Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
71


__ADS_3

Selama kelas berlangsung, Tatapan Laila tak pernah lepas dari Aldan dan Dania, kedua matanya mengamati mereka dengan intens, memperhatikan setiap gerak gerik yang di lakukan keduanya. Bahkan setelah kelas usai pun tatapannya tak pernah lepas dari keduanya.


Queensha yang melihat sikap aneh dari temannya hanya bisa mengernyitkan dahinya. ' Apa dia tak lelah menatap seperti itu? ' Batinnya.


Awalnya ia berniat untuk pulang lebih awal agar bisa bertemu dengan Mikael, namun hal itu tak pernah terjadi, sebab temannya itu merengek memintanya untuk menemani mengikuti kemana Aldan dan Dania pergi. Tentunya Queensha tak sudi melakukan hal konyol dan rendahan seperti itu rasanya ia seperti seorang penguntit saja.


Tapi Laila tak menyerah, ia pun menawarkan beberapa kesepakatan, namun semuanya di tolak mentah-mentah oleh Queensha, perempuan itu pun menenteng tas sekolahnya lalu berjalan keluar kelas.


" Ya sudah kalau tidak mau, tapi yakin nggak mau photo EL yang lagi tidur? " Laila berkata, mencoba merayu Queensha kembali.


Langkah kaki Queensha pun terhenti begitu saja, ia pun berbalik, di detik berikutnya kedua bola matanya terbeliak, melihat layar ponsel Laila yang memperlihatkan sosok Mikael yang tengah tertidur lelap layaknya seorang bayi.


" Dari mana lo dapat photo itu? " Tanya Queensha seraya mencoba merampas ponsel milik Laila.


Tapi sayangnya, ia tak berhasil, sebab Laila langsung memeluk ponselnya dengan erat.


Dan terjadilah pertikaian di antara keduanya, hingga pada akhirnya Laila mengangkat kedua tangannya menyerah, ia meminta damai dan membuat sebuah kesepakatan dengan syarat bahwa Queensha harus menemaninya, jika menolak maka ia akan menghapusnya sesegera mungkin.


Queensha terdiam sejenak untuk berpikir, di detik berikutnya ia pun menyunggingkan bibirnya, kedua tangannya terlipat di dada lalu menyetujui syarat yang di berikan oleh temannya itu.


Laila pun berjingkrak kegirangan, ia pun menarik tangan Queensha, membawanya berlari ke arah tempat parkir.


Tapi setibanya di sana, tubuh Laila tertegun, sebab lahan parkir itu sudah kosong melompong, hanya menyisakan beberapa kendaraan saja.


Dari balik punggung Laila, Queensha terkekeh, semuanya berjalan sesuai dengan dugaannya.


" Lihat, karena Aldan sudah pergi entah kemana, jadi tugas gue buat nemenin lo berakhir di sini. Dan sesuai perjanjian, setelah gue menemani lo, maka tolong kirimkan photo itu untuk segera mungkin. " Ujar Queensha dengan senyum kemenangan yang tersirat di wajahnya. " Ah dan juga, sepertinya dia bukanlah pria yang mudah untuk di dapatkan, lagi pula, bukannya lo belum putus sama Roland? Bagaimana kalau dia tahu kalau lo lagi nyari selingkuhan? "


Laila yang mendengar perkataan dari Queensha tak bisa tak mendelik tajam ke arah temannya itu.


" Siapa bilang gue mau selingkuh? orang kita udah putus kok. " terangnya. " Lagi pula siapa yang bakal tahan dengan pria kasar, dan selalu mengabaikan wanita cantik seperti ku? " tambahnya


Dahi Queensha mengernyit. " Memangnya Aldan nggak? Bukannya tadi dia juga mengabaikan lo? "

__ADS_1


" Setidaknya dia tak bermain tangan. " bela Laila.


" Tahu dari mana kalau dia nggak main tangan? " Tanya Queensha kembali.


" Nggak tahu sih, tapi gue yakin seratus persen kalau dia nggak mungkin nyakitin cewek. . . . Ikh kok malah jadi ngomongin dia sih, gara-gara lo banyak mikir, jadikan gue nggak bisa mengikuti. " kesalnya seraya menghentakkan kedua kakinya secara serentak.


" Loh, kok lo malah jadi nyalahin gue sih! " Timpal Ruksa tak terima.


" Au ah, pokoknya sebagai gantinya lo harus nemenin gue ke suatu tempat, kali ini nggak pake protes atau apapun, kalau nggak, jangan salahkan kalau gue kalau lo nggak bisa koleksi photo EL yang lagi bobo. " Final Laila dengan sebuah ancaman di akhir kalimat.


Queensha pun hanya bisa mendengus lalu menggigit bibir bawahnya, dengan terpaksa ia pun hanya bisa menurut.


Selama perjalanan, Queensha terus membungkam mulutnya sembari menatap pemandangan dari balik jendela mobil berbeda dengan Laila yang terlihat antusias.


Sebenarnya Queensha tak tahu, kemana arah tujuan mereka? Yang ia tahu bahwa mereka terus menyusuri jalan setapak dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi hingga ke langit.


Meski tempat itu asing, namun Queensha tak menyerukan rasa penasaran yang ada dalam benaknya.


Hingga tak lama kemudian, kendaraan yang mereka tumpangi tiba-tiba berhenti di depan sebuah gubuk yang di kelilingi oleh pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi.


Dahi Queensha mengernyit heran, untuk apa temannya itu membawanya ke tempat aneh?


" Ini tempat apa? " tanya Queensha.


" Ini tuh rumah pak Tomo, katanya di sini kita bisa pakai pelet, susuk dan juga lepas susuk, lo pasti penasaran kan, kenapa Dania yang mukanya pas pasan bisa buat para cowok ganteng tergila-gila padanya? "


" Lalu? "


" Nah di tempat inilah jawabannya?


Queensha pun terdiam sejenak sembari berpikir, tangannya memangku dagu. " Kenapa? Apa dia seorang dukun juga? " terkanya.


Laila pun menepuk dahinya, ternyata ada yang lebih bodoh darinya.

__ADS_1


" Bukan ih, maksud gue dia itu pasti pake pelet atau susuk biar cowok-cowok itu nempel ke dia. "


" Lo yakin? dia pake begituan? " Tanya Queensha kembali.


" Yakinlah, kenapa nggak? Lo pikir aja secara logika. "


Kedua mata Queensha menatap gubuk kecil itu, jika di ingat kembali, memang ada banyak keanehan sejak Dania masuk ke rumah sakit, terutama sikapnya yang berubah menjadi sosok pemberani.


Apa mungkin, perempuan itu menggunakan sesuatu seperti yang di katakan oleh Laila?


Jika benar, maka semua pertanyaan di dalam benaknya sudah terjawab, pantas saja dia menjadi pemberani.


Namun di sisi lain dari dirinya, Queensha meragukan tempat itu pasalnya, memangnya zaman sekarang masih ada yang mempercayai hal ghaib seperti ini?


Di samping Queensha, Laila yang melihat wajah ragu dari temannya itu, langsung menyeretnya tanpa aba-aba.


Keduanya berjalan ke arah gubuk itu, sedangkan sopir pribadi Laila hanya menunggu di dalam mobil.


Saat berada di dalam gubuk, bulu kuduk Queensha tak berhenti berdiri, tempat itu begitu gelap dan juga sempit, tak ada sedikit pun berkas cahaya yang masuk ke dalam ruangan itu , hanya dari cahaya puluhan lilin yang menjadi penerang ruangan itu.


Di depan mereka, seorang pria tua dengan usia yang berkisar sekitar pertengahan enam puluh tahunan. Pria itu mengenakan sebuah blangkon di kepalanya, pakaiannya serba hitam, serta sebuah kumis tebal yang menghiasi wajah tuanya.


Pria itu duduk bersila dengan kedua mata yang tertutup rapat.


" Silahkan duduk. " pinta pria tua itu tiba-tiba berkata.


Laila pun langsung terduduk, sedangkan Queensha masih berdiri dengan kedua mata yang menyusuri tempat itu.


Melihat temannya yang kampungan, Laila pun menarik tangan Queensha hingga membuat perempuan itu langsung terduduk.


" Sepertinya laki-laki yang adek incar itu bukan lah orang yang sembarang, Abah sarankan untuk tidak terlalu mengejarnya" Pak Tomo tiba-tiba berkata, tatapannya jatuh ke wajah Laila.


" Kok Abah tahu. "

__ADS_1


" Tentu saja, karena saya bisa melihatnya dengan jelas. "


" Kalau begitu, Abah bisa bantu? Soalnya saya sangat menginginkannya. "


__ADS_2