Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
64


__ADS_3

Dania Almahyra, nama itu terlintas begitu saja dalam benak Ruslan, namun ia tetap berharap di masa depan bayi itu bisa menjadi wanita yang cantik dan bisa menegakkan keadilan bagi siapa pun tanpa pandang bulu.


Setelah kepergian dari Nisya, dan menguburkannya beserta bayi yang entah milik siapa? Entah itu sebuah kebetulan atau apa. Namun Ruslan menguburkan keduanya dengan semestinya.


Kuburan keduanya terletak saling bersampingan, layaknya ibu dan anak.


Karena kepergian Nisya, membuat Ruslan secara otomatis menjadi wali dari Dania seperti yang di harapkan oleh wanita itu.


Namun, sebelum memulai kehidupan yang baru bersama anak Nisya, Ruslan terlebih dahulu menyelesaikan masalahnya dengan keluarganya terutama Ayahnya.


" Dari mana saja kamu semalam? kenapa baru pulang? Kamu tahu ini sudah jam berapa? Apa kamu sudah lupa bahwa kita akan berangkat pagi ini? " Terdengar suara bariton milik dari Ayah Ruslan yaitu Yodha Maheswara yang masuk kedalam pendengaran Ruslan, sehingga membuatnya menghentikan langkahnya tanpa berbalik. " Kamu tahu, gara-gara sifat kekanak-kanakan mu, Ayah harus membatalkan penerbangan dan membiarkan ibu dan adik mu terbang lebih dulu " tambahnya.


Ruslan masih membungkam mulutnya.


" Ada apa dengan sikap mu itu? Kenapa tidak menjawab pertanyaan dari Ayah mu ini? " Tanya Yodha yang merasa heran dengan sikap putranya. " Sudahlah, kali ini Ayah akan membiarkanmu. Kalau begitu pergilah bersiap-siap, Ayah akan menunggu mu di sini. "


" Aku tak akan pergi. "


Dahi Yodha mengernyit, tangannya melipat koran di tangannya, lalu bangkit dari posisi duduknya, menghampiri putranya. " Coba katakan sekali lagi. "


" Aku tak akan pergi, " Ucap Ruslan sekali lagi.


" Kenapa? "


" Karena aku tak ingin pergi. " timpal Ruslan tanpa pikir panjang.


Yodha Maheswara terkekeh lalu tergelak, tangannya memukul bahu putranya dan mengira bahwa putranya tengah bercanda. " Tolong jangan bermain-main, waktu kita tinggal sebentar lagi. "


" Aku tidak bercanda, dan aku sangat serius mengatakannya. "


Raut wajah Yodha Maheswara pun berubah menjadi muram, tak ada lagi senyuman di wajahnya. Tatapannya menjadi dingin.


Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi sebelah kanan Ruslan, hingga membuatnya tersungkur.

__ADS_1


" Kamu gila?! Kamu tahu sudah berapa banyak uang yang Ayah gelontorkan untuk mendaftarkan mu di sana?! Dan sekarang kamu tak ingin pergi! Tarik ucapan mu sekarang juga! "


Ruslan pum menyunggingkan senyumnya, ia perlahan bangkit, tatapannya tak jauh dingin dari sang Ayah. " Ayah pikir aku tak tahu? Jangan kira aku sudi menggunakan uang yang ayah dapatkan dari hasil mengkhianati Paman dan Bibi. "


Ayah Ruslan tertegun sejenak. " Lalu? "


" Lalu? " Ruslan terkekeh. " Tenyata Ayah tak lebih baik dari pada seekor hewan." ucapnya gamblang.


Plak!


Tamparan itu kembali mendarat mulus di pipi Ruslan. Hingga dari sudut bibirnya mengeluarkan darah.


" Baik, jika tak ingin pergi, maka jangan jadi anak ku lagi , dan jangan kembali. Kau memang anak yang tidak berguna. " ucapnya. " Mulai saat ini aku bukan ayah mu. "


Mendengar hal tersebut, Ruslan pun memantapkan hati, ia berjalan menuju ke kamarnya dan mengambil beberapa set pakaian ganti.


" Sebelum pergi tinggalkan semua fasilitas yang ayah berikan, termasuk sepeda motor yang kami gunakan. " Yodha Berkata.


Tanpa basa basi, Ruslan pun mengeluarkan barang-barang miliknya satu persatu, dari mulai ponsel hingga dompet. Namun ia tak menyerahkan kunci sepeda motor sebab, kendaraan itu merupakan hasil dari dirinya menabung selama ini.


Dan sekarang, demi memulai kehidupan barunya, ia harus menjual anak kesayangannya itu. Meski berat namun dirinya harus merelakannya.


Rasanya ingin menangis saat itu juga.


Dari uang penjualan, ia membeli beberapa buku cara mengurus bayi untuk orang tua tunggal. serta menyewa sebuah kamar kecil, sisanya ia gunakan sebagai modal usaha.


Walau tidak berpengalaman, namun dirinya harus mencoba. Meski beberapa kali dirinya harus menerima beberapa kerugian. Namun ia gunakan sebagai pengalaman.


Bulan pun terus berganti bulan, meski masih terbilang masih kecil dan belum berkembang, tapi Ruslan bersyukur karena usahanya masih bisa bertahan hingga sampai saat ini.


Dalam waktu singkat dirinya telah kehilangan banyak berat badan, penyebabnya tak lain karena harus mengurus toko kecilnya, dirinya juga harus menjaga seorang bayi yang membuatnya harus bergadang hampir setiap hari.


" Ah, jadi seperti ini rasanya menjaga bayi, ternyata rasanya sangat melelahkan. Tapi juga terasa menyenangkan." Ungkapnya setelah membuat Dania tertidur setelah beberapa menit lalu menangis karena demam akibat vaksin yang di terimanya pagi ini.

__ADS_1


Mungkin, apa yang dirasakannya kali ini masih terbilang bukan apa-apa di bandingkan dengan kehidupan Nisya di masa lalu. Karena itu, Ruslan tak mengeluh sedikit pun, dia malah menikmatinya.


Karena Dania yang baru saja sembuh dari demam, membuat bayi itu menjadi manja dan tak ingin di titipkan pada siapa pun membuat Ruslan tak punya banyak pilihan selain membawanya ke toko kecilnya dan menemaninya berjualan. Sebab dirinya tak mungkin mengambil libur di karenakan tagihan yang sudah semakin dekat.


Walau pun Bibi May, yang sering membantunya sejak awal menawarkan bantuan sebuah pinjaman uang, namun Ruslan menolaknya karena malu, ia juga merasa tak enak hati karena terlalu sering merepotkan wanita itu.


Karena ini adalah kali pertama Ruslan membawa Dania ke toko, banyak puluhan pasang mata yang mengarah padanya. Banyak yang bertanya-tanya siapa bayi di gendongannya?


Namun, Ruslan menjawab bahwa bayi di gendongannya merupakan putrinya.


Tentunya banyak yang terkejut dengan pernyataannya, beberapa mengira bahwa semua itu hanya candaan, namun melihat betapa lihai Ruslan menenangkan bayi di tangannya. Membuat semua orang di sana tercengang.


Tak sedikit dari mereka yang menyayangkan karena usianya yang masih muda, tapi ada juga yang merasa tersentuh karena di usianya yang masih muda mampu menjadi sosok Ayah muda idaman.


" Mau beli apa bu? "


" Itu ibunya kemana? " Tanya seorang ibu yang menggandeng seorang anak laki-laki.


" Udah nggak ada. " Timpal Ruslan dengan sopan


" Selingkuh? "


" Bukan, tapi . .


" Makanya kalau pacaran itu harus tahu batasan, karena nikah itu bukan main-main, kalau sudah begini kan mau menyalahkan siapa? " Terangnya, kepalanya kemudian menoleh ke sana kemari. Memastikan bahwa tak ada orang. " kalau sama anak ibu mau? Dia cantik, baik juga sayang sama anak kecil. Kalau mau besok ibu bawa dia ke sini. "


" Ih jangan mau, anaknya suka kentut. " Timpal ibu-ibu lain yang baru datang.


Dia menambahkan bahwa putri yang di bicarakan tidak seperti aslinya malah sebaliknya.


Tak terima putrinya di katai seperti itu, Ibu itu pun menjadi marah namun tak berani melawan, pada akhirnya memutuskan untuk pergi.


Ruslan pun hanya tersenyum sebagai tanggapan. Sudah bukan hal aneh jika dirinya dikerubungi oleh ibu-ibu yang ingin menjodohkannya dengan anak mereka ataupun para wanita muda yang selalu mencuri perhatiannya.

__ADS_1


Padahal sebelumnya ia sudah mengatakan bahwa dirinya sudah mempunyai anak, namun banyak dari mereka yang tak percaya, dan sekarang, setelah membuktikannya. Bukannya membuat mereka mundur, mereka malah semakin semangat untuk mendapatkannya untuk di jadikan sebagai menantu atau pun seorang suami.


__ADS_2