Bertukar Jiwa

Bertukar Jiwa
55


__ADS_3

" Boleh aku bertanya satu pertanyaan lagi? " ucap Ruksa.


" Apa itu? "


" Aku ini anak siapa? " Tanyanya secara gamblang.


Dahi Ruslan mengernyit heran. Ia pun menghentikan aktivitas makannya sejenak, lalu menatap putrinya. " Tentu saja anak ayah, memangnya anak siapa lagi? " timpalnya. " Kamu ini ada-ada saja. " tambahnya.


" Jangan bohong, aku ini bukan anak kecil lagi yang masih bisa di bohongi. " ujarnya. " Jika aku ini benar anak mu, kenapa darah kita tak sama bahkan tak ada kecocokan sama sekali? "


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Tiba-tiba Ruslan terbatuk dan memuntahkan apa yang berada di dalam mulutnya, Ruksa pun dengan sigap mengambil mangkuk bubur itu dan meletakkannya di atas nakas, ia kemudian mengambil beberapa helai tisu, tangannya menyeka wajah pria itu seraya membantu membersihkan mulut pria itu.


" Jangan mengada-ngada, memang nya kamu dengar itu dari siapa? " ucap Ruslan yang sudah tenang.


Kedua tangan Ruksa terlipat di depan dada, kedua matanya memicing menatap pria di depannya dengan tatapan mengintimidasi . " Dari kepala desa! Tentu saja dari dokter muda yang mengurus ayah! " Ngegasnya. " dialah yang mengatakan bahwa darah kita tak cocok sama bahkan tak ada sama sekali ikatan di antara kita . " terang Ruksa panjang lebar.


Mendengar hal tersebut Ruslan pun terdiam, kedua bola matanya bergerak dengan gusar. Ia mencoba merangkai kata yang cocok untuk di sampaikan pada putrinya itu.


Namun, Ruksa yang melihat gerak dari pria itu, membuatnya menyadari langsungi apa yang akan di katakan oleh pria itu padanya selanjutnya.


" Jangan katakan, tunggu sampai aku dewasa, karena aku ini sudah terbilang sudah dewasa! " ucap Ruksa dengan nada yang cukup keras dan tegas.


Beruntung, suaranya tidak membuat para pasien lain yang tengah tertidur, kecuali pasangan suami istri itu yang tidak berada di ruang itu karena harus menjalani pemeriksaan ulang


" Bukan itu, hanya saja, ayah sudah berjanji pada ibumu untuk tidak mengatakannya sampai kapan pun. "


" Kenapa? Jangan bilang kalau ini adalah jalan yang terbaik untukku. "


" Itu tahu. "


Lidah Ruksa pun menjadi kelu, sejak dulu dirinya tak pernah menang melawan argumen dengan pria itu, namun dirinya tak boleh menyerah sekarang, karena dirinya juga memiliki janji yang harus di tepati.

__ADS_1


Ia pun menundukkan kepalanya, seraya mencoba berpikir.


" Dania, Ayah tahu . .


" Bagaimana jika Ayah yang berada di posisi ku? Apa yang akan Ayah lakukan? " sela Ruksa seraya masih menundukkan kepalanya.


Ruslan pun menghela nafas, lalu terdiam, ini adalah kali pertama dirinya melihat putrinya semarah dan sekecewa ini terhadapnya, membuat hatinya meringis kesakitan, tangannya terulur ke depan, mencoba mengusap puncak kepala putrinya itu.


Namun, tiba-tiba putrinya itu bangkit dari posisi duduknya, kedua matanya terlihat haus akan keingintahuan akan jati kedua orang tuanya. Akan tetapi Ruslan tak bisa mengingkari janji yang sudah ia buat.


" Kenapa diam? " tanya Ruksa. " Apa salahnya memberitahuku, setidaknya beri tahu nama mereka, lalu akan ku cari sendiri. "


" Soal itu . . . Dania tolong jangan desak Ayah seperti ini? Ada janji yang harus Ayah tepati. "


Kedua tangan Ruksa mengepal dengan kuat, sesungguhnya ia tak punya pilihan lain, sebab. Selama pencariannya selama ini, dirinya hanya menemukan bahwa Nisya memang ibu kandung dari Dania, Tapi tidak dengan sosok ayahnya yang tak bisa ia temukan di mana pun.


" Dania, " Panggil Ruslan dengan suara lirih.


Ruksa pun menolehkan kepalanya sejenak, alu memalingkan wajahnya, dirinya takut jika menatap pria itu, maka dia akan kalah. Maka dari itu, untuk pencegahan, ia pun memilih pergi untuk menenangkan diri. " Maaf, aku akan mencari udara segar. " Ruksa berkata seraya pergi keluar dari ruangan itu.


Langkah kaki Ruksa terhenti, menyadari bahwa pria itu baru saja terjatuh dari atas ranjang, ingin rasanya ia kembali berlari dan membantu pria itu, namun secara terpaksa dirinya harus menulikan pendengarannya agar hatinya tidak goyah.


Di sisi lain, Ruslan yang masih tergeletak di atas lantai, mencoba bangkit dari posisinya, akan tetapi luka di perutnya membuatnya kesulitan untuk bangkit


Hingga tak lama kemudian, seorang suster pun datang.


Kedua bola mata wanita itu terbeliak melihat kondisi Ruslan, dia pun dengan sigap berjalan menghampiri dan membantunya kembali ke atas ranjang.


" Terima kasih. " ucap Ruslan.


Suster itu pun tersenyum, menganggukkan kepalanya. Dia berpesan untuk lebih hati-hati, takutnya luka jahitan itu kembali terbuka.


Ruslan pun hanya tersenyum, ia berjanji bahwa dirinya tak akan mengulanginya lagi dan berusaha untuk tidak terluka.

__ADS_1


" Ngomong-ngomong, putri anda kemana? Tumben nggak ada. "


" Kebetulan putri saya sedang pergi ke luar. "


" Oh~ oh iya tadi bapak mau pergi kemana? Biar saya antar. "


" Tidak perlu, tadi saya hanya berusaha mengambil barang saja yang jatuh. "


" Perlu bantuan ? "


Kepala Ruslan menggeleng, ia menolak dengan keras, mengatakan bahwa dirinya sudah menemukan benda itu.


Sang suster pun kembali tersenyum seraya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, dia pun memilih untuk tidak bertanya kembali dan lebih memilih untuk melakukan tugasnya, yaitu melakukan pengecekan rutin terhadap pasien, sekaligus mengganti tabung infus jika di perlukan.


Ruslan pun kemudian mencoba menutup kedua bola matanya. Namun rasanya sulit, terlebih lagi bayangan yang menghantuinya, kini kembali menghantuinya.


Sungguh ia tak bermaksud menyembunyikan fakta bahwa dirinya bukan ayah kandung Dania, namun karena dirinya sudah berjanji pada Nisya, membuatnya tak bisa mengingkari janji tersebut.


Akan tetapi, melihat sikap marah dari putrinya itu membuat hatinya sakit, lebih sakit dari luka yang di terimanya.


Meskipun dirinya bukan ayah kandung dari gadis itu, namun karena sudah merawatnya dari lahir, membuatnya merasa bahwa Dania adalah anak kandungnya sendiri.


" Nisya apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengingkari janji ku padamu? " Ruslan bergumam.


Ia pun menatap langit-langit kamarnya, seraya mengingat masa lalu.


Tiga puluh tahun yang lalu.


Setelah pertemuannya dengan Ruksa saat di taman bermain, Ruslan pun langsung berlari ke rumah Nisya dan menceritakan apa yang baru saja di alaminya, ia juga mengatakan bahwa dirinya sedang jatuh cinta. Tentunya Nisya yang mendengar hal tersebut menjadi antusias dan menyimak semua perkataan dari Ruslan.


Keduanya hidup dan tumbuh bersama, karena kedua orang tua mereka juga berteman. Bahkan kedua belah pihak berencana untuk menikahkan putra putri mereka di masa depan.


Meski Ruslan dan Nisya, terbilang masih bocah, namun keduanya sangat mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh kedua orang tua mereka.

__ADS_1


Keduanya pun langsung melayangkan protesnya dan mengklaim bahwa mereka sudah memiliki calon masing-masing.


Mendengar hal tersebut membuat kedua belah pihak terkekeh geli dengan sikap manis dari anak-anak mereka.


__ADS_2