
Arga terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan gadis di depannya, ia berjalan mendekati gadis itu kemudian berbisik. " Aku tak pernah memiliki seorang putri dirimu, karena aku hanya memiliki seorang putra dan calon seorang putra. " kedua matanya memicing menatap tajam pada gadis di sampingnya.
Mendengar penuturan tersebut, salah satu sudut bibir Ruksa terangkat sebelah, ia membalas tatapan itu dengan lebih tajam, di detik berikutnya ia membenturkan kepalanya ke kepala Arga dengan keras hingga membuat pria itu meringis kesakitan, kemudian dengan sigap menembakkan senjatanya ke arah pengawal Arga. Baku tembak pun terjadi kembali dengan sengit.
Suara rentetan tembakan itu pun terdengar hingga keluar gedung, bahkan Dania yang tengah membantu membalut luka Ruslan, seketika terdiam sejenak, membuat perasaannya menjadi tidak enak, kedua tangannya mengepal dengan erat, kemudian memutuskan untuk kembali ke dalam gedung, namun saat hendak pergi, tiba-tiba sebuah tangan besar menggenggam erat pergelangan tangannya, saat menoleh, kedua bola matanya terbeliak mendapati Ruslan yang tiba-tiba tersadar.
" A. .maksud ku, kamu baik-baik saja, syukurlah. Istirahatlah kembali, jangan khawatirkan putriku, aku akan masuk kembali dan menyelamatkannya apapun yang terjadi. " ucap Dania dengan penuh percaya diri.
Akan tetapi, pria itu langsung menggelengkan kepalanya, bahkan melepas transfusi darah serta selang infus yang masih melekat di badannya, lalu bangkit dari posisi tidurnya, kemudian berjalan menuju ke sebuah mobil yang merupakan tempat penyimpanan persenjataan. Tanpa memperdulikan luka serta sakit yang mendera tubuhnya, Ruslan bersikeras ingin kembali masuk ke dalam.
" Tunggu! Jangan pergi! Jika kamu pergi dengan keadaan seperti itu, mungkin kamu akan mati. " Teriak Dania.
" Lalu? Apa aku harus membiarkan putri ku mati konyol di dalam sana?! "
" Tapi dia bukan putri kandung mu bukan? " ucap Dania tanpa sadar.
" Memangnya kenapa? Aku yang mengurus dan membesarkannya sejak kecil, jadi aku adalah Ayahnya. " ucapnya kemudian berjalan masuk kembali tanpa menggubris suara-suara yang melarangnya.
__ADS_1
Melihat pengorbanan Ayah angkatnya, Dania meneteskan air matanya, setelah mengetahui bahwa dirinya bukan anak kandung dari pria itu, dirinya sempat berpikir bahwa selama ini, pria itu merawatnya karena rasa bersalah pada ibu, kakek dan juga neneknya, namun dugaannya salah, ia terlalu menyepelekan kasih sayangnya yang begitu tulus padanya.
* Kembali ke dalam gedung.
Di sisi lain, Arga yang merasa harga dirinya tercoreng akan tindakan gadis yang baru saja ditemuinya membuatnya menjadi murka, setelah berhasil lolos dari baku tembak dan menyuruh Teresa untuk pergi lebih dulu, ia kemudian meminta bawahannya untuk membawakannya senjata api.
Dengan perasaan meluap-luap, ia membabi buta, menembaki semua benda maupun manusia yang menghalangi jalannya.
" Oi, gadis kecil! Ternyata nyali mu cukup besar juga, aku akui itu, tapi kamu sudah melawan orang yang salah. " ujarnya dengan nafas yang memburu serta wajah yang telah di penuhi oleh bercak darah, ia berjalan melewati puluhan mayat yang telah di bantai oleh kedua tangannya sendiri.
Sedangkan, Ruksa bersama Bagaskara dan juga Rusdi, tengah mencari jalan keluar sembari menghindar dari Arga, sebelum bom yang di pasang Ruksa meledak.
Selain karena cadangan peluru yang sudah menipis, Ruksa juga tak ingin membunuh apalagi di bunuh oleh Arga. Karena jika hal itu terjadi, ia tak tahu harus berkata apa di depan Dania nantinya.
" Ah, aku ingat, kamu gadis kecil temannya Ruksa putri ku kan? " Ujar Bagaskara tiba-tiba.
Ruksa yang mendengar pertanyaan tersebut, tak menggubrisnya sama sekali, dirinya memilih fokus untuk menemukan jalan keluar dari pada mendengarkan perkataan pria tua di belakangnya, ia juga tak habis pikir dengan apa yang di bicarakan oleh pak tua itu. Apa itu penting sekarang?! Dan juga kenapa pria itu bertindak seperti warga sipil yang lemah? Bukankah dia pria yang paling di takuti di kota ini? Lalu kenapa sejak tadi, dia bersikap lemah seperti ini? Membuatnya berpikir, bahwa dia bukan Ayah kandungnya.
__ADS_1
" Kamu tahu? Tatapan mu persis seperti putri ku? Apa kamu mau menjadi adik angkatnya? " celetuknya tiba-tiba hingga membuat kedua bola mata Ruksa mendelik tajam ke arah nya. Akan tetapi, pria itu sama sekali tidak menunjukan rasa bersalahnya sedikit pun melainkan raut wajah yang penuh harap.
" Maaf, menyela, tapi dia adalah keponakan ku, dan aku tak akan memberikannya pada pedofil seperti anda. " Sela Rusdi yang merasa tak nyaman dengan pernyataan Bagaskara.
" Kamu paman nya?! Kenapa tidak mirip?! " tanya Bagaskara dengan raut wajah terkejutnya
" Aku ini pamannya, bukan Ayahnya, tentu saja tidak mirip. " balas Rusdi yang tak mau kalah.
" Apa kalian harus memperdebatkan hal itu sekarang?! Dan juga, kemana senjata mu? Apa kamu tidak malu di lindungi oleh anak kecil seperti ku?! " Ujar Ruksa yang kesal pada kedua pria di belakangnya yang tak bisa melihat situasi sama sekali.
" Kenapa harus malu? Aku ini bukan lagi ketua Mafia lagi, aku ini hanyalah seorang calon Ayah biasa, jadi demi kebahagiaan keluarga ku, aku harus menjauhkan tangan ku dari benda sial itu. "
Seketika dahi Ruksa mengernyit, ada apa dengan Ayahnya ini? Kenapa dia bertindak lemah seperti ini?! Apa karena Alexa dan calon bayi nya?! Menebaknya saja sudah membuatnya kesal, ternyata bagi pria itu, istri barunya lebih penting ketimbang anak kandungnya sendiri.
Dor!
Tiba-tiba sebuah peluru melesat satu senti di depan wajah Ruksa, ketiganya kemudian menoleh dan mendapati Arga dengan seringai di wajahnya sembari berkata. " Akhirnya ketemu juga, gadis cilik. "
__ADS_1