwa Dania, ia yakin gadis itu akan langsung ikut begitu saja, tak peduli, apakah pria di depannya ini adalah sungguh pamannya atau bukan.


Dan juga, kenapa Rusdi begitu gigih mengajaknya untuk membeli es krim? Apa tidak ada makanan lain selain es krim? Dari banyaknya jenis makanan, kenapa harus es krim?


Sesuai dengan perkataannya, setelah membeli es krim dan memakannya di jalan, Rusdi pun mengantar keponakannya hingga di sebrang jalan, tentunya karena ia takut jika Kakaknya melihat dirinya.


" Oh iya Dania, tolong jangan bilang Ayah mu kalau paman menemui mu. " Rusdi berkata.


" Kenapa? "


" Jika dia tahu, kepala paman mu ini pasti tidak akan ada di posisinya lagi. " terangnya dengan muka memelas.


Mulut Ruksa pun membentuk sebuah huruf 0, sembari menganggukkan kepalanya, lalu pergi meninggalkannya. Tak lupa pria itu juga sempat memberinya uang jajan, tapi langsung di tolaknya, sebab ia tak ingin membuat Ruslan mencurigainya.

__ADS_1


" Baiklah, kalau begitu, besok paman akan menunggu mu di depan gerbang sekolah. "


" Bisakah kita menggantinya? Aku tak ingin menjadi pusat perhatian seperti tadi. "


Kepala Rusdi menunduk dengan tangan yang memangku dagunya, ia berpikir bahwa apa yang di katakan keponakannya itu masuk akal juga, ia kemudian memutuskan untuk menemuinya di kedai es krim tadi.


.


.


.


" Dania, apa kamu mendengar Ayah? "


Tubuh Ruksa tersentak, kedua matanya mengerjap, " Iya, kenapa? "


" Bukankah, Ayah yang harus bertanya, Ada apa dengan mu? Apa ada orang lain yang mengganggumu? Jangan khawatir katakan saja, Ayah pasti akan membantu mu. Jika perlu, Ayah akan memukuli mereka. " terangnya dengan nada serius.


Ruksa menghela nafas, ia mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, dan soal temannya yang ditemuinya, ia hanya bisa mengatakan bahwa dirinya berbohong bahwa teman pria yang ditemuinya hanyalah seekor kucing jalanan yang baru saja ditemuinya tadi.


Akan tetapi sepertinya Ruslan tak mempercayainya, ia kemudian kembali bertanya memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. " Apa karena para berandalan itu? "


" Sudah ku bilang, aku hanya menemui seekor kucing. "


" Kamu yakin? "

__ADS_1


" Sangat yakin. "


__ADS_2