Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
93


__ADS_3

Arga terdiam, menatap tubuh putranya yang masih terbaring tertidur bak seorang pangeran tidur yang entah kapan dia akan bangun dari tidurnya?


Tangan besarnya meraih tangan kecil itu lalu menggenggamnya dengan erat, ia mengingat bagaimana dirinya mempermalukan putranya dengan buruk, bahkan enggan mengakuinya sebagai putranya sendiri.


Kepalanya terus terngiang-ngiang dengan perkataan Bagaskara yang menyuruhnya untuk mengambil peranan penting di perusahaan Wisesa.


Ia bukannya tak mampu, hanya saja dia tak ingin mengambilnya karena ingin menjalani hidup dengan damai.


Tangannya kemudian merogoh benda pipih yang berada di dalam sakunya, lalu menyentuh sebuh nomor di layarnya


Tak lama kemudian, terdengar nada sambung dari sana.


" Om Bagas, Bolehkah aku bertanya? " Tanya Arga secara gamblang.


" Apa itu"


" Kenapa harus aku, dari sekian banyaknya keponakan, kenapa aku, bukankah Istri Om atau Om sendiri bisa memimpin perusahaan? Lagi pula aku tak pandai mengelola perusahaan." tutur Arga yang masih enggan untuk mengemban beban perusahaan di pundaknya.


" Arga, Om hanya meminta mu untuk menggantikan Ayah mu hanya untuk beberapa minggu atau beberapa hari saja, sampai Ruksa sembuh, kondisi ku memang sudah membaik, tapi Om ada urusan lain, Om harap kamu mengerti. " timpal Bagaskara yang kemudian menutup panggilan itu secara sepihak

__ADS_1


Arga menatap layar ponselnya yang sudah mati, kemudian menatap kembali wajah putra semata wayangnya.


Di tempat lain, Bagaskara menghela nafas, lalu kedua sudut bibirnya terangkat ke atas, inilah alasannya memilih Arga sebagai pengganti sementaranya, sebab hanya dia yang tidak tergila-gila akan posisi di keluarga Wisesa.


Awalnya ia sempat bingung, pada siapa dirinya menitipkan perusahaannya? Namun, kedatangan Arga membuat perasaannya menjadi lega.


" Berapa jam lagi kita akan sampai? " tanyanya pada Gantari


" Sebentar lagi, mungkin sekitar lima menit lagi. " Gantari menjawab sembari menoleh dari balik kaca spion mobil.


Bagaskara pun mengangguk anggukkan kepalanya, kedua matanya menatap rimbunnya hutan dari balik kaca mobilnya.


Setelah tahu, lokasi orang yang sudah menghancurkan acara pernikahannya, bahkan melukai putrinya, ia kemudian langsung bergegas ke sana.


Dari balik jok belakang mobil, Bagaskara menatap pohon-pohon yang menjulang tinggi, tangannya memangku dagunya lalu meminta bawahannya itu untuk menghancurkan gerbang itu dengan sesegera mungkin.


Gantari langsung menganggukkan kepalanya, ia kemudian menghubungi bawahannya untuk menghancurkan gerbang itu dan menyuruh mereka untuk memeriksa kondisi yang ada di dalam


Tak lama kemudian, dua mobil pun berjalan mendekati gerbang itu lalu mengeluarkan Bazoka.

__ADS_1


Dhoom!!


Seketika gerbang itu menjadi hancur berkeping-keping. Mereka pun masuk ke dalam sana dengan waspada.


Di dalam mobil, Bagaskara terdiam menunggu kabar dari anak buahnya, sembari menikmati pemandangan hutan yang berada di balik kaca mobilnya.


Tak lama kemudian, terdengar suara rentetan tembakan yang menandakan bahwa adanya baku tembak yang terjadi di dalam sana.


Bagaskara menutup kedua matanya, menikmati suara tembakan itu, baginya, suara itu bagaikan melodi baginya. Dirinya sudah tahu bahwa masuk ke dalam mansion itu tidak semudah menumpahkan air ke gelas. Di tambah , lokasi mereka terlalu mudah untuk ditemukan.


Padahal penjahat sekelas mereka akan sulit untuk di temukan, namun ini terlalu mudah, Bagaskara tahu bahwa ini adalah jebakan.


Meski begitu, ia tak peduli dan tetap datang bersama dengan seribu pasukannya untuk menyerbu mansion itu, ia akan memperlihatkan, bagaimana rasanya berurusan dengan keluarga Wisesa? Dirinya berjanji akan membuat mereka menyesali perbuatan mereka sendiri.


" Tuan, mereka sudah selesai membereskannya. "


" Kalau begitu kita masuk. "


Gantari pun menganggukkan kepalanya, lalu memajukan laju kendaraanya masuk ke dalam dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Butuh beberapa menit untuk bisa sampai ke tempat tujuan, Bagaskara pun beranjak turun dari kendaraannya, ia mengamati tempat itu dengan seksama, tempat itu telah di penuhi oleh lautan mayat yang bersimbah darah.


" Hanya sekumpulan bocah. " sarkasnya, lalu berjalan masuk ke dalam mansion, tanpa tahu bahaya yang sedang menunggunya di dalamnya.


__ADS_2