Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
72


__ADS_3

Abah Tomo pun terdiam sejenak, ia pun beranjak dari posisi duduknya, berjalan menuju sebuah rak yang terletak di belakang, samping kanan dan juga samping kirinya, mencoba mencari sesuatu, tak lama kemudian pria tua itu pun kembali dengan membawa sebuah kendi seukuran kepalan tangan pria dewasa.


Pria itu pun kembali terduduk, kedua matanya tertutup, bibirnya mulai komat kamit, merapalkan sebuah mantra. Sesekali melemparkan sesuatu ke dalam sebuah pembakaran berukuran kecil.


Tak lama kemudian, aroma sengit pun mulai mengular, Queensha pun langsung menjepit hidungnya dengan jari tangannya, ia menolah ke samping, tempat temannya berada. Dahinya pun seketika mengernyit heran, pasalnya Laila terlihat tidak terganggu sama sekali dengan aroma yang menyengat, perempuan itu malah tengah menangkupkan kedua tangannya, menutup kedua matanya layaknya tengah berdo'a dengan khidmat.


Salah satu bibir Queensha pun berkedut, ia pun hanya melemparkan tatapan aneh pada keduanya, rasanya ia ingin pergi dari sana saat itu juga, namun karena dirinya belum mendapatkan photo itu, ia pun hanya bisa pasrah seperti orang bodoh.


Kepalanya mulai pusing, aroma itu sungguh membuatnya mabuk kepayang, ia pun bertanya-tanya dalam hatinya. ' Sebenarnya ini Aroma apa? Kenapa bau sekali? Dan juga kenapa mereka bersikap biasa-biasa saja? Apa mereka tak memiliki hidung? '


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya keduanya pun selesai, di dalam hati Queensha pun mengucap syukur, akhirnya dia bisa terbebas dari neraka itu.


Sebelum pulang, pria itu pun menyerahkan kendi itu pada Laila, dan mengatakan untuk menjaganya baik-baik.


Laila pun langsung kegirangan, ia pun mengambil benda itu dengan sangat hati-hati layaknya sebuah berlian yang bernilai ratusan juta rupiah.


Abah Tomo pun melirik pada Queensha dan menawari hal serupa seperti yang ia berikan pada Laila, namun ia menolaknya tegas, dengan alasan bahwa dirinya sudah percaya pada dirinya sendiri. Dan mengatakan bahwa suatu hari dirinya bisa mengambil kekasihnya kembali.


Di rasa semuanya sudah selesai, keduanya pun memutuskan pamit untuk pulang, tak lupa Laila pun memberikan segepok uang pada pria itu.


Keesokan paginya, Laila yang tak pernah bangun sebelum matahari terbit, untuk pertama kalinya, dirinya sudah bangun bahkan sebelum ayah berkokok, sontak hal tersebut membuat semua penghuni rumah terutama para pembantu saling bertukar tatapan, mereka begitu terheran-heran ketika melihat majikan mereka tiba-tiba bangun sepagi itu, tak hanya itu hanya, dia bahkan terlihat tengah berkutat di dapur membuat sebuah bekal makanan.


Mereka yang tak pernah melihat, majikan mereka bersikap seperti itu, mulai panik. Salah satu dari mereka mulai berlari ke kamar majikan utama mereka, yaitu ayah dan ibu Laila.


Setelah mendengar kabar tersebut, pasangan itu pun langsung membuat sesajen, dan meminta para roh halus untuk tidak mengganggu putri mereka.


Di rasa belum cukup, mereka pun berniat memulai pengusiran setan. Mereka tiba-tiba menarik putri mereka dan memulai pengusiran setan.

__ADS_1


Namun, bukannya membantu putri mereka tersadar, hal tersebut malah mengundang amarah dari putri mereka.


" Mom! Dad! Kalian lagi ngapain?! "


" Tenang sayang, Dad bakalan ngeluarin roh halus yang bersemayam di dalam tubuh kamu. " Ujar Ayah Laila, lalu mulai membacakan sesuatu.


" Dad! Aku ini nggak kesurupan! Kalau kalian nggak mau berhenti, jangan salahkan aku jika malam ini aku nggak akan pulang ke rumah! " Ancamnya, Laila pun mendengus kesal lalu


bergegas menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya, membersihkan diri untuk bersiap-siap pergi ke sekolah.


Karena merasa kesal, Laila pun melewatkan sarapan paginya dan memilih pergi ke sekolah.


Sesampainya di sekolah, pak satpam yang menjaga gerbang pintu sekolah, ikut terheran-heran melihat kedatangan Laila yang sepagi itu.


Tapi Laila tak peduli ia pun berjalan mengendap-endap, lalu mengeluarkan sebuah kotak makanan dari dalam tasnya, lalu memasukkan kedalam kolong bangku milik Aldan. Di dalam hati ia berharap bahwa pria itu memakan makanannya.


Keduanya terlihat berjalan beriringan, membuat seisi sekolah menjadikan mereka sebagai pusat perhatian dan menjuluki mereka sebagai si tampan dan si buruk rupa.


Tentunya mereka menjuluki nama itu secara rahasia, karena sesungguhnya mereka takut, jika ada yang melaporkan mereka pada Mikael. Jika pria itu tahu, entah hal apa yang akan menimpa mereka nantinya.


Karena mereka tahu, bahwa Mikael sangat menjaga Dania, dan tidak akan membiarkan siapa pun menganggu perempuan itu.


Saat hendak memasukkan buku ke dalam kolong bangku, Aldan pun mengernyitkan dahinya, ketika merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam kolong bangkunya


Ia pun membungkukkan badannya untuk mengintip ke dalam, tangan kanannya ia masukkan ke dalam dan mengambil benda berupa sebuah kotak makanan. Ia pun kembali mengernyitkan dahinya. Terdapat sebuah catatan di tutup kotak makanan itu, yang mengatakan bahwa itu di khususkan untuknya dari penggemar rahasia.


" Keren juga lo, baru dapat satu hari udah dapat penggemar rahasia aja. " ujar Ruksa. " Coba buka. " pintanya.

__ADS_1


Meski ragu, Aldan pun membukanya. Seketika aroma masakan pun mengular ke segala penjuru isi kelas, membuat seisi kelas menjadi tergoda dan menginginkannya termasuk Ruksa yang sejak kemarin tidak makan karena merasa tak enak hati pada Ruslan.


Di dalam kotak makanan itu terdapat sepotong daging ayam bagian paha bawah lengkap dengan sayuran, walau tampilannya sangat sederhana, namun aroma yang di suguhkan sungguh memanjakan semua hidung, kecuali Aldan yang memang sedang di dera sakit Flu ringan. Jadi dirinya tak bisa mencium apapun dari masakan itu.


Ruksa yang semakin terlena dengan aroma itu meminta Aldan untuk membagi makanan itu padanya, tentunya Aldan pun memberikannya dengan senang hati. Lagi pula dirinya tak menyukai semua jenis masakan berbahan dasar ayam.


Perut Ruksa pun semakin meronta, di ambilnya daging itu ke dalam mulutnya, namun tiba-tiba Laila datang dan mengambil sepotong daging ayam dari tangan Ruksa dan menyimpannya kembali ke dalam kotak bekal makanan itu.


Kedua mata Ruksa pun mengerjap, ia begitu terkejut dengan kedatangan Laila yang datang secara tiba-tiba. Terutama sarapan paginya yang di rampas begitu saja.


" Lo ngapain? " Tanya Aldan. " Teman gue mau makan kenapa lo ambil? "


Laila pun meneguk salivanya, kedua bola matanya terus bergerak dengan gusar. " Ah, soal itu. . . Bel sekolah sudah mau di mulai, dan menurut peraturan sekolah, para murid di larang untuk makan saat pelajaran berlangsung. "


" Tapi ini kan belum . . .


' Kriiiing! Kringgg! Bel sekolah pun berbunyi, Laila pun tersenyum penuh kemenangan, ia pun mengembalikan kotak makanan itu pada Aldan lalu kembali berjalan menuju bangku tempat biasanya ia terduduk.


Dari kejauhan Aldan pun mengamati gerak gerik Laila yang terasa aneh dan mencurigakan.


Saat waktu bel istirahat tiba, Aldan pun langsung mengajak Ruksa ke kantin, tentunya bersama kotak makanan itu.


Laila yang melihat tersebut, langsung berlari mengikuti. Kali ini ia lakukan seorang diri karena Queensha sudah entah pergi kemana.


Saking ingin memastikan, ia pun membawa teropong untuk melihat apakah Aldan memakannya atau tidak?


Ia pun berteriak kegirangan, melihat makanan buatannya masuk ke dalam mulut Aldan, tapi senyumnya langsung luntur ketika pria itu membagikan makanannya pada semua orang yang berada di kantin tanpa terkecuali pada Ruksa.

__ADS_1


__ADS_2