Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
118


__ADS_3

Berkat perkataan Zaiden dan Rajendra, saat itu, membuat Ruslan menjadi sangat penasaran di buatnya, ia pun kemudian menghubungi seseorang yang dipercayainya, untuk menanyakan kebenaran itu.


Dan benar saja, saat ini keluarga utama Wisesa tengah risau dengan menghilangnya ketua dan calon ketua mereka. Hal tersebut juga mempengaruhi harga saham mereka yang terus menurun setiap harinya.


Salah satu petinggi perusahaan mengatakan, bahwa mereka memerlukan pemimpin baru, jika dalam dua hari, Bagaskara maupun Ruksa tidak kembali, maka mereka terpaksa harus memilih pemimpin yang baru, salah satu kandidat kuat mereka yakni Alexa dan juga Arga.


Sebab, hanya mereka berdua lah yang cocok mengisi posisi tersebut selain Chandra yang masih jatuh koma.


Ruslan yang menerima berita tersebut, entah harus bahagia atau sedih. Bahagia, karena pria tua itu akhirnya menerima karmanya sendiri.


Sedih karena Ruksa tak ada di sini, meski bukan urusan dirinya, tapi, entah kenapa ia ingin menyelamatkan perusahaan itu? Padahal seharusnya ia hanya duduk diam memperhatikan runtuhnya keluarga Wisesa secara perlahan.


Mungkinkah, perasaan itu belum hilang?


Tak ingin terus membuang waktu, Ruslan pun langsung menyelediki kapan terakhir wanita itu terlihat di kamera CCTV.


Setelah, semalam suntuk ia menatap layar komputer, akhirnya Ruslan pun menemukan titik terang, ia kemudian berkemas, lalu pergi menuju tempat itu.


Untuk kali ini dirinya tak akan melibatkan adiknya atau siapapun. Sebab ia memiliki firasat buruk tentang semua ini.


Akan tetapi. . . tepat, setelah dirinya melangkahkan kakinya keluar, tampak Amar sedang memarkirkan sepeda motornya di depan rumah dengan sebuah keresek hitam yang di jinjingnya.


kedua alis pria itu mengerut, melihat penampilan Ruslan yang mengenakan pakaikan gunung lengkap dengan ransel di punggungnya.

__ADS_1


" Loh mau kemana? Aku bawa ketoprak dan juga sayur dari kampung halaman. " tanyanya heran, sembari memperhatikan Ruslan dari atas hingg ke bawah.


" Mau naik gunung. " timpal Ruslan yang kemudian memasangkan sepatu gunungnya.


Amar, kemudian berjalan mendekat, di simpannya kantong kresek hitam nya di atas meja yang berada tepat di samping Ruslan. Kepalanya kemudian celingak celinguk, mencari keberadaan Dania.


" Loh, Rus, Dania kemana? Les? " tanyanya.


" Hilang, makanya aku lagi mau cari dia. " jawabnya tanpa ada niat menyembunyikan rahasia.


Pria itu pun tercengang kaget.


" Lagi?! Nggak bosen? Anak mu kok jadi punya hobi ngilang di gunung yah? Apa jangan-jangan dia memiliki shio harimau? " timpalnya nyeleneh.


" Apa hubungannya? "


" Iya, terus apa? "


Amar pun terdiam, seketika otaknya menjadi blank,


" Terus, kamu mau ikut? " tanya Ruslan.


" Ikutlah. " sahutnya dengan semangat.

__ADS_1


" Enggak bosen? "


" Nggak lah, kan halaman kampung ku juga terletak di dalam gunung, karena aku masih kangen halaman rumah, maka dari itu aku ingin ikut. "


Pada akhirnya, Ruslan membawa Amar untuk membatunya mencari keberadaan putrinya.


Namun, saat berada di bawah kaki gunung, Ruslan tak sengaja berpapasan dengan Zaiden, Rajendra, dan juga adiknya Rusdi.


Salah satu alis Ruslan terangkat sebelah, sembari menatap tiga orang di depannya.


Mengetahui, arti dari tatapan itu, Rajendra pun langsung menjelaskan kedatangan mereka untuk menghilangkan kecurigaan. Ia menjelaskan bahwa mereka sedang menjalankan misi dan juga ia berkata bahwa dirinya tak pernah menyangka akan bertemu di tempat ini.


Ruslan pun menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian tatapannya beralih pada Adiknya, Rusdi yang tengah memasang wajah kecutnya


" Apa yang kamu lakukan di sini, bagaimana dengan perusahaan? "


" Wah, lo tuh yah, sebagai kakak, dengan teganya, lo lebih mementingkan perusahaan yang seharusnya lo pimpin, ketimbang dengan perasaan seorang adik yang berdiri di depan lo. Bisa-bisanya lo pergi mencari keponakan, tanpa ajak-ajak gue. " Kedua matanya menatap ke arah Amar. " Terus, siapa dia? ?angan bilang kalau dia adalah pengganti gue. " ujarnya dengan nada kesal sembari menunjuk ke arah Amar dengan tatapan iri dengki


" Jangan so dramatis deh. " timpal Ruslan yang terlihat mulai jengah.


" Tega kamu kak, tega-teganya, lo gantiin gue dengan orang burik kayak dia. " ungkapnya mengabaikan tanggapan sang kakak


" Ekh maksud kamu apaan? Meski saya burik, tapi saya selalu ada untuk Ruslan, nggak kayak kamu. " ucap Amar yang tidak terima dengan perkataan Rusdi.

__ADS_1


" Malah nyalahin gue.. .


Ruslan memutar kedua bola matanya dengan malas, ia pun berjalan lebih dulu masuk ke dalam gunung


__ADS_2