Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
39


__ADS_3

Akhir-akhir ini Ruksa tak bisa tidur dengan nyenyak, tentunya penyebabnya banyak, salah satunya adalah Ruslan.


Selain memikirkan masa depan pria itu, Ruksa pun harus bekerja ekstra untuk mengusir wanita gatal yang ingin mendekati Ruslan.


Sampai mati pun ia tak akan menerima salah satu dari mereka untuk menjadi pendamping hidup Ruslan.


Awalnya ia hanya berniat untuk menghabiskan waktu saja. Namun sebuah pemikiran terlintas di dalam otaknya, selagi dirinya berada di dalam putri tubuh pria itu, ia pun ingin mengoreksi dan ingin mengetahui alasan pria itu tiba-tiba menghilang dari hidupnya.


Untuk memancingnya, ia perlu sebuah topik yang berkaitan dengan dirinya. Untungnya, gelang jimat pemberian Ruslan itu masih ada dan selalu ia bawa kemana-mana.


Baginya, gelang itu merupakan satu-satunya jimat keberuntungan yang di milikinya.


Sudah ada banyak kenangan yang dilaluinya bersama gelang itu. Meski pria itu tak ada di sampingnya, tapi dengan adanya gelang itu, Ruksa selalu merasa bahwa pria itu selalu ada di sampingnya.


Namun, bukannya membuahkan hasil. Dirinya malah menambah beban pikirannya dan mempertanyakan sejak kapan pria itu menyukai dirinya?


Argh! Sungguh kepala Ruksa di buat sakit olehnya. Rasanya otaknya bisa pecah kapan saja.


Ia pun meraih ponselnya di atas nakas, tangannya bergerak dengan sangat cepat, mengetikkan beberapa kata yang ia kirimkan pada Dania. Akan tetapi tak ada balasan sama sekali. Bahkan pesan miliknya pun tidak di baca sama sekali.


Tanpa sadar, malam pun telah berlalu dengan sangat dan di gantikan oleh sinar sang mentari yang begitu cerah di iringi oleh cuitan burung yang bertengger di atas pohon.


Cahaya pagi itu begitu hangat, sehingga membuat siapapun merasa siap untuk mengawali hari dengan semangat. Tapi tidak dengan Ruksa, di bawah matanya terdapat lingkaran hitam yang menyerupai panda. Rambutnya acak-acakan dengan wajah frustasi yang melengkapi penampilannya yang hancur.


Meski kepalanya terasa sangat berat, namun sebagai seorang pelajar ia tak boleh malas. Terlebih lagi dirinya tak boleh membujuk pria itu untuk menceritakan segalanya padanya.


Setelah merapihkan diri dengan mengenakan seragam sekolah, ia pun bergegas menuju ruang makan. Namun ia tertegun ketika menyadari tak ada siapa pun di sana. Hanya sebuah catatan kecil yang terselip di bawah piring.


Salah satu alis Ruksa terangkat ke atas setelah membaca isi catatan itu.


Di sana di katakan bahwa pria itu sedang ada urusan mendadak yang mengharuskannya pergi di pagi buta sekali. Di sana juga tertulis bahwa dia tak bisa menjanjikan bisa pulang malam ini.


Dia juga mengatakan, jika ada sesuatu yang di perlukan. Ruksa bisa meminta bantuan bibi May yang rumahnya tak jauh dari rumah.

__ADS_1


Setelah membaca isi catatan itu, Ruksa pun meremas kerta itu, alisnya berkedut lalu membuat kerta itu secara sembarangan. ia berkacak pinggang dengan raut kesalnya.


Wah bukankah mereka sangat kompak? Tidak ayahnya tidak putrinya, keduanya dengan terang-terangan mengabaikan gue. ' Gerutunya di dalam hati.


Sungguh pagi yang sangat menjengkelkan, ia pun menarik kursi, kemudian terduduk di sana lalu memakan sarapan itu dengan brutal. Ia sedang sangat kesal pada pasangan ayah dan anak itu


Bagaimana bisa mereka mengabaikannya di waktu yang bersamaan? Sungguh mereka bisa di nobatkan sebagai pasangan ayah dan anak terkompak sedunia.


Wajahnya sangat kusut untuk di lihat di pagi hari, membuat siswa dan siswi Sky Dream High School menjadi ketakutan.


Padahal biasanya, mereka tak pernah menganggap akan keberadaanya, tapi berkat Roland, Mikael dan Darian membuatnya menjadi terkenal dan juga di takuti.


Kini tak ada lagi yang berani mengganggunya, kecuali Queensha yang masih gigih untuk balas dendam. Meski pun rencananya belum ada satupun yang terwujud.


Dugh!


Tanpa sadar tubuh Ruksa menabrak tubuh seorang pria, tangannya memegangi keningnya seraya meringis kesakitan. Ia pun mendongakkan kepalanya dan mendapati Roland yang berdiri di depannya dengan tatapan aneh.


" Apa lihat-lihat?! " ketusnya seraya mendorong tubuh besar Roland menjauh dari pandangannya.


Setibanya di dalam kelas, aura hitam mencekam keluar dari dalam tubuhnya, membuat Queensha yang tadinya ingin mengejek mengurungkan niatnya.


Selama pelajaran berlangsung, dirinya tertidur begitu saja. Kendati begitu tak ada siapa pun yang berani menegurnya termasuk sang guru.


Roland pov.


Hari ini adalah hari di mana ia kembali ke sekolah bersama dengan gengnya, Setelah hukumannya berakhir ia pun akhirnya bisa menginjakkan kembali kakinya di sekolah.


Sama seperti niatan awalnya, ia akan menunggu dan menemui Dania secara langsung. Mengajaknya untuk bertanding ulang demi harga dirinya


Setelah satu jam lama menunggu, Roland pun akhirnya bernapas lega karena melihat siluet dari orang yang sedang di tunggunya.


Namun, tubuhnya tertegun sejenak. Melihat penampilan Dania yang berbeda saat dirinya bertemu terakhir kalinya.

__ADS_1


Meski kaca mata itu masih melekat di wajahnya. Namun wajah serta gayanya sudah sangat berbeda dengan sebelumnya, entah kenapa, wanita itu terlihat sangat keren dengan rambut yang kuncir menyerupai ekor kuda.


" Apa lihat-lihat?! "


Bahkan gaya berbicaranya sudah berbeda. Kedua matanya tak bisa lepas menatap punggung wanita itu.


" Babe, kamu lagi lihat apa? "


Tiba-tiba kekasihnya, Laila datang dan menyadarkannya dari lamunannya.


" Bukan apa-apa. " timpalnya dengan nada singkat.


" Kamu lagi nungguin aku yah? Unchh~ So sweet banget sih , kamu babe. " ungkap Laila seraya memeluk tubuh kekasihnya di depan umum. Membuat tak sedikit dari mereka yang merasa iri ada pula yang merasa jijik akan kedekatan mereka yang terlalu frontal termasuk Queensha yang langsung memutar bola matanya dengan malas.


" Ini sekolah, bukan tempat pacaran. " Queensha berkata dengan nada ketus.


" Bilang saja iri. " Timpal Laila tak ingin kalah.


Queensha pun hanya menggelengkan kepalanya lalu berjalan mendahului temannya itu, ia berjalan setengah berlari menghampiri Mikael untuk menyapanya


Namun pria itu sudah mati rasa terhadap wanita itu, tak ada sikap ramah untuk Queensha hanya ada sapaan dingin yang menusuk tulang.


Dari tempatnya berdiri. Kedua mata Roland tak hentinya menatap ke arah di mana tempat itu merupakan tempat terakhir ia bisa melihat punggung Dania.


Laila yang masih penasaran, mengikuti kemana kedua mata pacarnya melihat. Namun ada banyak orang di sana, membuat wanita itu kesulitan untuk menebak.


" Dari tadi kamu lagi lihat siapa sih babe? Selingkuhan nih pastinya. "


Roland pun menolehkan kepalanya. " Kenapa kamu berkata seperti itu? "


" Habis, dari tadi kamu mengabaikan aku. "


" Maafkan aku babe, kepala ku lagi ada banyak pikiran. "

__ADS_1


" Tahu ah, bete deh sama kamu. " Ujar Laila lalu berjalan lebih dulu seraya menghentakkan kakinya. Dari belakang Roland berusaha mengejar.


__ADS_2