Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
127


__ADS_3

Dania pov.


Setelah berpisah dengan Ruksa dan juga Ayahnya, selama perjalanan menuju lokasi, jantung Dania terasa ingin meledak, ia tak pernah melakukan penyerbuan seperti ini sebelumnya, yang ada dirinya lebih banyak di culik dari pada menyerang lawan. Perasaan takut pun menyelimuti perasaanya, ia takut jika dirinya mati, maka ia sama saja dengan membunuh Ruksa secara tidak sengaja. Membayangkannya saja membuatnya bergidik ngeri, ia tak ingin hal itu terjadi.


" Mbak nggak perlu takut, ada saya dan Mas Rusdi di sana yang menunggu kita, meski kami berdua tidak sekuat dan sehebat Ruslan, tapi saya masih bisa melindungi mbak sampai mereka datang. " Amar tiba-tiba berkata menenangkan perasaan Dania yang tengah diliputi perasaan resah dan gelisah.


Kedua mata Dania mengerjap beberapa kali, lalu tak lama kemudian kedua sudut bibirnya terangkat, perkataan pria itu benar, dirinya tak perlu takut, sebab ia memiliki seorang Ayah yang hebat serta seorang teman yang bisa di andalkan.


Dania kemudian berusaha menenangkan diri dengan menarik lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan hingga membuatnya menjadi rileks dan tenang.


Tak lama kemudian, mereka pun tiba di depan sebuah gedung pencakar langit, dan benar saja apa yang di katakan oleh Ruksa, Arga sudah menyiapkan puluhan penjaga bersenjata lengkap yang sudah menunggu kedatangan mereka di depan gedung tersebut.

__ADS_1


Sebagai pengganti Ruslan, Amar memerintahkan semua anak buah yang ikut bersamanya untuk menjalankan peran masing-masing yang sudah direncanakan sebelumnya.


Mereka kemudian mulai saling baku tembak, sedangkan Dania menunggu di dalam mobil, menunggu isyarat dari Amar.


Meski sudah memantapkan hati, namun tak bisa di pungkiri bahwa Dania masih tidak sanggup melihat adegan berdarah-darah di depan matanya itu.


" Mbaknya nggak apa-apa? "


Tubuh Dania terlonjak kaget dengan kedatangan Amar yang secara mendadak itu.


" Tidak, Iya. "

__ADS_1


" Maaf kalau begitu, tapi saya hanya mau bilang, kalau semuanya sudah aman, dan mbaknya bisa masuk sekarang. "


" Terima kasih. " Ucap Dania, lalu beranjak turun dari mobilnya, tak lupa ia membawa senjata api di tangannya, namun baru saja kedua kakinya menginjak tanah, tiba-tiba perutnya terasa mual, ia tak pernah membayangkan pemandangan mengerikan di depannya, bahkan ini lebih mengerikan dengan insiden penyerangan di pesta pernikahan Ayah Ruksa, darah berceceran dengan kondisi tubuh yang nyaris tidak ada yang sempurna lagi.


Huekk!! Dania pun memuntahkan semua isi di dalam perutnya, ia tak sanggup melihat pemandangan di depannya.


" Mbaknya tidak apa-apa? Kalau sakit, mbak bisa menunggu sampai Ruslan dan. . .


Tiba-tiba Dania memotong perkataan Amar, ia berkata bahwa dirinya tidak apa-apa dan hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk menenangkan diri.


Amar pun menganggukkan kepalanya, ia kemudian dengan sabar menunggu wanita di depannya sampai perasaannya tenang, namun ia tak bisa menyembunyikan keheranannya, pasalnya, dirinya merasa bahwa sosok di depannya sangat berbeda dengan apa yang di katakan orang-orang, karena apa yang di lihat oleh kedua matanya, wanita di depannya ini lebih seperti wanita yang memiliki kehidupan biasa dan bukan seorang putri Mafia.

__ADS_1


" Baik, ayo kita pergi. " ujar Dania.


Akan tetapi, belum kedua langkah kakinya beranjak, muncul sosok Arga dengan wajah arogannya, berbanding balik dengan wajah yang Dania lihat sebelumnya, rasanya dia seperti orang yang berbeda


__ADS_2