Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
111


__ADS_3

Di tengah perjalanan, Kepala Ruksa tiba-tiba terasa agak berat dan juga pusing, di tambah bibir dan tenggorokannya terasa sangat kering, kedua kakinya terasa mati rasa, ia merasa bahwa ajalnya sudah berada di depan matanya.


Akan tetapi, saat dirinya sudah mulai putus asa, tiba-tiba ia menangkap suara gemericik air dengan jelas, yang artinya bahwa tempat itu tak jauh dari tempatnya berdiri.


Seakan menemukan nyawanya kembali, kaki yang tadinya sudah tak kuat bangun apalagi berjalan, mendadak kembali bertenaga, ia kemudian bergegas pergi menuju suara itu berasal.


Di dalam hatinya, ia tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukurnya, ia menyadari bahwa air sangat penting bagi manusia.


Dan benar saja, setelah berjalan cepat selama lima menit, Ruksa pun akhirnya sampai di mana suara itu berasal.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat sebuah air mancur dengan air yang mengalir di dalamnya.


Untuk pertama kalinya, Ruksa melihat sebuah air mancur biasa, bisa terlihat mewah di matanya saat ini.


Tanpa membuang waktu, ia berlari menuju air mancur itu, menjatuhkan diri lalu meneguk air itu hingga rasa haus di tenggorokannya hilang sepenuhnya.


Tapi, tanpa di sadari, dirinya ternyata telah berada di halaman utaman, Tapi, entah harus merasa bersyukur atau merasa kesal karena jaraknya yang begitu jauh, apalagi di tempuh dengan berjalan kaki.


Sungguh melelahkan!

__ADS_1


Tapi dirinya sangat beruntung karena tak ada satu pun penjaga yang berlalu lalang.


Karena nyawanya sudah terisi kembali, Ruksa pun melanjutkan aksinya, berjalan menyelinap masuk ke salah satu pintu.


Tapi sebelum itu, dirinya harus mencari baju ganti untuk mengganti pakaiannya yang sudah basah.


Entah Dewa Langit sedang berada di pihaknya, atau memang peruntungannya sedang dalam kondisi terbaiknya. Meski beberapa kali dirinya hampir ketahuan, tapi ia sangat beruntung karena berhasil masuk ke dalam rumah dengan mulus


Seakan peruntungannya, masih belum habis, Setelah berhasil masuk ke dalam, di depan matanya, ia langsung di suguhkan dengan berbagai makanan yang berjajar rapih di atas meja.


Seketika cacing di dalam perutnya bergemuruh minta di isi. Tanpa pikir panjang lagi, ia mengambil sebuah Sandwich yang berisikan daging, tak lupa ia mengambil sebuah kotak jus rasa apel dan membawanya ke tempat sepi untuk di makan agar tenaganya kembali penuh.


Menurut informasi yang di dapat Ismail, Ayahnya itu sedang di sekap di sebuah ruang bawah tanah, tapi yang jadi masalahnya, ia tak tahu Di mana lokasi tepat, tempat itu berada.


Setelah makanannya sudah habis, Ruksa pun melanjutkan kembali misinya. Ia berjalan mengendap-endap lalu berbaur di antara kerumunan tanpa di sadari.


Sepintas, Ruksa merasa bahwa dirinya berada di sebuah panti asuhan, sebab, sejauh mata memandang, ia hanya melihat anak kecil di mana-mana, tak ada satu pun orang dewasa yang mengawasi mereka.


Apa Ayahnya sungguh kalah dengan bocah seperti mereka? Sungguh memalukan!

__ADS_1


" Tunggu, lo siapa? Kok gue baru lihat lo. " Tanya seorang anak laki-laki yang usianya sama dengan Dania.


Langkah kaki Ruksa seketika terhenti, ia menoleh dengan wajah datarnya, tapi jauh di dalam lubuh hatinya ia takut tertangkap basah.


" Gue. . .


" Jangan-jangan lo. . .


Ruksa terdiam, keringat membasahi tubuhnya, secara spontan meneguk air liurnya. Mungkinkah peruntungannya sudah habis?


" Pasti anak baru yang baru kan? "


Seketika, Ruksa langsung merasa lega, ternyata peruntungannya masih ada.


" Kenalin gue Lingga, lo bisa manggil gue Ingga atau sayang juga boleh kok, sangat di bolehkan. " Ujar pria itu sembari mengulurkan tangannya pada Ruksa.


Namun, Ruksa hanya terdiam menatap uluran tangan itu di depannya.


" Gue yang bertugas mengatur anak-anak di sini, jika ada yang nggak lo paham, lo bisa nanya gue. " ujarnya menambahkan.

__ADS_1


Meski begitu Ruksa tak peduli, ia hanya tersenyum canggung, lalu pergi meninggalkan laki-laki itu


__ADS_2