Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
116


__ADS_3

Keesokan harinya.


Setelah mengetahui alasan dari penangkapan Ayahnya, Ruksa pun terdiam memikirkan sebuah cara untuk memutuskan tali balas dendam ini.


Jika harus membunuh Clara dengan kedua tangannya, itu adalah hal yang mudah, tapi sayangnya hal itu tak bisa memutus kan dendam, yang ada malah memperpanjang dendam yang tidak berkesudahan.


Satu-satunya cara adalah dengan memberitahu alasan kenapa keluarga di bantai, akan tetapi, sepertinya sulit untuk membuatnya menerima semua itu.


Membayangkan jika dirinya di posisi Clara, ia tak akan peduli dengan semua alasan itu dan lebih memprioritaskan balas dendamnya.


Ruksa pun berdecak, haruskah ia turun tangan membantu Ayahnya? Mengingat, semua ini adalah salah Ayahnya dan tak ada kaitannya sama sekali.


" Kenapa melamun? " Tanya Veda.


Keduanya tengah mendapati tugas menyiram tanaman sayur yang berada di belakang rumah.


Ruksa pun menoleh. " Huh? Kenapa? "


" Apa semalam kamu tak bisa tidur? Jangan bilang kalau semalam aku mendengkur terlalu keras?! " ucap Veda yang panik melihat raut wajah Ruksa yang terlihat sangat lelah dengan kedua kantung di bawah matanya


" Oh tidak, jangan salah paham, aku memang tak bisa tidur, sebab aku sedikit merindukan kedua orang tua ku. "terang Ruksa.


" Bukankah mereka jahat padamu? Untuk apa merindukan mereka? " timpal Veda dengan entengnya.


Kedua alis Ruksa mengerut, apa semua penghuni tempat ini sama seperti Veda?


Entah kenapa, Ruksa merasa bahwa Veda sangat membenci kedua orang tuanya sendiri? Ia akui, dirinya juga membenci Ayahnya, tapi tidak sampai ke tahap yang Veda rasakan.


Ruksa pun terdiam sejenak, lalu mencoba memberanikan diri, untuk bertanya pada Veda, alasan, kenapa dia membenci kedua orang tuanya.


Akan tetapi, gadis itu terlihat enggan untuk bercerita tentangnya, dan memilih mengabaikan pertanyaan Ruksa dengan melanjutkan kembali aktivitasnya.


Ruksa yang paham pun tak terlalu ambil pusing, ia juga kembali melanjutkan kembali aktivitasnya.

__ADS_1


Di sela-selanya menyiram sayuran, Ruksa kemudian baru terpikir, sebenarnya siapa yang menyebarkan rumor vampir?


Melihat, tempat ini terlihat indah untuk menjadi tempat buruk yang di pikirkan banyak orang, meski memang di bawah bangunan gudang penyimpanan alat-alat mereka, terdapat sebuah penjara.


Mungkinkah seseorang pernah tertangkap lalu berhasil melarikan diri?


Di saat dirinya tengah sibuk berpikir, tiba-tiba Ruksa menyadari bahwa dirinya sedang di perhatikan.


Bahkan dari sudut matanya, ia bisa menangkap seseorang tengah menatapnya dengan tajam, merasa bahwa kedoknya sudah mulai terbongkar, Ruksa pun bergegas untuk melarikan diri.


" Oh iya, kalau begitu, aku akan pergi mengambil air. " ucapnya sembari menyambar ember yang berada di dekatnya


Veda yang merasa bahwa tak ada yang aneh, membiarkan Ruksa pergi begitu saja.


Awalnya, ia hanya menebak, tapi siapa sangka bahwa tebakannya tepat sekali.


Mereka sudah menyadari bahwa dirinya adalah seorang penyusup.


Tak ingin membuang waktu percuma, Ia kemudian mempercepat langkah kakinya dan pergi menuju gudang, tapi sayangnya, di depan gerbang tersebut telah terdapat dua orang yang tengah berjaga.


Ruksa pun akhirnya hanya bisa memutar balik langkahnya namun sayangnya tanpa di sadari dua orang pria telah berdiri tepat di belakang punggungnya dan membuat tubuhnya terbentur dan terjatuh di tanah.


Ia kemudian merangkak, mencoba melarikan diri, tapi sayangnya kedua kakinya di tarik dengan cukup keras kemudian menekannya ke bawah, dan membuatnya tak bisa berkutik tak berdaya. Pada akhirnya ia di tangkap dan di bawa ke sebuah penjara bawah tanah. Kedua tangan dan kaki Ruksa di ikat ke belakang, membuatnya kesulitan untuk bergerak.


Sialan. Umpatnya kembali.


Di lantai yang dingin nan gelap, Ruksa kembali berusaha dengan keras, mencoba melepaskan ikatan di tangannya, Tapi usahanya tetap gagal, sebab ikatan itu begitu kuat, membuatnya tak bisa berkutik sedikit pun, kepalanya mendongkak, menatap langit-langit yang gelap dan lembab. Ia menghela nafas, sepertinya keberuntungannya sudah habis.


Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah kaki yang tengah menuruni tangga.


" Apa ini anaknya? "


" Iya, Ketua. "

__ADS_1


" Hey bangun. "


Ruksa terdiam.


" Apa Lo tuli?! kalau gue suruh itu langsung di laksanakan dong. " teriak seorang gadis.


" Apa Lo buta? Bagaimana bisa gue bangun kalau kaki dan tangan gue di ikat kayak gini. " timpal Ruksa yang tak terima.


Akan tetapi hening tak ada jawaban.


Namun tak lama kemudian tubuhnya tiba-tiba di angkat lalu tubuhnya di letakkan di atas kursi dengan tangan yang masih di ikat di simpan di atas meja.


Ctak!


Tiba-tiba sebuah cahaya menyoroti, tepat di depan wajah Ruksa membuatnya berdecak karena silau. " Bisa nggak sih, itu lampu nggak menyorot ke muka gue. " protesnya.


Karena silaunya cahaya yang berada tepat di depan wajahnya, membuat Ruksa tak bisa melihat wajah mereka dengan jelas.


" Kalian denger nggak sih?! Kalian mau buat mata gue jadi buta hah?! "


Brak!!!


Tiba-tiba salah satu dari mereka menggebrak mereka, lalu menanyai tentang tujuan Ruksa datang ke tempat itu.


" Nyasar. " celetuknya


" Lo . ..


Arrrrhhhh tiba-tiba Ruksa menjerit kesakitan, ia begitu terkejut dengan aksi mereka yang secara tiba-tiba itu. Seluruh tubuhnya gemetar dengan hebat, ada rasa nyeri dan ngilu di bagian salah satu jarinya, ia kemudian menatap tangannya dan menyadari bahwa kuku ibu jarinya telah di cabut dengan paksa tanpa aba-aba.


Ruksa kemudian menolehkan kepalanya ke samping kanan, meski cahaya silau membatasi penglihatannya, namun ia masih bisa melihat siluet di balik cahaya itu.


Terdapat seorang gadis berwajah manis dengan tatapan iblisnya, di tangan kanannya, dia memegangi sebuah tang yang sudah berlumuran darah. Ruksa meyakini bahwa darah itu berasal dari tangannya.

__ADS_1


" Kenapa? Makanya kalau kita nanya, jawabannya harus bener dan nggak boleh asal. " katanya. " Kalau nggak, gue bakalan cabutin satu persatu kuku di tangan lo sampai habis, mau? "


__ADS_2