
Gara-gara kejadian kemarin, seluruh tubuh Ruksa pun menjadi pegal-pegal, bahkan untuk bangun saja, ia merasa bahwa ada batu besar yang menindih tubuhnya.
Seharusnya ia menolak pemberian mereka, dan tak harus menderita seperti ini. Meski semua bingkisan itu sudah ia berikan pada kaum yang membutuhkan, tapi tetap saja ia merasa kesal kepada para wanita ganjen itu.
Haruskah ia menaruh seseorang? Agar para wanita itu menjaga jarak dari Ruslan.
Tapi bukankah dirinya terlihat seperti seorang istri yang posesif? Namun jika di pikir kembali, dirinya tak salah 'kan? lagi pula ia lakukan agar pria itu menemukan wanita yang tepat untuk mendampinginya dan putrinya kelak.
Iya, betul. Ini semua ia lakukan untuk Dania, bukan karena dirinya posesif apalagi cemburu.
Kalau begitu, ia harus meminta seseorang yang terlatih untuk mengusir para hama itu.
Tanpa sadar ia pun menyunggingkan senyumnya, Memperlihatkan raut wajahnya yang menakutkan.
Saat kepalanya mendongkak, tanpa sengaja kedua matanya bertemu dengan kedua mata Mikael. Laki-laki itu terlihat tertegun sejenak, saat tersadar, tingkahnya menjadi aneh lalu memutuskan untuk pergi.
Padahal biasanya laki-laki itu akan terus menyapa hingga lima menit sebelum bel sekolah. Ruksa pun mengernyitkan dahinya, merasa aneh dengan sikap EL
" Itu anak kenapa sih? Aneh banget hari ini. " gumamnya, seraya melanjutkan kembali langkah kakinya memasuki pekarangan sekolah.
Setibanya di dalam kelas seperti biasanya, Ruksa akan terduduk di pojok kelas lalu memejamkan matanya dengan tenang hingga. . .
" Mana yang namanya Dania? "
Tiba-tiba sekelompok osis mendatangi kelasnya dan membawanya ke ruang osis tanpa meminta persetujuan darinya.
Ruksa yang tak bisa menolak, hanya bisa terus mengumpat di dalam hatinya seraya menghentakkan kakinya, ia tahu bahwa mereka adalah suruhan Darian
Sebenarnya apa yang di inginkan anak laki-laki itu darinya? Lagi pula sekarang tak ada lagi yang berani mengusiknya lagi, hidupnya sudah aman damai sentosa, lantas untuk apa lagi laki-laki itu mencampuri kehidupannya? Sungguh Ia tak mengerti dengan isi kepala laki-laki itu.
Sesampainya di sana, hanya ada Darian dan juga Mikael yang tengah sibuk dengan setumpuk berkas yang Ruksa sendiri tak tahu.
" Ada apa sih? Please jangan lama-lama, karena gue mau belajar. " Ucapnya dengan nada ketus seraya melipatkan kedua tangannya di dada.
" Kenapa kamu belum mendaftar? Bukan kah aku sudah menyuruh mu sebelumnya untuk masuk klub? Kenapa kamu tak menurutinya? Apa kamu Tuli? "
" Bukan kah ini pemaksaan?! Sudah gue bilang, Gue nggak masuk klub apapun! Lagi pula gue kan miskin, jangankan buat bayar kegiatan klub, Uang jajan gue aja cuman dijatah sepuluh ribu perhari! " terangnya dengan tegas
__ADS_1
Namun Darian menolak alasan itu, jika memang itu kendalanya, Ruksa di perbolehkan untuk mencicil, setiap kali ada kegiatan klub yang mengharuskan muridnya untuk mengeluarkan uang.
Ya ampun ini anak kok kepala batu banget sih? batin Ruksa.
Ia pun menoleh ke arah Mikael, yang terlihat sibuk dengan berkas di tangannya, tapi Ruksa tahu bahwa semua itu hanyalah kebohongan, sebab ia bisa melihat dari berkas terbalik yang di pegang.
" Oi ketua! Apakah lo nggak ingin mengatakan sesuatu? "
" Heh itu mulut, tolong di jaga yah. "
Tapi Ruksa mengabaikan perkataan Darian, ia pun berjalan mendekati EL hingga wajah mereka hanya menyisakan beberapa senti saja, tanpa basa basi ia langsung mengatakan bahwa dia harus menepati janjinya untuk tidak membuatnya menderita.
EL yang merasa terkejut dengan sikap perempuan di depannya hanya bisa menganggukkan kepalanya, lalu berkata pada Darian untuk berhenti memaksanya.
Darian yang tadinya ingin protes mengurungkan niatnya ketika melihat wajah menyeramkan dari EL.
Tring!
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia pun memeriksanya. Seketika Ruksa pum menyeringai ketika membaca isi pesan teks tersebut.
Di rasa bahwa urusannya telah selesai, Ruksa pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku bajunya lalu pergi dari ruangan osis.
Namun, seakan tuhan tak mengijinkannya untuk pulang cepat, Darian yang masih gigih ingin memasukkannya ke dalam klub bela dirinya, membuat Ruksa harus bermain petak umpet dengannya.
" Kenapa hidup gue sial banget sih? Lagian itu anak, padahal kan tadi sudah jelas, dasar anak batu. " umpatnya.
Tak jauh dari tempatnya bersembunyi, Darian beserta bawahannya terus mencari keberadaannya layaknya mencari hewan peliharaan miliknya yang kabur karena di marahi majikannya.
Bagaimana bisa di sama kan dengan hewan peliharaan? Apa mereka tak memiliki otak sama sekali? Untuk apa mereka mencari dirinya kedalam loker sepatu? Apa dia sekecil itu hingga bisa muat di sana?
" Gila, buang-buang waktu aja. " gumamnya dengan kesal.
Secara tak terduga Ruksa menemukan sebuah ruangan yang berada tepat di belakang punggungnya. Tanpa berpikir panjang ia pun bergegas masuk ke dalam sana sebelum Darian menemukan dirinya.
" Sedang apa . . . Dania. . .
" Sssttt, jangan berisik. "
__ADS_1
" Tapi . ..
Tanpa mendengar perkataan dari EL, Ruksa pun langsung menariknya ke sebuah ruangan sempit yang ternyata merupakan sebuah kamar mandi.
Di detik berikutnya Darian pun masuk keruangan itu yang ternyata merupakan ruangan ganti baju untuk para atlit basket.
" Kemana perginya perempuan itu? Gue yakin Kalau dia tadi pergi ke sini. " kata Darian, ia pun menyusuri tempat itu hingga tatapannya jatuh pada salah satu kamar mandi, di mana ia merasa bahwa ada sesuatu di balik sana.
Seketika jantung Ruksa berdegup dengan sangat kencang setiap langkah kaki itu melaju satu langkah ke arahnya.
Gila, kok jadi horor gini sih. batinnya.
Di saat Ruksa yang takut ketahuan, di sisi lain EL merasa bahwa posisi mereka sangat ambigu, apalagi kedua tangan perempuan itu berada tepat di atas bagian dadanya yang telanjang, membuatnya merasa resah dan gerah.
Mikael pun meneguk salivanya dengan kasar, detak jantungnya berpacu dengan sangat kencang.
Di sisi lain langkah kaki Darian semakin mendekat, membuat cengkraman tangan Ruksa semakin mengerat membuat EL pun mulai tak tahan dengan gejolak yang belum pernah ia rasakan bahkan dengan Queensha sekaligus yang merupakan mantan kekasihnya.
" Tolong jauh kan . .. ahh.
Tanpa sadar ia hampir keceplosan. Sungguh dirinya ingin sekali mengakhiri semua itu segera mungkin, ia pun akhirnya menjauhkan tubuh perempuan itu dari tubuhnya.
Kriet. Pintu kamar mandi pun terbuka memperlihatkan wajah EL yang sudah semerah tomat. Membuat Darian terkejut di buatnya.
" Ketua, muka mu . .
" Pergi. "
" Huh? "
" PERGI!! " teriaknya dengan suara lantang, membuat laki-laki itu terkesiap lalu pergi dengan langkah terbirit-birit.
Setelah Darian pergi cukup lama, Ruksa pun menyembulkan kepalanya, mengintip dari balik tubuh EL.
Di rasa bahwa Darian dan kawan-kawannya telah pergi ia pun berjalan keluar dari ruangan itu.
" Terima kasih yah. " Ruksa berkata seraya menepuk bahu EL lalu berjalan keluar dari sana.
__ADS_1
Namun langkahnya terhenti, ia berbalik seraya memperlihatkan senyuman jahilnya. " Badan lo bagus juga. "